Sindir Siapa? Jokowi Elus Dada: Orang Belum Pintar Tapi Sok Merasa Pintar!

DEMOCRAZY.ID — Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap kualitas perdebatan di ruang publik saat ini, yang menurutnya kerap diwarnai aksi saling mencaci maki ketimbang beradu gagasan konstruktif.

Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan dalam peringatan Maulidurrasul Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 KH Musyaffa’ Ali di Pondok Pesantren Al Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Ia menyoroti fenomena maraknya perdebatan di televisi, di mana sebagian orang kerap merasa paling pintar meskipun belum matang secara keilmuan.

“Sekarang ini yang belum pintar aja sudah rumongso (merasa) pintar, yang banyak pirsani (melihat) teng (di) TV-TV waktu debat itu wah kadose (seperti) pinter-pinteran ngendikan (berbicara) yo meskipun pinter gak usah diketok-ketokke (diperlihatkan),” ujar Jokowi, dikutip dari kanal YouTube PP Al-Falah Sumberadi, Selasa (1/9/2026).

Pertanyakan Etika dan Adat Ketimuran

Jokowi menilai, figur publik atau pihak yang tampil di hadapan jutaan penonton seharusnya memberikan teladan narasi yang menyejukkan.

Ia menyayangkan perdebatan politik yang justru bergeser menjadi arena saling serang personal.

“Jadi mestinya kalau kita dilihat orang banyak itu menyampaikan hal yang baik supaya orang mengikuti kita menjadi baik. Debat kok caci maki kayak gitu,” ungkapnya.

Ia pun melontarkan kritik retoris terkait hilangnya nilai-nilai kesopanan dan tata krama yang selama ini menjadi identitas budaya ketimuran.

“Adat ketimuran kita ada di mana, sopan santun kita ada di mana? Tata krama kita ada di mana?” sambungnya.

Tanggapi Dinamika Politik dan Terbiasa Dihina

Kendati mengakui bahwa perbedaan pandangan dalam panggung politik adalah hal yang lumrah—di mana ada kelompok yang mendukung dan ada pula yang berseberangan—Jokowi menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak lantas membenarkan tindakan melontarkan perkataan kotor atau hinaan.

Ia mengimbau agar ruang komunikasi publik tetap dijaga dengan diksi yang santun menggunakan peribahasa berbahasa Jawa: “Yen iso ngendiko apik kenapa sing ngendiko sing elek? Nggih mboten nggih?” (kalau bisa berbicara baik, kenapa berbicara jelek?).

Di sisi lain, Jokowi mengaku bahwa dirinya secara pribadi tidak asing lagi dengan berbagai terjangan fitnah, cacian, maupun serangan personal yang dialamatkan kepadanya sepanjang perjalanan karier politiknya.

Ia memilih menyikapi hal tersebut sebagai bagian dari dinamika risiko politik, sembari terus menekankan pentingnya menjaga adab dalam berdemokrasi.

👇👇

Artikel terkait lainnya