DEMOCRAZY.ID – Potongan video Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mendadak viral di media sosial.
Momen itu terjadi saat ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (4/9/2026).
Dalam video yang beredar, Teddy terlihat memutar-mutar pulpen di jemarinya saat Presiden Putin menyampaikan sambutan resmi.
putin langsung ga mood ngelanjutin omongannya abis liat si teddy mainin pulpen ketika dia lagi ngomong pic.twitter.com/ZH81iwCYMR
— txtdrimedia (@txtdrimedia) September 3, 2026
Gestur Teddy di tengah forum diplomatik kenegaraan tersebut langsung memicu pro dan kontra netizen.
Sebagian netizen menilai aksi tersebut kurang etis untuk acara formal tingkat tinggi.
Sementara yang lain menganggapnya hanya gestur refleks tanpa maksud tertentu.
WAPRES MAINKAN GELANG KARET
“Kita tidak tahu, apakah permainan gelang karet di jari-jemari Mas Wapres adalah kode intelejen, atau memang beliau sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting dan krusial?Baca JugaSudah pasti, beliau sedang memikirkan Bangsa dan Negara Kesatuan… pic.twitter.com/cJ6NTnWFGu
— HUMOR JON TAMPAN (@HumorJonTampan) August 14, 2026
Sorotan ini turut memantik tanggapan dari psikolog Lita Gading melalui unggahan di akun Instagram miliknya, @lita.gading, dikutip pada Minggu (6/9/2026).
Lita menyoroti dua video pejabat publik sekaligus, yakni Seskab Teddy yang memutar pulpen di depan Putin, serta Wapres Gibran Rakabuming Raka yang sempat terlihat memainkan karet gelang saat bertemu warga.
Dari kacamata psikologi, Lita menjelaskan bahwa gerakan berulang tersebut dinamakan fidgeting.
Menurutnya, fidgeting adalah gerakan kecil yang dilakukan tubuh secara tidak sadar akibat rasa bosan, cemas, atau dorongan untuk tetap fokus.
“Dalam dunia psikologi, kebiasaan memainkan pulpen atau benda tertentu termasuk perilaku fidgeting, yaitu gerakan tubuh tanpa sadar akibat rasa bosan, cemas, atau kurang fokus,” ujar Lita.
Ia mengungkapkan, memutar benda seperti pulpen kerap menjadi mekanisme otak untuk menenangkan diri dan merangsang konsentrasi dalam situasi tertentu.
Selain itu, fidgeting juga bisa terpicu oleh rasa cemas atau tekanan.
Saat mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang memicu ketegangan otot.
“Jalan keluarnya adalah melepas ketegangan itu dengan menggerakkan benda di sekitar. Bisa juga untuk mengusir kebosanan, misalnya karena tidak paham bahasanya, sehingga mengalihkan gestur agar tetap terjaga konsentrasinya,” lanjutnya.
Meski enggan menilai lebih jauh dari sudut pandang etika dan kesopanan, Lita mengingatkan pentingnya kontrol diri bagi para pejabat publik saat berada di ruang terbuka.
Menurutnya, sekecil apa pun gerakan tubuh pejabat tinggi di forum resmi dapat memicu berbagai interpretasi dari masyarakat.
“Semua itu karena kebiasaan yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, kita harus hati-hati dalam setiap gerakan, apalagi kalau pejabat tinggi,” pungkasnya.