DEMOCRAZY.ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membeberkan capaian strategis pemerintahannya dalam kurun waktu 18 bulan memimpin negara.
Di hadapan jajaran kabinetnya, Prabowo mengklaim pemerintah telah sukses membereskan lebih dari 108 persoalan pelik yang menjadi warisan dan tantangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka oleh Kepala Negara saat membuka Sidang Kabinet Paripurna yang dihelat di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (20/7/2026).
Meski menyebut torehan tersebut sebagai prestasi besar, Prabowo tetap mengingatkan jajarannya agar menyikapinya dengan kepala dingin dan tidak sombong.
“Mungkin hitungan kita terakhir lebih dari 108 masalah, 110 masalah yang kita selesaikan dalam satu tahun lebih, 18 bulan pemerintahan kita, ini prestasi yang bukan kecil, kita rendah hati, kita tidak mau menepuk dada, kita tidak mau dan kita tidak boleh besar kepala, tidak boleh sombong, itu watak bangsa kita,” ujar Prabowo.
“Tapi kalau kita berprestasi kita akui bahwa kita berprestasi, tidak ada bangsa lain yang menghormati kita kalau kita tidak menghargai bangsa kita sendiri,” imbuhnya.
Dalam arahannya, mantan Danjen Kopassus ini menegaskan bahwa mandat yang diberikan oleh rakyat adalah untuk bertempur melawan dan menyelesaikan berbagai masalah struktural, bukan untuk dihindari.
Ia meminta seluruh menteri dan pembantunya di kabinet untuk bersikap ksatria menghadapi berbagai kekurangan yang masih membelenggu negeri.
Prabowo secara blak-blakan mengakui bahwa pemerintahannya sangat sadar akan seabrek pekerjaan rumah yang belum tuntas, mulai dari kesejahteraan guru, minimnya ketersediaan lapangan kerja, hingga persoalan kemiskinan ekstrem di berbagai penjuru daerah.
“Kita diberi mandat oleh rakyat untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah, jadi kita tidak boleh takut dengan masalah, kita tidak boleh takut dengan kesulitan, kita tidak boleh takut dengan kekurangan. Kita paham seluruh bangsa paham, bahwa gaji guru-guru kita kurang, kita paham bahwa lapangan kerja kita kurang, kita paham masih banyak kemiskinan ekstrem, kita paham semua masalah kita paham,” tegasnya.
Di balik berbagai capaian tersebut, Prabowo juga mengungkap fakta mencengangkan.
Ia mengaku menemukan masalah yang skalanya jauh melampaui perkiraan awal saat kali pertama memegang kendali pemerintahan.
Salah satu hantaman terbesar bagi perekonomian nasional adalah masifnya kebocoran kekayaan negara akibat praktik ilegal dalam perdagangan internasional.
Ia menyoroti praktik culas seperti under invoicing, pemalsuan laporan perdagangan (misinvoicing), hingga penyelundupan yang secara sistematis menyedot kekayaan Indonesia keluar negeri hingga ribuan triliun rupiah atau ratusan miliar dolar setiap tahunnya.
“Terjadi suatu distorsi terhadap perekonomian kita, telah terjadi mengalir keluar kekayaan kita secara signifikan, ribuan triliun, ratusan miliar dolar tiap tahun, dengan praktik-praktik under invoicing, pemalsuan laporan perdagangan, praktik-praktik penyelundupan, hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak adil bagi bangsa kita,” beber Prabowo.
Sebagai penguat argumennya, Kepala Negara menyebut bahwa data tersebut bukan sekadar asumsi domestik, melainkan telah divalidasi oleh lembaga-lembaga internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia bahkan mengenang kembali ironi masa lalu di mana Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) dunia justru sempat mengalami kelangkaan minyak goreng di pasaran domestik.
“Ini bukan data kita, ini data lembaga internasional, ini data dari PBB, tapi seluruh bangsa sudah merasakan, semua pelaku ekonomi sudah mengerti di dalam negeri dan luar negeri. Semua tahu negara penghasil kelapa sawit tadi dunia sempat berminggu-minggu hilang minyak goreng, sesuatu yang tidak masuk di akal,” ucapnya.
Menutup arahannya, Presiden Prabowo kembali membakar semangat jajaran kabinetnya untuk tidak pernah surut melangkah, menegaskan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras menuntaskan satu demi satu persoalan demi kejayaan bangsa.