Geger Manuver Partai Golkar! Bahlil Lahadalia Dijagokan Maju Pilpres Berkat Karisma dan Pola Gerakan Ala Jokowi

DEMOCRAZY.IDManuver Partai Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia kembali memantik sorotan tajam.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, menilai tanda-tanda pergeseran arah politik partai berlambang pohon beringin tersebut kini mulai terlihat nyata menjauh dari pengaruh mantan Presiden Joko Widodo.

Sorotan tersebut mengemuka tatkala Ray menganalisis fenomena Bahlil yang kerap menjadi magnet kerumunan, mulai dari kalangan ibu-ibu hingga anak-anak, dalam berbagai kesempatan turun ke tengah masyarakat.

Gaya komunikasi tersebut dinilai sebangun dengan pola blusukan yang dulunya menjadi ciri khas utama Jokowi.

Kendati demikian, Ray memandang daya tarik Bahlil memiliki keunikannya tersendiri di tengah kekeringan figur karismatik di panggung politik nasional saat ini.

“Saya kira terlihat bibit-bibit dia (Golkar) akan meninggalkan Pak Jokowi,” ungkap Ray dalam kanal YouTube Hendri Satrio.

“Bahlil itu bukan orang yang menarik, tetapi setidaknya dia lucu. Bahlil ada lucu-lucunya. Jadi, orang menjadi ke sana (menggemari Bahlil),” tambahnya.

Membaca Tren Publik dan Tradisi Kader Internal Golkar

Menurut Ray, Bahlil dan jajaran elite Golkar sangat j membaca pergerakan tren popularitas di akar rumput.

Ketokohan sang ketua umum di mata publik tidak serta-merta dibangun atas landasan rumusan visi-misi kenegaraan yang agung, melainkan terbangun dari gaya pendekatan personal yang menghibur dan cair.

“Dia (Bahlil) disukai bukan karena visi, misi, dan macam-macam, tetapi konteksnya lucu-lucuan. Pandangan publik yang positif itu,” jelasnya.

Di samping faktor gaya komunikasi personal, dinamika internal partai juga memegang peranan krusial.

Ray mengingatkan kembali bahwa Partai Golkar memiliki DNA politik dan tradisi historis yang kuat dalam hal pengusungan kepemimpinan, di mana partai beringin ini selalu memprioritaskan kader internalnya sendiri sebagai poros kekuatan utama sebelum mengambil keputusan akhir dalam koalisi nasional.

“Golkar punya tradisi mengusung kader mereka sendiri, meski pada ujungnya mendukung orang lain,” pungkasnya.

Pergeseran-pergeseran simpul kekuatan ini kian mempertegas bahwa cengkeraman pengaruh politik masa lalu mulai mengalami pelonggaran seiring adaptasi para elite partai menghadapi konstelasi kekuasaan jangka panjang.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya