Perang Bayangan Tiga Mantan Penguasa! Jokowi, SBY, dan Megawati Diam-Diam Siapkan Jagoan Masing-Masing Rebut Panggung Politik

DEMOCRAZY.ID — Peta pertarungan politik nasional menuju Pilpres 2029 mulai memperlihatkan garis-garis ketegangan baru.

Di luar lingkaran kekuasaan petahana Presiden Prabowo Subianto, panggung nasional kini dikapling oleh tiga poros kekuatan besar yang dikendalikan langsung oleh para mantan presiden: Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Megawati Soekarnoputri.

Pengamat politik Adi Prayitno memetakan bahwa masing-masing poros ini memiliki basis kendaraan dan jaringan loyal yang siap digerakkan.

Kubu Jokowi mengandalkan mesin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) serta jaringan relawan, SBY memegang kendali penuh atas Partai Demokrat, sementara Megawati tetap kokoh di garda terdepan PDI Perjuangan.

Dari rahim ketiga poros inilah deretan nama figur calon wakil presiden bermunculan untuk disodorkan ke hadapan Prabowo, mulai dari Gibran Rakabuming Raka dari trah Jokowi, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari gerbong Demokrat, hingga Puan Maharani atau Pramono Anung dari barisan banteng.

Kendati demikian, kalkulasi politik tersebut menyisakan satu pertanyaan besar yang paling krusial: bagaimana jika Prabowo memutuskan untuk tidak lagi meminang mereka sebagai pendamping di 2029?

“Misalnya Gibran tidak dipilih oleh Prabowo sebagai calon wakil presidennya untuk maju di 2029 untuk kedua kalinya. Orang bertanya apa yang kemudian akan dilakukan oleh Jokowi? Apakah akan membentuk poros politik sendiri, memajukan Gibran untuk berhadapan dengan Pak Prabowo? Itu kan orang yang bertanya-tanya,” ujar Adi dalam kanal YouTube Adi Prayitno Official.

Dilema serupa juga mengancam stabilitas koalisi jika SBY dan Partai Demokrat gagal mengamankan tiket AHY di lingkaran inti petahana.

Pertanyaan mendasar menuntut kejelasan apakah Demokrat akan memilih jalan perlawanan dengan mendeklarasikan pencapresan AHY secara mandiri.

Hal senada berlaku bagi PDI Perjuangan.

Sebagai partai pemenang pemilu yang memiliki tiket murni, opsi berkoalisi dengan Prabowo bukan harga mati jika kepentingan strategis partai tercederai.

“Kalau misalnya tidak berjodoh dan tidak bisa berkoalisi dengan Pak Prabowo Subianto minimal sebagai calon wakil presiden, orang bertanya-tanya apakah PDIP akan memajukan calon presiden sendiri?” tegasnya.

Teka-teki besar ini kini menjadi pertaruhan paling menarik dalam membaca arah angin politik Indonesia.

Ketika para mantan penguasa negeri memegang kendali di luar ring utama, manuver di ujung tanduk nanti dipastikan bakal mengubah total lanskap pertarungan kursi kepresidenan.

Artikel terkait lainnya