Angka Pengangguran Sarjana Meroket Nyaris Dua Kali Lipat, PDIP Tagih Janji Manis Gibran Soal Lapangan Kerja!

DEMOCRAZY.ID — Persoalan pelik sektor ketenagakerjaan di tanah air kembali memantik kritik tajam dari kalangan politisi.

Politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli, secara terbuka melontarkan sentiran keras terhadap realitas lonjakan angka pengangguran terdidik, sekaligus menagih realisasi janji politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat masa kampanye lalu.

Sentil Janji 19 Juta Lapangan Kerja, Soroti Lonjakan Pengangguran Sarjana

Guntur menyoroti kontras antara janji kampanye penciptaan jutaan lapangan kerja dengan kondisi empiris di lapangan, di mana jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja justru menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.

“1 juta lebih sarjana menganggur di negeri ini — sementara janji 19 juta lapangan pekerjaan dari Gibran semakin terlihat sebagai kebohongan,” ujar Guntur Romli, dikutip Rabu (12/8/2026).

Kritik tersebut didasarkan pada rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026.

Dari total 7,22 juta pengangguran nasional, sebanyak 1.033.182 orang merupakan lulusan berlatar belakang pendidikan tinggi (D4 hingga S3). Angka tersebut menyumbang proporsi sebesar 14,31 persen dari total keseluruhan pengangguran, yang tercatat sebagai rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir.

“Pengangguran sarjana naik nyaris dua kali lipat dibanding tahun 2022, dari 7,98 persen menjadi 14,31 persen,” tambahnya.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS per Mei 2026, struktur pengangguran nasional berdasarkan jenjang pendidikan terdistribusi sebagai berikut:

  • SMK: 7,68 persen
  • Universitas (D4, S1, S2, S3): 6,09 persen
  • Diploma (D1, D2, D3): 4,75 persen
  • SMP: 4,16 persen
  • SD ke bawah: 2,31 persen

Fenomena Underqualification: Sarjana Banyak Bekerja di Bawah Kualifikasi

Selain tingginya angka pengangguran terbuka di kalangan intelektual muda, persoalan ketenagakerjaan juga diwarnai oleh problem ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi pendidikan dan jenis pekerjaan yang diperoleh.

Laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memetakan lima program studi tingkat S1 yang menyumbang porsi terbesar terhadap angka pengangguran sarjana, yaitu:

  • Manajemen: 10,3 persen
  • Ilmu Hukum: 9,0 persen
  • Ilmu Ekonomi: 8,7 persen
  • Ilmu Pendidikan (Keguruan): 7,1 persen
  • Akuntansi: 5,1 persen

Lebih lanjut, laporan riset yang sama mengungkap fakta bahwa sebanyak 8,01 juta lulusan S1 di Indonesia terpaksa bekerja di bawah kualifikasi pendidikan mereka (underqualified).

Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan ketenagakerjaan nasional tidak hanya berhenti pada penyediaan ketersediaan lowongan kerja baru, tetapi juga perbaikan kualitas serapan tenaga kerja yang sesuai dengan keahlian akademik lulusan perguruan tinggi.

Artikel terkait lainnya