DEMOCRAZY.ID — Bola panas polemik keabsahan dokumen akademik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali disulut ke ruang publik dengan eskalasi tudingan yang kian meruncing.
Kali ini, mantan pejabat Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, secara terbuka melontarkan klaim tanpa kompromi mengenai keaslian ijazah tersebut.
Dalam perbincangan panas yang diunggah melalui kanal YouTube Refly Harun, dikutip Sabtu (12/9/2026), Sri Radjasa menyatakan keyakinannya secara mutlak tanpa keraguan sedikit pun.
Ketika dicecar oleh Refly Harun mengenai posisi pastinya terkait polemik yang tak kunjung padam itu, ia menjawab dengan tegas.
“Anda yakin ijazah Jokowi palsu atau Anda yakin bahwa ijazah Jokowi asli?” tanya Refly.
“Palsu. Palsu. Yakin, saya yakin,” jawab Sri Radjasa Chandra.
Saat didesak lebih jauh mengenai takaran keyakinannya, ia mengeklaim angka absolut.
“100 persen,” tandasnya.
Tidak berhenti pada perdebatan selembar dokumen akademik, diskursus tersebut melebar tajam ke ranah konstelasi kekuasaan tingkat tinggi.
Sri Radjasa mengeklaim bahwa pusaran kontroversi ini tidak bisa dilepaskan dari jejaring pengaruh politik yang masih ditancapkan oleh sang mantan kepala negara di lingkar kekuasaan saat ini.
Ia bahkan menyeret dinamika internal partai beringin serta suksesi kepemimpinan Partai Golkar di bawah komando Bahlil Lahadalia sebagai bukti nyata adanya kendali politik bayangan.
“Berhasil dengan menempatkan Bahlil,” cetus Sri Radjasa, saat disinggung mengenai indikasi pengaruh politik masa lalu yang masih merangsek masuk ke dalam gerbong kekuasaan petahana.
Ketika dipertegas apakah Ketua Umum Golkar tersebut bertindak sebagai perpanjangan tangan, ia menjawab singkat, “Jelas.”
Bongkar Kasus Mega-Skandal hingga Istilah “Algojo” Hukum
Suasana perbincangan kian memanas manakala Sri Radjasa menyeret sejumlah nama besar ke dalam pusaran isu penegakan hukum masa lalu, termasuk membongkar kembali borok kasus korupsi kakap PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri.
Ia melontarkan tudingan keras terhadap sejumlah taipan dan tokoh politik nasional yang dinilainya belum tersentuh jerat hukum secara adil.
“Di Jiwasraya ada Bakrie diduga menguapkan empat triliun. Di Asabri ada Airlangga,” klaimnya blak-blakan.
Tak sampai di situ, ia turut mengarahkan sorotannya kepada mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Di tengah pertarungan pengaruh antara lingkaran kekuasaan lama dan baru—yang diistilahkannya sebagai “satu geng dibackup istana baru, satu geng dibackup istana lama”—ia melabeli Febrie dengan istilah bernada keras atas perannya dalam penanganan perkara masa lalu.
“Ketika Febrie loyalitasnya kepada Jokowi, begitu hebat dia jadi algojo, begitu hebat dia menyajikan proses skandal Jiwasraya yang menguntungkan Jokowi,” pungkasnya.
Pernyataan-pernyataan eksplosif yang dilontarkan dalam forum tersebut merefleksikan betapa tajamnya pertarungan narasi dan syahwat politik antar-faksi elite, di mana isu-isu hukum dan legitimasi masa lalu terus dihidupkan untuk membongkar peta kekuatan di lingkar kekuasaan hari ini.
[FULL VIDEO]