DEMOCRAZY.ID – Strategi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai tidak selalu dapat dibaca dari pernyataan terbuka maupun panggung politik resmi.
Komunikasi informal dengan berbagai kelompok, termasuk media yang selama ini kritis terhadap dirinya, disebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ruang manuver politik.
Hal itu disampaikan Iwan “Terpal” Setiawan, pemerhati politik dan alumni Hubungan Internasional UMY, dalam membaca interaksi Jokowi dengan tim Bocor Alus Tempo.
Menurut Iwan, komunikasi Jokowi dengan lingkungan Bocor Alus Tempo menarik dicermati karena kanal tersebut selama ini dikenal kritis terhadap Jokowi, termasuk terkait pencalonan dan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.
“Seorang politisi yang matang tidak selalu membutuhkan media untuk memujinya. Media yang kritis pun memiliki fungsi strategis,” kata Iwan kepada wartawan, Jumat (14/8/2024).
Ia menilai kritik dari media dapat menjadi semacam cermin bagi elite politik untuk membaca denyut publik, mengetahui isu yang berkembang, sekaligus mengukur tingkat penerimaan masyarakat terhadap kebijakan maupun figur tertentu.
Karena itu, kata Iwan, komunikasi dengan media kritis tidak otomatis dapat dimaknai sebagai kesepakatan politik.
“Pertemuan tidak otomatis berarti kendali. Komunikasi tidak otomatis berarti instruksi. Kedekatan tidak otomatis berarti kesepakatan,” ujarnya.
Iwan mengatakan, dinamika menuju Pemilu 2029 masih sangat cair.
Pernyataan Jokowi yang pernah mendukung gagasan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode, menurutnya, tetap harus ditempatkan sebagai posisi politik pada momentum tertentu.
Sebab, peta politik dapat berubah seiring perkembangan elektabilitas, kinerja pemerintahan, konfigurasi partai politik, hingga persepsi publik.
“Politik Indonesia memiliki karakter yang sangat cair. Apa yang disampaikan elite hari ini bisa menjadi posisi politik hari ini, tetapi belum tentu menjadi keputusan ketika memasuki momentum penentuan,” katanya.
Menurut Iwan, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Jokowi untuk terus membaca perkembangan politik sebelum menentukan langkah.
Ia menilai, apabila Gibran langsung didorong menjadi calon presiden pada 2029, tantangannya tidak ringan.
Gibran masih perlu membangun pengalaman politik nasional, memperkuat legitimasi personal, dan menunjukkan kapasitas kepemimpinan kepada publik.
Karena itu, Iwan melihat kemungkinan lain, yakni Gibran tetap berada dalam orbit kekuasaan sebagai calon wakil presiden.
Dalam konteks tersebut, nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM dinilai menjadi salah satu figur yang patut diperhitungkan.
Iwan menyebut apabila tren politik dan survei ke depan terus memperlihatkan KDM menguat, sementara tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo mengalami pelemahan, kalkulasi politik menuju 2029 tentu dapat berubah.
“Jika KDM menjadi kandidat presiden dengan elektabilitas yang kuat, Gibran dapat menjadi salah satu figur yang dipertimbangkan sebagai pasangan. Tentu saja ini bukan kepastian,” jelasnya.
Menurut dia, konfigurasi KDM-Gibran secara politik memiliki kemungkinan untuk dibaca sebagai titik temu dua kepentingan.
KDM memiliki kebutuhan membangun dukungan nasional, sementara Gibran memiliki kepentingan mempertahankan keberlanjutan karier politiknya di tingkat nasional.
Namun, Iwan menegaskan, skenario tersebut masih merupakan kemungkinan politik dan sangat bergantung pada perkembangan beberapa tahun ke depan.
“Politik terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi satu skenario. KDM memiliki kalkulasi politiknya sendiri. Partai politik mempunyai kepentingannya masing-masing. Prabowo juga mempunyai kekuatan politik yang tidak dapat diabaikan,” katanya.
Iwan melihat kekuatan Jokowi dalam politik salah satunya terletak pada kemampuannya membaca momentum.
Menurut dia, Jokowi tidak harus terburu-buru menentukan pilihan ketika peta politik belum final.
“Menunggu momentum. Menunggu arah angin. Menunggu siapa yang menguat dan siapa yang melemah,” ujarnya.
Ia menilai, jika Jokowi masih ingin mempertahankan pengaruh politiknya setelah 2029, maka kemampuan menjaga komunikasi dengan berbagai kelompok menjadi penting.
Media, partai politik, relawan, komunitas digital, lembaga survei, dan kelompok kepentingan disebut akan menjadi bagian dari arena pembentukan opini publik menjelang Pemilu 2029.
Namun Iwan mengingatkan agar komunikasi politik tidak serta-merta ditarik menjadi kesimpulan bahwa ada kendali atau instruksi tertentu terhadap media.
“Bocor Alus Tempo tetap mempunyai agenda editorial dan independensinya sendiri. Begitu pula Jokowi memiliki agenda politiknya,” katanya.
Iwan menilai posisi Prabowo juga menjadi variabel penting dalam kalkulasi politik Jokowi menuju 2029.
Sebagai presiden, Prabowo memiliki kekuasaan pemerintahan, jaringan politik, dan dukungan partai yang besar.
Namun, menurut Iwan, pemerintahan tetap menghadapi tantangan berupa perubahan persepsi publik.
Kinerja ekonomi, harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, kebijakan pemerintah, konflik elite, hingga pemberitaan media dapat memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat.
Jika dukungan terhadap Prabowo melemah sementara muncul kandidat alternatif dengan elektabilitas lebih tinggi, kata Iwan, konfigurasi politik menuju 2029 dapat berubah.
“Seorang politisi yang ingin mempertahankan pengaruh biasanya akan memilih membaca realitas,” katanya.
Ia menilai sebutan king maker terhadap Jokowi bukanlah jabatan formal, melainkan gambaran mengenai kemampuan seorang tokoh memengaruhi konfigurasi kekuasaan tanpa harus berada di posisi puncak pemerintahan.
“Namun seorang king maker tidak selalu mengumumkan kartu yang dimilikinya. Ia menyimpan sebagian kartu hingga momentum yang tepat,” ujarnya.
Menurut Iwan, dukungan Jokowi terhadap Prabowo-Gibran dua periode tidak harus dianggap sebagai keputusan yang tidak dapat berubah.
“Ucapan politik memiliki umur. Kepentingan politik juga berubah. Yang lebih permanen adalah kepentingan untuk mempertahankan pengaruh,” katanya.
Karena itu, menurut Iwan, kejutan politik menuju 2029 masih sangat mungkin terjadi.
“Pada detik terakhir, seorang king maker selalu memiliki hak untuk mengubah permainan,” pungkasnya.