DEMOCRAZY.ID – Siswa SDN Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, berinisial R (9) meninggal dunia setelah tersedak biji kelengkeng dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (22/9/2026).
Dikutip dari Tribun Lampung pada Rabu (23/9/2026), kronologi bermula ketika R sedang memakan kelengkeng dari MBG sembari berlarian.
Lalu, pada momen tersebut, dirinya tersedak.
“Sewaktu korban makan buah kelengkeng yang merupakan menu MBG di ruang kelas 3, korban sambil bermain lari-larian kemudian tersedak,” kata Kasatreskrim Polres Lampung Tengah AKP M. Prenanta Al Ghazali.
R, kata Ghazali, lantas panik sembari memegangi lehernya.
Lalu korban meminta bantuan teman sekelasnya, D.
Kemudian, D meminta penjaga sekolah, Ahamd Surahman untuk mendampinginya.
Surahman lantas meminta bantuan guru untuk bergegas memberikan pertolongan pertama.
Saat pertolongan dilakukan, R sempat memuntahkan sisa makanan yang dikonsumsinya.
Namun, biji kelengkeng yang mengakibatkan dirinya tersedak tidak dapat keluar.
Hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan pernapasan yang dialami korban.
Pihak sekolah pun lantas membawah R ke Puskesmas Poncowarno yang lalu dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Kartini.
Nahas, setibanya di RS, tim medis menyatakan bahwa R meninggal dunia.
“Sesampainya di ruang UGD dan dilakukan pemeriksaan oleh petugas medis, korban dinyatakan meninggal dunia,” jelas Ghazali.
Buntut dari peristiwa nahas yang menimpa R, guru di SDN Poncowarno disudutkan oleh opini negatif dari publik.
Alhasil, para guru pun mengalami guncangan psikologis.
Lantas, Kepala Kampung Poncowarno Heri Eliyanto datang ke sekolah untuk memberikan perlindungan moral.
Heri mengatakan perasaan terpukul dari para guru terkait peristiwa nahas yang menimpa R.
“Para dewan guru ini merasa sangat tertekan, merasa disalahkan, dan bersedih luar biasa. Padahal kita tahu bersama, tugas utama seorang guru adalah mendidik dan memandaikan anak bangsa,” ujar Heri saat memberikan keterangan pada Selasa (22/9/2026).
Dia mengaku khawatir tekanan publik terhadap para guru buntut dari peristiwa ini mengganggu proses belajar mengajar di sekolah tersebut.
Heri pun menegaskan bahwa meninggalnya R bukan sepenuhnya kesalahan pihak sekolah.
“Ini adalah musibah. Para guru juga merasa sangat kehilangan karena mereka yang merawat dan mendidik anak-anak tersebut. Musibah ini bukan semata-mata kelalaian mereka, mengingat pengawasan terhadap puluhan siswa aktif tentu memiliki keterbatasan,” tuturnya.
Ia meminta kepada seluruh pihak untuk tidak menyudutkan para guru terkait peristiwa ini.
“Saya sampaikan langsung kepada para guru, ‘Sudah, saya yang dampingi. Tugas Ibu-Ibu jelas mengajar’. Mari kita berikan dukungan moral, jangan sampai semangat mereka patah dalam membina generasi penerus,” tegas Heri.
Di sisi lain, pihak keluarga menolak untuk dilakukannya autopsi terhadap jenazah R. Ghazali menuturkan setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban langsung diserahkan ke pihak keluarga.
“Pihak keluarga korban menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah. Sehingga, korban langsung diserahkan ke keluarga untuk dilakukan pemakaman,” tandasnya.
Jenazah R pun telah dimakamkan oleh pihak keluarga pada Selasa siang sekira pukul 11.00 WIB di pemakaman setempat.
Adapun pemakaman turut dihadiri oleh jajaran Muspika seperti camat, Kapolsek Kalirejo, hingga jajaran guru SDN Poncowarno.