Rizal Fadillah Tuding Pencopotan Purbaya Pesanan Oligarki: Bohong Besar Jika Prabowo Ngaku Pejuang Rakyat!

DEMOCRAZY.IDKeputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan (Menkeu) terus menuai pro-kontra di hadapan publik.

Purbaya diberhentikan dari jabatan Menkeu pada Senin (14/9/2026) dan digantikan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Pergantian tersebut terjadi ketika Purbaya sebelumnya masih menjalankan agenda kerja bersama DPD RI.

Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menyebut bahwa cara pemberhentian Purbaya justru membuat opini publik berbalik mengarah kepada Prabowo.

Rizal Sesalkan Cara Purbaya Diberhentikan

Dikatakan Rizal, keputusan Prabowo mengganti Purbaya dilakukan tanpa penjelasan yang dinilainya memadai kepada publik.

“Setelah memecat dengan tidak hormat Menkeu Purbaya tanpa penjelasan yang memadai dari si jago omon Prabowo, maka kini opini justru berpihak pada Purbaya dan menyudutkan Prabowo,” ujar Rizal, Rabu (16/9/2026).

Mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat ini menggambarkan penilaiannya terhadap cara Prabowo mengambil keputusan.

“Dari cara memberhentikan, maka ada aroma nafsu kuasa angkara murka Prabowo bak macan lansia yang bernafas terengah-engah,” tukasnya.

“Ada apa? Tidak penting juga, karena tontonan kebodohan sudah terlalu sering ditampilkan oleh Prabowo,” tambahnya.

Pemberhentian Saat Rapat DPD

Rizal juga mempersoalkan momentum pemberhentian Purbaya.

Purbaya diketahui masih mengikuti rapat kerja gabungan Komite IV DPD RI bersama Kementerian Keuangan, Bappenas, dan Bank Indonesia pada Senin sebelum akhirnya meninggalkan rapat tersebut.

Agenda itu antara lain membahas RUU APBN 2027 dan sejumlah agenda perencanaan pembangunan.

“Prabowo tentu tidak sendiri, ada pembisik maut yang menghembuskan hasutan sehingga keputusan Prabowo itu menubruk etika dan kedewasaan,” sesalnya.

Menurutnya, pemberhentian saat menjalankan tugas rapat dengan DPD RI dari ujung telepon merupakan sesuatu yang tidak etis.

“Prabowo itu sudah berusia lanjut tetapi seperti anak kecil yang membanting mainan karena kesal. Purbaya dibanting dan ditendang-tendang,” imbuhnya.

Blak-blakan, Rizal kemudian menggunakan istilah ‘quo vadis’ untuk mempertanyakan arah pemerintahan Prabowo setelah pencopotan Purbaya.

“Pertama, ke otoritarianisme. Membangun budaya sentralistik Prabowo can do no wrong beda 1 persen saja dengan Tuhan,” cetusnya.

Ia juga mengkritik keputusan pemberhentian pejabat yang menurutnya tidak selalu sejalan dengan aspirasi publik.

“Seenaknya main pecat tanpa basis perasaan dan kemauan rakyat. Yang dituntut pecat oleh rakyat malah dipertahankan dan dipuji-puji. Prabowo mempertuhankan dirinya. Rupanya inilah karakter Islam ala Prabowo,” tukasnya.

Pengangkatan Suahasil Nazara

Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan kemudian dilantik Prabowo sebagai Menkeu pada 14 September 2026.

Rizal kemudian merespons pernyataan Suahasil terkait arahan Presiden untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara.

“Kedua, Jokowisme. Memberi ruang besar bagi antek-antek Jokowi. Di samping berjibun menteri berada di bawah kendali Jokowi, kini satu menteri lagi dilantik,” Rizal menuturkan.

“Suahasil Nazara adalah Wamenkeu pilihan Jokowi untuk mewakili Sri Mulyani dan mengganjal Purbaya di era Prabowo. Suahasil dari Nazaret eh dari geng Solo,” tambahnya.

Selain dua hal tersebut, Rizal juga menuding pergantian Purbaya berkaitan dengan kepentingan oligarki.

“Ketiga, oligarkisme. Prabowo kembali menjadi penguat dominasi oligarki. Purbaya disambut kehadiran sebagai Menkeu dan diharapkan untuk menguras dominasi oligarki. Menjadi tangan harapan rezim Prabowo,” sesalnya.

Rizal bahkan menduga pencopotan Purbaya merupakan bagian dari kepentingan tertentu.

“Pemecatan atas dugaan pesanan oligarki menempatkan Prabowo sebagai pembawa bendera oligarkisme. Bohong besar jika Prabowo adalah pejuang rakyat. Tidak terdapat bukti yang disampaikan Rizal dalam pernyataan tersebut untuk membuktikan bahwa pencopotan Purbaya merupakan pesanan oligarki,” tegasnya.

Program Pemerintah Jadi Beban APBN

Celotehan Rizal meluas ke sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.

“Program kerakyatannya manipulatif. MBG adalah program menggendutkan kaum borjuasi, polisi, dan TNI. KMP menghancurkan ekonomi masyarakat bawah,” ucap Rizal.

Lebih jauh, Rizal menegaskan bahwa Prabowo tidak sadar bahwa dirinya kini telah menjadi musuh rakyat.

“Quo vadis Prabowo ? Ia bergerak ke arah agama kaum pendusta, penguasa penentu segala, pengusaha pengeruk aset negara, tentara perusak citra, dan politisi penikmat kuasa,” timpalnya.

“Prabowo bukan pemimpin Bumi Putera, ia lebih suka bergaul dengan Komunis Cina, Zionis Israel, dan Kapitalis Amerika,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya