Soroti Kontroversi Ijazah Gibran, Geisz Chalifah: Kalau Bermasalah Ya Mundur, Tak Perlu Drama Operasi Politik

DEMOCRAZY.ID – Diskusi panas dan penuh kejutan tersaji dalam perbincangan eksklusif antara pakar hukum tata negara Refly Harun bersama intelektual publik yang juga mantan Komisaris Jaya Ancol yang juga dikenal sebagai orang dekat Anies Baswedan, Geisz Chalifah.

Melalui tayangan siniar yang disiarkan langsung di kanal YouTube Refly Harun Podcast dengan judul “Diam-Diam Anies Dilobi Gantikan Gibran?! Ngeri-Ngeri Sedap Bocoran Info A1! RH vs Geisz Chalifah!!”, keduanya mengupas tuntas sejumlah isu politik nasional paling mutakhir, mulai dari kontroversi ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinamika penawaran posisi menteri kepada Anies Baswedan, hingga anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Perbincangan berdurasi lebih dari 45 menit itu menjadi perhatian publik karena menguliti persoalan yang selama beberapa pekan terakhir menjadi bola liar di ruang publik, terutama terkait legitimasi jabatan Wakil Presiden dan arah rekonsiliasi politik pasca-Pilpres 2024.

Kontroversi Ijazah Gibran, Refly Sebut Bola Panas di DPR-MPR

Topik pembuka langsung menghujam isu hangat mengenai polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang hingga kini masih menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat.

Refly Harun membuka diskusi dengan menyoroti sikap publik dan langkah hukum yang ditempuh sejumlah pihak, mulai dari laporan ke Bareskrim Polri hingga gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait surat keterangan penyetaraan ijazah.

Namun, Refly menilai langkah-langkah hukum tersebut sering kali keluar dari koridor substansial.

Sebagai ahli hukum tata negara, Refly menegaskan bahwa persoalan legitimasi dan etik terkait jabatan Wakil Presiden sebenarnya sudah berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Menurut Refly, mekanisme konstitusional yang tersedia adalah melalui Hak Menyatakan Pendapat (HMP).

Jika DPR melihat adanya dugaan pelanggaran syarat pencalonan, maka jalurnya adalah politik ketatanegaraan, bukan sekadar gugatan administratif biasa.

“Ini bukan lagi soal ijazah semata, ini soal legitimasi. Dan kalau bicara legitimasi pejabat tinggi negara, kuncinya ada di DPR dan MPR,” ujar Refly dalam podcast tersebut.

Geisz Chalifah: Kalau Bermasalah Ya Mundur

Menanggapi hal tersebut, Geisz Chalifah menyampaikan pandangan yang tajam dan tanpa kompromi.

Menurutnya, persoalan ijazah ini seharusnya diselesaikan secara ksatria oleh pihak yang bersangkutan tanpa harus mendramatisasi situasi dengan narasi adanya operasi politik dari pihak luar.

“Sederhana saja intinya. Soal ijazah ini, kalau ketahuan bermasalah ya mundur. Sederhananya seperti itu, jadi tidak perlu lagi mendramatisasi ada operasi politik,” tegas Geisz Chalifah.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan sikap Geisz yang selama ini dikenal vokal mengkritisi praktik politik dinasti dan pelemahan etika jabatan publik.

Geisz menambahkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa, publik layak dipimpin oleh figur yang memiliki kejelasan latar belakang, integritas, dan rekam jejak akademik yang valid.

“Indonesia ini bukan kekurangan orang pintar dan berintegritas. Masa dengan 270 juta penduduk kita tidak bisa dapat pemimpin yang jelas ijazahnya, jelas rekam jejaknya,” katanya.

Ia pun pesimistis bahwa lembaga legislatif saat ini, seperti DPR, akan berinisiatif mengambil langkah tegas tanpa adanya tekanan kuat dari gerakan masyarakat sipil atau civil society.

Menurut Geisz, DPR saat ini cenderung terjebak dalam kompromi politik koalisi besar, sehingga fungsi pengawasan menjadi tumpul.

Isu A1 Tawaran Kursi Menteri untuk Anies Baswedan

Perbincangan semakin menarik ketika Refly Harun membocorkan sebuah informasi bersumber dari lingkaran istana yang ia terima melalui pesan singkat WhatsApp.

Dalam pesan tersebut, seorang tokoh dari lingkar dekat kekuasaan membisikkan agar Anies Baswedan bersedia menerima tawaran posisi strategis di dalam Kabinet Merah Putih, salah satunya diplot untuk mengisi posisi Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Isu tersebut dikaitkan dengan wacana reshuffle dan upaya merangkul figur oposisi untuk memperkuat stabilitas pemerintahan.

Menanggapi tawaran yang disebut-sebut sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi politik itu, Geisz Chalifah secara tegas menyatakan penolakannya apabila Anies harus bergabung ke dalam lingkaran kekuasaan saat ini.

“Sejak awal saya sudah nyatakan, proses ini busuk, hasilnya akan busuk. Terus ngapain pula Anies masuk ke dalam situasi yang kita sudah tahu busuk dari awal?” ujar Geisz.

Geisz menilai bahwa kehadiran figur penyeimbang di luar sistem jauh lebih penting untuk menjaga kontrol terhadap jalannya pemerintahan.

Menurutnya, oposisi yang sehat adalah bagian dari demokrasi.

“Bergabungnya Anies ke dalam kabinet justru berisiko merusak marwah dan integritas politik yang selama ini telah dibangun di mata para pendukungnya,” jelasnya.

Kendati demikian, ia tidak menolak kehadiran tokoh-tokoh oposisi lain yang memilih masuk ke dalam sistem dengan catatan tetap kritis dan menjadi pengawas dari dalam.

Baginya, yang terpenting adalah menjaga jarak moral dari proses politik yang dianggap bermasalah sejak awal.

Evaluasi Pemerintahan Prabowo dan Kepuasan Publik 45 Persen

Sesi penutup perbincangan menyoroti kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto serta hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat angka kepuasan publik merosot hingga ke level 45 persen.

Angka tersebut menjadi alarm bagi koalisi pemerintahan, mengingat dalam dua tahun pertama biasanya menjadi fase bulan madu atau honeymoon period dengan tingkat kepuasan tinggi.

Dalam pemaparannya, Refly Harun dan Geisz Chalifah menyoroti kompleksitas manajemen tata kelola pemerintahan yang diisi oleh terlalu banyak kementerian, sehingga menyulitkan proses koordinasi dan pengambilan kebijakan yang cepat serta tepat sasaran.

Geisz juga mengkritisi klaim-klaim keberhasilan ekonomi makro yang kerap disampaikan oleh lingkaran istana, seperti kenaikan distribusi penjualan mobil, yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan daya beli riil masyarakat kelas bawah.

Hal itu terbukti dari merosotnya sektor penjualan rumah murah dan lesunya konsumsi rumah tangga di level bawah.

Menutup diskusi berdurasi lebih dari 45 menit tersebut, Geisz Chalifah menyampaikan pernyataan penutup yang sarat makna dengan mengutip bait puisi pujangga besar Arab, Nizar Qabbani: “Ada nama-nama yang kami ingat, tapi kami tak tersenyum lagi ketika nama-nama itu disebutkan.”

“Dan saya tidak tersenyum lagi ketika nama Jokowi disebutkan,” pungkas Geisz menutup perbincangan hangat tersebut.

Artikel terkait lainnya