Kerap Bicara Ngawur Saat Pidato, Pengamat Usul Kejiwaan Presiden Prabowo Diperiksa: Negara Butuh Kewarasan!

DEMOCRAZY.ID – Kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto kembali dilontarkan Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah.

Rizal menyoroti sejumlah pernyataan Presiden dalam dua kesempatan berbeda yang menurutnya menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Ia menilai pernyataan mengenai keuntungan penggilingan padi hingga Rp2 triliun per bulan serta sosok Ibu Susanah yang disebut menerima upah mengupas bawang Rp700 ribu per kilogram menjadi persoalan serius.

Menurut Rizal, pernyataan seorang kepala negara semestinya didukung data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah publik.

Dua Pernyataan Prabowo Bikin Gaduh

Rizal menyebut dua pidato terakhir Prabowo, masing-masing di Cilacap dan Jakarta, menjadi perhatian utama kritiknya.

Ia menganggap pernyataan mengenai pengusaha penggilingan padi dan Ibu Susanah sebagai persoalan yang tidak dapat dianggap sepele.

“Bualan pertama tentang pengusaha satu penggilingan padi dan bualan kedua mengenai Ibu Susanah,” ujar Rizal, Senin (17/8/2026).

Dikatakan Rizal, Prabowo sempat menyatakan akan mengambil tindakan terhadap pengusaha yang disebut memperoleh keuntungan hingga Rp2 triliun setiap bulan.

Namun, ia mempertanyakan siapa pengusaha yang dimaksud dan di mana lokasi usaha tersebut.

“Keuntungan usaha penggilingan beras Rp2 triliun per bulan itu akan ditindak tegas katanya. Akan tetapi, tidak jelas di mana dan siapa pemilik penggilingannya,” ucapnya.

Rizal menekankan bahwa pernyataan yang disampaikan Presiden seharusnya memiliki dasar yang jelas sehingga publik tidak dibuat menerka-nerka.

“Mestinya ucapan itu berbasis bukti sehingga tidak menimbulkan interpretasi bahkan spekulasi. Jangan-jangan itu hanya ilusi atau halusinasi. Lalu apa tindakan nyata atasnya, hanya basa-basi?” timpalnya.

Kuliti Sosok Ibu Susanah

Selain soal penggilingan padi, Rizal juga menyoroti pernyataan Prabowo mengenai Ibu Susanah dalam pidato kenegaraan.

Sebelumnya, sosok tersebut diperkenalkan Presiden sebagai buruh harian yang bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.

Rizal mempertanyakan angka tersebut sekaligus menyebut adanya informasi berbeda mengenai pekerjaan Susanah.

“Soal Ibu Susanah, bualan Prabowo lebih sadis lagi. Di samping mana ada upah mengupas bawang Rp700 ribu sekilo, juga ibu yang diperkenalkan oleh Presiden itu ternyata bukan tukang kupas bawang, melainkan tukang jahit,” tukasnya.

Ia menggambarkan Susanah sebagai warga dengan kondisi ekonomi sederhana dan penerima bantuan.

“Tidak kaya, penerima santunan, berumah sederhana, istri dari suami tukang bangunan dan pekerja serabutan. Terlalu ramai di medsos respons atas kekacauan pikiran Prabowo itu,” tegasnya.

Kesalahan Presiden Dianggap Fatal karena Berulang

Karena menganggap kesalahan dalam menyampaikan informasi terjadi berulang, Rizal menyarankan agar kondisi Presiden diperiksa.

“Ada usul segera periksa kejiwaan Presiden, sebab terjadi kesalahan berulang,” imbuhnya.

Rizal juga mengaitkan sejumlah isu dan kebijakan dengan alasannya meminta kondisi kejiwaan Prabowo diperiksa.

“Soal tuduhan pengkhianat londo ireng yang berbalik pada dirinya, usiran untuk pergi ke Yaman bagi pengkritik, improvisasi nyinyir, ndasmu, hingga buat program seenak udel seperti SR, URI, MBG, KMP, serta politik luar negeri kacau pada BOP, ATR, dan MDCP,” tutur Rizal.

“Hubungan aneh dengan Seskab pun patut menjadi objek pemeriksaan pula,” tambahnya.

Samakan Prabowo dengan Jokowi

Tidak berhenti di situ, Rizal turut menyeret Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataannya.

Ia menyebut Prabowo memiliki kemiripan dengan Jokowi dalam hal pernyataan-pernyataan yang menurutnya menimbulkan polemik.

“Presiden pembual ternyata sama dengan pendahulunya Jokowi. Terlalu banyak bualan dibuat mulai dari Esemka, uang ribuan triliun, antrean investor, tidak impor, anak tidak minat politik, lapangan kerja, ijazah UGM, serta lainnya,” cetusnya.

Rizal bahkan menuding Prabowo telah berguru pada Jokowi hingga terus memicu kegaduhan publik dalam setiap pidatonya.

“Guru politik Prabowo ini hingga sekarang masih aktif berkeliaran menebar penyakit kerusakan di muka bumi Indonesia. Jokowi adalah penipu bangsa,” bebernya.

Indonesia Belum Sepenuhnya Merdeka

Memasuki momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Rizal menekankan masih banyak persoalan yang menurutnya membuat masyarakat belum merasakan kemerdekaan secara utuh.

Ia menyebut berbagai persoalan, mulai dari korupsi hingga kesenjangan sosial, sebagai catatan serius bagi penyelenggaraan negara.

“Hari ini HUT Kemerdekaan RI ke-81 dirayakan dengan kondisi prihatin di tengah penjajahan rezim oligarki, maraknya korupsi, tumpukan utang luar negeri, pengangguran yang terus meningkat, krisis nilai tukar, kesenjangan sosial, kriminalisasi, penegakan hukum yang inkonsisten, ketidakadilan ekonomi, agama terpinggirkan, serta nilai materi yang sangat mendominasi,” terangnya.

Rizal kemudian menyerukan agar gerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan kembali dibangkitkan.

“Indonesia belum merdeka, gerakan kemerdekaan harus terus dibangkitkan,” tandasnya.

Lebih jauh, Rizal mengatakan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa sehingga mesti dinikmati oleh seluruh elemen masyarakat.

“Tapi di Indonesia kini hanya bangsat-bangsat saja yang sedang menikmati. Revolusi 1945 harus diulangi, bangsat-bangsat itu harus dibasmi,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya