DEMOCRAZY.ID – Peta jalan menuju panggung pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 kian hari kian menarik untuk dibedah.
Di tengah dinamika kekuasaan yang terus bergolak, pengamat politik terkemuka, Adi Prayitno, menyoroti secara tajam posisi dilematis yang tengah dihadapi oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).
Langkah politik sang mantan kepala negara di masa depan dinilai tidak akan terlepas dari bayang-bayang hubungan erat dan harmonis yang selama ini ia rajut bersama Presiden petahana Prabowo Subianto.
Dalam analisis mendalamnya, Adi meragukan skenario konvensional yang kerap dibicarakan oleh sebagian kalangan, yakni anggapan bahwa Jokowi akan secara terbuka dan frontal mendorong putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai calon presiden menantang Prabowo di 2029 melalui kendaraan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atau poros partai politik alternatif lainnya.
“Banyak pihak yang menduga rasa-rasanya agak sulit untuk dibayangkan bahwa misalnya Pak Jokowi akan memajukan Gibran melalui PSI ataupun partai politik yang lain. Kan itu yang dibayangkan oleh publik mengingat ya hubungan kedua tokoh ini kan baik-baik saja,” ungkap Adi melalui kanal YouTube Adi Prayitno Official.
Kendati relasi kedua tokoh sentral tersebut tampak solid di permukaan, konstelasi politik nasional diyakini masih sangat cair dan menyimpan banyak variabel tersembunyi.
Sikap akhir yang pada akhirnya akan diambil oleh Jokowi, jajaran pimpinan PSI, serta barisan jejaring relawan akar rumput yang selama ini menjadi mesin penggerak utamanya masih menyisakan teka-teki besar.
Pertanyaan paling mendasar yang kini menggelayuti benak para pengamat adalah bagaimana sikap politik lingkaran Istana Solo tersebut seandainya dinamika elektoral ke depan tidak lagi menempatkan Gibran sebagai pendamping Prabowo di kursi wakil presiden untuk periode kedua.
“Apakah akan terus bersama dengan Prabowo lillahi ta’ala tanpa harus calon wakil presiden Gibran di situ, ataukah akan membentuk poros politik sendiri? Itulah yang kemudian menjadi teka-teki yang per hari ini sepertinya belum ada terang yang bisa disimpulkan,” tandasnya.
Ketidakpastian arah angin politik ini membuat berbagai spekulasi terus liar berkembang di ruang publik, memicu adu strategi di antara para elite yang mulai meraba-raba peta kekuatan untuk tiga tahun mendatang.
Di sisi lain, kubu pendukung pemerintah berupaya meredam spekulasi liar yang berpotensi memecah belah soliditas koalisi.
Upaya penegasan sikap ini salah satunya pernah disampaikan secara blak-blakan oleh Ketua DPP PSI, Bestari Barus.
Menyusul hasil pertemuannya langsung dengan Jokowi di Solo, Bestari mengungkapkan bahwa mantan orang nomor satu di Indonesia itu justru memberikan instruksi yang sangat spesifik dan tegas kepada partainya.
Kader dan simpatisan PSI diminta untuk tidak goyah serta fokus mengawal kepemimpinan pasangan Prabowo-Gibran agar dapat berjalan stabil hingga tuntas menuntaskan dua periode pemerintahan.
Pesan tersebut sekaligus ditegaskan untuk membendung berbagai narasi miring maupun rumor politik yang sengaja dihembuskan oleh pihak luar demi menciptakan ketidakharmonisan di lingkaran dalam Istana.
“Kepada kami beliau menyampaikan kok bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan ya, bahkan, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan, fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? Ada-ada aja,” ujar Bestari.