DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali memanas menyusul letupan kritik tajam dari politikus senior PDI Perjuangan (PDIP) yang juga menjabat sebagai Ketua DPP, Deddy Yevri Sitorus.
Kali ini, ia melayangkan serangan verbal tanpa kompromi kepada kelompok-kelompok yang dinilainya mengidap inkonsistensi akut dalam menilai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Deddy menyoroti fenomena ganjil di ruang publik di mana segelintir pihak begitu bernafsu mencela berbagai kebijakan era Prabowo, namun di sisi lain tetap melambungkan pujian setinggi langit kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Padahal, logika kebijakan negara menunjukkan bahwa sejumlah program andalan saat ini sejatinya merupakan cetak biru warisan rezim sebelumnya.
Kemarahan tersebut diluapkan Deddy melalui unggahan provokatif di akun media sosial pribadinya, Kamis (23/7/2026).
Ia secara spesifik menarik garis merah pada program mercusuar Makan Bergizi Gratis (MBG) serta langkah-langkah strategis Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
“MBG-Satgas PKH itu warisan Jokowi, dikampanyekan Gibran dan dieksekusi Prabowo. Sekarang kalian benci Prabowo tapi memuja Jokowi dan Gibran? Kedunguan kalian tak tertolong,” tulis Deddy dengan nada mencak-mencak.
👇👇
Baca JugaLihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Deddy Yevri Sitorus (@deddyyevrisitorus)
Pernyataan blak-blakan tersebut sontak memantik diskursus panas di kancah politik nasional.
Deddy menilai ada upaya sistematis dari kelompok tertentu untuk sengaja memisah-misahkan, bahkan membenturkan, peran dan tanggung jawab antara Presiden Prabowo Subianto dengan figur Jokowi dan Gibran dalam mata rantai eksekusi kebijakan negara.
Bagi politikus asal partai berlambang banteng moncong putih itu, rangkaian program populis yang digadang-gadang hari ini tidak lahir dari ruang hampa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan digoyang berbagai polemik internal hingga desakan audit, serta operasi Satgas PKH, merupakan produk turunan dari perencanaan masa lalu yang kini mau tak mau harus ditanggung dan dieksekusi oleh pemerintahan baru.
Melalui diksi kerasnya, Deddy mendesak publik—khususnya para pengamat dan loyalis politik—untuk melepaskan kacamata kuda dan melihat kesinambungan (continuity) kebijakan secara objektif, alih-alih terjebak dalam sentimen personal yang justru memperlihatkan cacat logika berpikir.