DEMOCRAZY.ID – Pakar Hukum Tata Negara Prof Zainal Arifin Mochtar kembali menyerukan aksi demonstrasi.
Hal itu diungkapkan menanggapi orasinya saat 28 Oktober 2026 di Jogja viral di media sosial.
“Teman-teman, terima kasih untuk ribuan komentar, tag dan pujian serta juga ada yang memaki,” kata Zainal dikutip dari unggahannya di Instagram, Sabtu (31/10/2026).
Pria yang karib disapa Uceng itu memberi atensi perhatian tersebut.
Namun menurutnya, bukan perhatian itu yang penting.
“Perhatian kalian keren banget. Tapi mari merenung, kayaknya bukan itu yang paling penting,” ujar Uceng.
Dia mengatakan tuntutan dari demonstrasi pada 28 Oktober belum terjawab.
“Keresahan kita masih tak terjawab. Negara masih jalan seperti biasa tanpa sungguh memperhatikan apa yang kita lakukan tanggal 28 Oktober kemarin,” ucapnya.
Bahkan, dia mengatakan ada demonstrasi yang digelar sehari setelahnya, yang disebut Uceng demo-demoan.
“Mereka malah buat “demo-demoan” tanggal 29-nya,” ungkap Uceng.
Karenanya, dia menilai perlu kembali turun ke jalan dengan gelombang massa lebih besar.
“Apa yang bisa kita lakukan? Tiada lain kecuali kembali dengan gelombang yang harusnya lebih besar,” terang Uceng.
Selain jumlah yang lebih besar, perlu juga barisan yang lebih rapi.
“Barisan yang lebih bersama dan kokoh. Agenda yang lebih rapi dan tentu saja keinginan yang lebih kuat. Bismillah, mari menyusunnya bersama,” pungkasnya.
Pada Rabu 28 Oktober 2026, guru besar UGM itu menyerukan para mahasiswa kuliah di jalan.
“Hari ini kita kuliah di jalanan,” tulis Uceng di akun Instagramnya.
Dia juga mengunggah poster seruan aksi. Bertuliskan ‘Jogja Memanggil’.
Poster itu berlatar belakang hijau, biru, dan merah, dengan tangan menunjukkan tiga jari.
Latar itu pula yang dugunakan dalam unggahannya yang menyerukan kembali turun ke jalan.
Diketahui, simbol tiga jari digunakan sebagai bentuk protes, ungkapan kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan terhadap pemimpin yang dinilai gagal.
Juga sebagai simbol dalam melawan kekuasaan yang dinilai otoriter.
Simbol ini dipopulerkan lewat film The Hunger Games dan sering diadopsi oleh gerakan pro-demokrasi di berbagai negara Asia Tenggara, seperti di Thailand dan Myanmar.
Simbol tiga jari ini, bentuk perlawanan dan solidaritas bagi gerakan demokrasi di seluruh Asia Tenggara.
Gerakan tersebut pertama kali muncul di Thailand beberapa hari setelah kudeta militer pada Mei 2014, yang menimbulkan kemarahan di kalangan pemilih di seluruh kerajaan, di mana kemudian gerakan tersebut dilarang oleh penguasa militer.