DEMOCRAZY.ID — Pengamat militer Selamat Ginting memprediksi potensi kemunculan kembali gelombang aksi demonstrasi dalam skala yang lebih besar pada Oktober 2026 mendatang.
Ia mengingatkan agar berbagai dinamika politik serta kemunculan kelompok-kelompok baru di tengah rangkaian aksi belakangan ini tidak dipandang sebelah mata atau dianggap sebagai kebetulan semata.
Menurut Ginting, setiap pergerakan massa memiliki pola tersembunyi yang patut dicermati secara mendalam, mengingat perhelatan politik tidak pernah berjalan di dalam ruang hampa.
“Politik itu bukan ruang hampa. Tidak ada yang kebetulan, semuanya by design,” ujar Selamat Ginting sebagaimana beredar di media sosial pada Minggu, 6 September 2026.
Ia menyoroti isu perampasan aset yang selama ini kerap diidentikkan sebagai diskursus elitis di kalangan penstudi hukum dan politik.
Namun, dinamika tersebut mendadak mengema dan dimunculkan dari daerah seperti Pati, yang kemudian menjadi sorotan publik luas sebagai rangkaian peristiwa yang saling terikat.
“Perampasan aset itu kan isu elitis. Tapi kok kemudian dimunculkan dari Pati. Jadi ada pesan, satu rangkaian, satu rangkaian begitu,” katanya.
Lebih lanjut, Ginting mempertanyakan kemunculan kelompok-kelompok baru yang justru menyusup masuk ketika rangkaian unjuk rasa sebelumnya telah dinyatakan selesai.
Ia mendesak aparat berwenang untuk mengusut tuntas pihak-pihak yang bertanggung jawab serta melacak aktor di balik penyusupan kelompok tersebut ke dalam pusaran aksi massa.
“Ketika demo atau unjuk rasa sudah selesai, kemudian muncul kelompok-kelompok baru masuk. Siapa yang bertanggung jawab kalau begitu?” ujarnya.
Ia juga memberikan catatan khusus terhadap keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu di tengah situasi aksi.
Menurutnya, segala bentuk mobilisasi massa yang berpotensi mengganggu ketertiban umum tidak mungkin terjadi tanpa adanya restu atau perizinan dari pihak tertentu.
“Tidak mungkin juga dia bisa masuk tanpa izin. Kok ada ormas? Berarti ada yang mengizinkan,” tegas Ginting.
Oleh karena itu, ia meminta agar aparat penegak hukum tidak melihat rentetan peristiwa ini secara parsial.
Pengusutan secara menyeluruh diperlukan guna menguak motif, aktor intelektual, serta benang merah yang menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya.
Menutup analisanya, Ginting memperingatkan bahwa apabila akar persoalan yang memicu ketidakpuasan publik gagal ditangani secara serius oleh pemerintah, eskalasi ketegangan diprediksi akan kembali terkonsolidasi menjelang akhir tahun.
“Karena ini tidak berhasil menurut saya, puncaknya nanti akan dilakukan lagi Oktober,” pungkasnya.