DEMOCRAZY.ID – Kehadiran data center untuk kecerdasan buatan (AI) di Indonesia menyisakan kehkawatiran akibat dampak lingkungannya.
Infrastruktur tersebut disebut rakus air.
Kondisinya kian memprihatinkan di tengah kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia.
Data center AI membutuhkan air untuk membantu mendinginkan server.
Ribuan perangkat komputasi bekerja memproses data dan menghasilkan panas yang harus dikendalikan.
Sebagian fasilitas menggunakan sistem pendingin evaporatif yang memanfaatkan penguapan air untuk membuang panas.
Air yang menguap perlu diganti agar sistem pendingin tetap bekerja.
Kebutuhan air setiap pusat data pun berbeda-beda.
Jumlahnya bergantung pada kapasitas server, teknologi pendingin, iklim, dan efisiensi fasilitas.
Konsumsi air bergantung pada model yang digunakan, lokasi pusat data, sumber listrik, dan sistem pendinginnya.
Selain untuk pendinginan, penggunaan air secara tidak langsung juga terjadi dalam pembangkitan listrik yang memasok pusat data.
Karena itu, dampak lingkungan industri AI tidak cukup dinilai dari konsumsi air di dalam gedung saja.
Setidaknya ada delapan fasilitas atau proyek pusat data berskala besar yang berkaitan dengan kebutuhan AI.
Di antara delapan tersebut, ada yang telah beroperasi, sedang dibangun, dan masih direncanakan.
Berikut ini daftarnya:
AI Campus 2 atau CGK4 dikembangkan di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Proyek ini dirancang memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW), dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap.
Pengembangnya adalah BDx Data Centers bersama mitra Indonesia, termasuk Indosat Ooredoo Hutchison dan Lintasarta.
BDx berbasis di Singapura, sedangkan Indosat memiliki pemegang saham utama dari Ooredoo Group asal Qatar dan CK Hutchison asal Hong Kong.
Proyek ini menjadi sorotan karena lokasinya berada di sekitar kawasan Bendungan Jatiluhur.
Pembangunannya dihentikan sementara pada akhir September 2026 karena persoalan perizinan lingkungan dan bangunan.
DCI Indonesia mengoperasikan pusat data di Cibitung dan Karawang, Jawa Barat.
Perusahaan ini termasuk pemain utama industri pusat data di Indonesia.
DCI merupakan perusahaan nasional yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode DCII.
Pendiri yang dikenal terkait perusahaan ini antara lain Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming Hanafia.
Kapasitas operasional DCI tercatat mencapai sekitar 128 MW, dan diprediksi akan terus bertambah.
EDGNEX mengembangkan pusat data di Jakarta dan Cikarang, Jawa Barat.
Kapasitas pengembangan yang diberitakan mencapai 144 MW.
EDGNEX merupakan bagian dari DAMAC Group yang berasal dari Dubai, Uni Emirat Arab.
Grup ini didirikan oleh pengusaha Hussain Sajwani.
Proyek EDGNEX menambah keterlibatan investor asing dalam infrastruktur digital Indonesia.
NeutraDC Hyperscale Cikarang berada di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat.
Dikembangkan untuk melayani kebutuhan pusat data berskala besar.
NeutraDC merupakan bagian dari bisnis pusat data Telkom Indonesia melalui PT Telkom Data Ekosistem.
Telkom adalah perusahaan Indonesia yang dikendalikan negara melalui kepemilikan saham pemerintah.
Kapasitas pengembangan fasilitas ini mencapai 121,5 MW.
Princeton Digital Group (PDG) mengembangkan fasilitas pusat data di Cikarang, Jawa Barat.
Kapasitas yang diberitakan mencapai sekitar 120 MW.
PDG berbasis di Singapura dan mengoperasikan pusat data di sejumlah negara Asia.
Perusahaan ini didukung investor institusional internasional.
Fasilitas hyperscale dapat melayani berbagai kebutuhan komputasi, termasuk layanan cloud dan AI.
CGK Campus dikembangkan di kawasan industri GIIC, wilayah Cikarang/Bekasi, Jawa Barat.
Proyek ini dirancang untuk berkembang dalam beberapa tahap dengan kapasitas besar.
Pengembangnya adalah Digital Edge dan PT Indointernet Tbk atau Indonet.
Digital Edge berbasis di Singapura dan didukung Stonepeak, perusahaan investasi infrastruktur asal Amerika Serikat, sedangkan Indonet merupakan perusahaan Indonesia.
Kapasitas pengembangan proyek ini diberitakan mencapai ratusan megawatt dan berpotensi meningkat hingga 1 gigawatt.
Angka tersebut merupakan kapasitas rencana, bukan bukti seluruh fasilitas telah beroperasi.
NeutraDC Nxera Batam dikembangkan di Batam, Kepulauan Riau.
Proyek ini dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi berskala besar, termasuk AI.
Pengembangnya melibatkan NeutraDC dari Indonesia, Singtel dari Singapura, dan Medco Power dari Indonesia.
Kerja sama tersebut mempertemukan perusahaan nasional dan asing dalam pengembangan infrastruktur digital.
Kapasitas proyek mencapai 54 MW, dengan tahap awal 18 MW.
Equinix JK1 merupakan fasilitas pusat data di Jakarta Pusat.
Fasilitas ini dikembangkan untuk mendukung interkoneksi dan berbagai kebutuhan komputasi digital, termasuk AI.
Equinix berasal dari Amerika Serikat dan merupakan perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq.
Mitranya, Astra International, merupakan kelompok usaha asal Indonesia.
Kapasitas tahap awal JK1 mencapai sekitar 2,4 MW.
Meski begitu, data center ini bukan hanya untuk AI.