Eks Panglima TNI Bongkar Rahasia: Pejabat Ternyata Lebih Takut ke Jokowi Ketimbang Prabowo!

DEMOCRAZY.ID — Geliat transisi kekuasaan nasional terus menyisakan polemik mendalam yang membongkar rapuhnya konstelasi di lingkaran Istana.

Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo, secara terbuka melontarkan analisis tajam yang memantik kehebohan publik.

Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto saat ini tidak memiliki kendali politik yang sepenuhnya kuat, lantaran para menteri dan pejabat negara justru jauh lebih tunduk dan ketakutan kepada bayang-bayang Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Pernyataan blak-blakan tersebut disampaikan Gatot dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Hersubeno Point.

Menurutnya, akar ketakutan para elite birokrasi dan pengusaha bersumber dari instrumen hukum strategis yang sengaja diletakkan di pengujung masa jabatan rezim sebelumnya.

“Semua pejabat takut dengan Tipidkor, ditipidkorkan lagi nanti, pengusaha juga takut dengan Tipidkor. Artinya apa? Kekuasaan ada di sana, Prabowo tidak ada apa-apa,” ujar Gatot, dikutip Jumat (24/7/2026).

Warisan Kortastipidkor: “Kemenangan Mutlak” Jokowi di Era Transisi

Lebih lanjut, Jenderal purnawirawan bintang empat itu secara spesifik menyoroti keberadaan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri yang dibentuk melalui Perpres Nomor 122 Tahun 2024.

Regulasi tersebut diteken oleh Jokowi pada 15 Oktober 2024, hanya beberapa hari sebelum lengser dari kursi kepresidenan.

Bagi Gatot, pembentukan lembaga khusus yang berada di bawah naungan Polri—dengan tugas mencakup pencegahan, penelusuran aset, hingga penyidikan tipikor dan TPPU—bukan sekadar langkah administratif penegakan hukum.

Lebih dari itu, instrumen tersebut dinilai sebagai mekanisme kontrol terselubung untuk menyandera arah kebijakan penguasa baru.

“Saya katakan Prabowo tidak ada apa-apa sekarang walaupun dia presiden. Secara lahiriah para menterinya, pejabatnya takut dengan Tipidkor. Karena ini adalah yang dibuat oleh Jokowi dan persiapan untuk saat ini,” imbuhnya.

Ia menilai, keberadaan lembaga tersebut efektif membuat para menteri, baik titipan rezim lama maupun pembantu baru di kabinet Prabowo, berjalan dalam ketakutan psikologis yang akut.

Risiko terseret kasus hukum membuat para pengambil kebijakan kehilangan keberanian.

“Saya ulangi, yang menang adalah Jokowi dengan Tipidkor ini. Semua orang akan takut. Menteri-menterinya Jokowi takut, menteri-menterinya Prabowo juga takut. Kalau semua dibuat Tipidkor, gimana coba?” tandasnya tajam.

Ujian Berat Kedaulatan Kepala Negara

Peringatan keras dari Jenderal Gatot Nurmantyo ini semakin mempertegas narasi bahwa Istana saat ini terjebak dalam dualisme pengaruh politik.

Ketika instrumen penegakan hukum diidentifikasi sebagai alat sandera kekuasaan masa lalu, kemandirian seorang presiden selaku pemegang mandat tertinggi eksekutif dipertanyakan secara serius oleh publik.

Di tengah gelombang krisis kepercayaan, anjloknya kepuasan publik, dan karut-marut hukum yang mendera, ujian terbesar Prabowo adalah membuktikan apakah ia benar-benar memegang kendali penuh atas Republik, atau sekadar menjadi bayang-bayang status quo.

[VIDEO]

Artikel terkait lainnya