Masalah Dalam Negeri Menggunung, Pengamat Sebut Kunjungan Prabowo ke Rusia Bukti Presiden Nir-Empati!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Saidiman Ahmad mengkritik Presiden Prabowo Subianto di tengah kunjungan kenegaraannya ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok.

Saidiman menilai sikap Prabowo di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat menunjukkan minimnya empati terhadap kondisi rakyat.

Kunjungan Prabowo ke Rusia mendapat sorotan publik karena berlangsung ketika persoalan kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian serius di Kalimantan, ditambah sejumlah persoalan lain di dalam negeri.

Saidiman bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan menurunnya legitimasi publik terhadap Prabowo sebagai kepala negara.

“Presiden ini nir-empati. Mungkin ini yang menjelaskan mengapa dia kehilangan legitimasi publik. Legitimasinya bukan hanya hilang dari mereka yang memberi evaluasi negatif, bahkan di kalangan yang menilai kondisi positif pun, dia tidak mendapat dukungan,” ujar Saidiman dikutip dari akun X miliknya, Jumat (4/9/2026).

Di tengah kritik tersebut, Prabowo dalam forum EEF justru membawa sejumlah agenda domestik Indonesia.

Beberapa di antaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada segelintir kelompok.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diukur dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Pembangunan tidak bisa hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga biasa: apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi, apakah petani dapat memperoleh pupuk dan menjual hasilnya dengan harga yang adil, apakah keluarga dapat tinggal di rumah yang layak, apakah anak-anak muda mendapatkan pekerjaan produktif, dan apakah listrik menjangkau setiap rumah di setiap desa,” ujar Prabowo dalam pidatonya di EEF.

Namun, Saidiman melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda.

Menurutnya, sorotan terhadap kunjungan Prabowo bukan semata soal agenda diplomasi di Rusia, melainkan bagaimana publik melihat respons dan keberpihakan Presiden terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dalam negeri.

Dia menilai persoalan legitimasi tidak hanya dapat dilihat dari kelompok masyarakat yang memberikan penilaian negatif terhadap pemerintah.

“Legitimasinya bukan hanya hilang dari mereka yang memberi evaluasi negatif, bahkan di kalangan yang menilai kondisi positif pun, dia tidak mendapat dukungan,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya