DEMOCRAZY.ID – Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, Indonesia.
Kemunculan daratan tersebut memicu spekulasi di tengah masyarakat Indonesia namun juga jadi perhatian media luar negeri.
Salah satu media Malaysia menyoroti daratan baru yang berada di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
“Area tersebut diduga terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang keluar selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau,” ulas media Malaysia, Sinar Harian.
Sementara itu, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, membenarkan keberadaan daratan tersebut.
Menurut Suwarno, daratan itu bukan muncul secara tiba-tiba setelah satu kali letusan.
Material vulkanik telah terakumulasi seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Ya, hasil daripada letusan sebelumnya. Kira-kira 30,3 hektare,” kata Suwarno.
👇👇
Kemunculan daratan tersebut mulai terlihat setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan.
Kondisi itu terjadi setelah status gunung api tersebut dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.
Meski menjadi perhatian, Suwarno menegaskan daratan baru tersebut masih berada dalam pemantauan petugas.
Lokasinya juga masih termasuk kawasan kompleks Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Kemunculan daratan kemudian memunculkan spekulasi bahwa kawasan tersebut dapat menjadi titik awal terbentuknya gunung berapi baru.
Istilah “cucu Krakatau” pun mulai digunakan untuk menggambarkan kemungkinan tersebut.
Namun, dugaan itu belum memiliki dasar yang cukup.
Suwarno menjelaskan Gunung Anak Krakatau memiliki sistem saluran magma di bawah permukaan.
Magma secara alami akan mencari rekahan yang lebih mudah untuk menjadi jalur keluarnya material vulkanik.
Akan tetapi, kemunculan daratan baru tidak otomatis menunjukkan adanya saluran magma baru di lokasi tersebut.
Pihak berwenang juga belum dapat memastikan apakah terdapat pergerakan magma menuju kawasan daratan baru itu.
Kemungkinan area tersebut menjadi pusat erupsi baru juga masih belum diketahui.
Sementara itu, status Gunung Anak Krakatau justru mengalami penurunan.
Statusnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Senin setelah evaluasi menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi, gempa, serta perubahan bentuk gunung.
Meski statusnya turun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Warga dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.