Soroti Gaya Kepemimpinan, JK Ungkap Perbedaan ‘Pola Kerja’ Pemerintahan SBY dan Jokowi

Signature: C+TQ4rAWZQmgQvP+FtE2rgtw0+WwU7O+OrXdsPUjtGmWCNIcDYVhiWXcDiNyqGI8UMqXFhixPPIfu9WmUBuXaRxhTlLxRm/jI7mmfgqCz3QruMNIJu0Sjv9Pa6nQn5ESwdDOeOVflkBckWyr6ofJN1fmjH0X4MEVy+oaeJNKjNPwa9pua0WFKmIVqJj9lPFp0MF1lMUPszWI+kTc69NlUSCXRLbqDIvxVVrFwiOZkSTgkRk1/4JV5P5SbE1moVoTPTvrbs9nz8REnZ1xtZvPbgoibZohqbGUxY59Jh/VW9afnVHDZZdztggQZkEJn5Y20SD+8eV+tmFKrjG5ykfSIwq7WCSopgXmRw4oGMwJWDUpRM02TOCY1aXKjp5cxqPI/wOlirJ5bNYvmz9nZZMnuMK9wsAt6hQidr2gBnXc9M+vIOgH8cszOQCK14ErejLWAbXtEvseI6DpIbp4GdqqIMdsHM7BWKkIKkgO10xwMGGP0SIRHEmzSBVUrMGvP6fo/FSyqyYU+tIOEXBZ3Wr/ufHwxhQ17UsZnmghlh0Ne17qFgAZ8cizlktUCSbzgbR8ewvycVL2fG6McpNovxtkiBhxr74+o7MSU9y9fv2Dzr8kj7duTSE3oJDIUXJ/piHMLT6fxBWU+VOoiqu7G1miIjkzg25/sR+0/CsBx0shKaXbqmKyr9NFEh8CLJBVQySOLlizljvzz8MqTKcQvJUPQaHWYnnrY03+RCa1AWsRZNd+ZXjcmQXlr08HB1QZyHNAAdRuBrKPetuk4fjUnbddK3nJjmn80x448K3nKOCh4XhKqot+fzhCA848MhkBZe6qX3sr7RsNA01NaCzxgQSqR3QO8FLF7BtTXahStNcMzxhaUBR7vEq6aRvBL4mCnEB/Ulrs7x9t65zYGlTDgdkVc2pc5KjDLIYzHoniBjMyOWTQ/cEQn1GdU9XxRZOWYwTku1lXpvkZjeIwdaRXSDWOM6Rvm3oUOQQ8Msmhq7++k8o=

DEMOCRAZY.ID – Jusuf Kalla (JK) menceritakan perbedaan pola kerja pemerintahan saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia.

Menurut JK, perbedaan tersebut terlihat dari pembagian tanggung jawab wakil presiden hingga mekanisme pengambilan keputusan di lingkungan pemerintahan.

Saat mendampingi SBY, JK mengaku mendapat tugas khusus untuk menangani persoalan ekonomi dan sejumlah masalah di kawasan Indonesia Timur.

Pembagian tanggung jawab itu, kata dia, telah disepakati bersama dan dituangkan secara tertulis.

“Kalau Pak SBY kan jelas sesuai dengan persetujuan kita berdua. Saya mengurus ekonomi, bertanggung jawab kepada masalah ekonomi dan Indonesia Timur. Itu tertulis,” ujar JK,dikutip dalam The Johan Budi Podcast,Senin (26/10/2026),

Saat Mendampingi Jokowi, Rapat Digelar Lebih SeringJK mengatakan pola kerja berbeda ia alami ketika kembali menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Jokowi.

Menurut dia, berbagai persoalan pemerintahan pada masa itu lebih banyak dibahas melalui rapat bersama.

“Kalau Pak Jokowi itu semua masalah negara dirapatkan. Rapat terus tiap hari. Wah, saya capek juga kita,” ungkapnya.

JK menilai frekuensi rapat pada masa pemerintahan Jokowi cukup tinggi.

Ia bahkan pernah menanyakan jumlah rapat yang digelar sepanjang 2015 kepada Sekretaris Kabinet saat itu, Pramono Anung.

“Kalau tahun 2015 itu saya tanya sama Sekab Pak Pram, ‘Berapa kali rapat kita tahun lalu?’ 250 berapa itu,” tutur JK.

Pernyataan tersebut menggambarkan pengalaman JK mengenai intensitas koordinasi pemerintahan pada periode itu.

Namun, angka yang disebutnya masih berupa ingatan dalam penuturannya, yakni sekitar 250-an rapat.

JK Ceritakan Peran Wakil Presiden dalam Rapat

JK juga menjelaskan bagaimana proses pembahasan berlangsung dalam rapat kabinet pada masa Jokowi.

Menurut dia, para menteri biasanya mendapat giliran untuk menyampaikan pandangan sebelum presiden meminta kesimpulan atau keputusan yang akan diambil.

“Dan umumnya awal-awalnya rapat itu selalu bergilir menteri bicara dan Pak Jokowi minta, ‘Keputusannya apa nih? Kesimpulannya apa, Pak Wapres?’ Ya, selalu begitu,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan perbedaan mekanisme kerja yang dirasakan JK selama mendampingi kedua presiden.

Pada pemerintahan SBY, ia menyebut pembagian tugasnya lebih spesifik, sedangkan pada pemerintahan Jokowi, berbagai persoalan lebih sering dibahas bersama dalam rapat.

Meski demikian, JK menegaskan bahwa peran dasarnya sebagai wakil presiden dalam kedua pemerintahan tetap sama, yakni membantu presiden menjalankan roda pemerintahan.

Perbedaan yang ia ceritakan lebih berkaitan dengan gaya kepemimpinan dan cara mengoordinasikan pekerjaan pemerintahan, termasuk dalam menentukan keputusan melalui rapat kabinet.

[VIDEO]

Artikel terkait lainnya