

DEMOCRAZY.ID – Sorotan media asing soal ekonomi Indonesia ramai kembali diperbincangkan.
Bahkan dikalim ada yang meyinggung Indonesia bangkrut dan soal krisis.
Dua media yang disorot itu adalah koran Belanda, De Volkskrant dan media Australia The Australian.
Akun Instagram @Informasi_malangraya menampilkan capture isi koran De Volkskrant dengan judul “Is Indonesië op weg naar bankroet?” atau “Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?.
Sementara dalam berita the Australian menampilkan judul Indonesia’s Central Bank Chief Quits Amid Crisis of Confidence’ yang diterbitkan pada 31 Juli.
TIM memverifikasi kedua berita itu. Khusus pemberitaan De Volkskrant, TIM tidak menemukan koran fisiknya.
Namun dalam situs resmi De Volkskrant (volkskrant.nl), media itu memang membahas soal ekonomi Indonesia. Hanya saja tidak menyebutkan kata ‘bangkrut’.
“Zorgen over economie in Indonesië: crisis dreigt, maar president Prabowo blijft geld als water uitgeven (Kekhawatiran tentang ekonomi Indonesia: krisis membayangi, tetapi Presiden Prabowo terus menghamburkan uang seperti air),” begitu tulis De Volkskrant yang terbit pada 29 Juli 2026.
Sebelumnya berita media Belanda itu dikomentari Ekonom senior, Anthony Budiawan.
Dia menilai judul De Volkskrant itu bukan sekadar dramatisasi belaka, melainkan sebuah analisa tajam yang seharusnya menjadi bahan reflektif bagi pemangku kebijakan dalam negeri.
“Dia (De Volkskrant) mempertanyakan karena memang ada beberapa indikasi yang dianggap bahwa ini menuju kebangkrutan. Mendapatkan kesulitan keuangan,” kata Anthony dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV pada Senin, (3/8/2026).
Anthony sendiri mengamini kalau Indonesia memang sudah mengalami krisis jika dilihat dari jumlah penerimaan negara.
Kata Anthony, penerimaan pajak saat ini telah kurang dari 10 persen.
Selain itu beban pembiayaan utang pemerintah saat ini juga menjadi masalah tersendiri bagi kemampuan fiskal.
Saat ini, lanjutnya, bunga utang yang harus dibayar sudah mencapai 20 persen lebih dari pengeluaran APBN.
“Nah, ini apakah kita masih sustain atau tidak? Keberlanjutannya bagaimana?” ujarnya.