DEMOCRAZY.ID — Peta jalan menuju bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai dikalkulasikan secara intensif di internal partai-partai politik, meskipun hajatan demokrasi tersebut masih menyisakan waktu yang cukup panjang.
Pertanyaan besar yang mulai mengemuka adalah sejauh mana soliditas koalisi pendukung petahana akan bertahan untuk kembali mengusung Presiden Prabowo Subianto di periode kedua.
Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, memetakan bahwa barisan partai politik yang saat ini berada di dalam lingkar kekuasaan tidak serta-merta memberikan cek kosong tanpa kalkulasi strategis.
Berdasarkan pembacaannya, setidaknya ada dua kekuatan parpol yang dinilai memiliki probabilitas paling tinggi untuk tetap setia di gerbong Prabowo, yakni Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Kecenderungan tersebut dinilai Efriza akan semakin menguat apabila roda pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mampu berjalan stabil dan tingkat elektabilitas sang petahana tetap berada di papan atas.
“Partai yang paling berpeluang tetap setia kepada Prabowo, selain partainya Prabowo sendiri, yakni Gerindra, ialah Golkar dan PAN,” ujar Efriza, Sabtu (12/9/2026).
Kendati demikian, Efriza mengingatkan bahwa pergerakan partai-partai politik tidak digerakkan oleh sentimen loyalitas buta, melainkan didasari oleh prinsip transaksional yang rasional.
Faktor terbesar yang akan menjadi penentu akhir adalah sejauh mana partai-partai sekutu tersebut mendapat jaminan atau ruang untuk menyodorkan kadernya sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo.
Selain Golkar dan PAN, Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diprediksi turut meminati posisi strategis tersebut.
Partai Demokrat memiliki modal kuat lewat figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang digadang-gadang siap naik panggung, sementara PKB mengandalkan soliditas basis massa tradisional Nahdliyin yang masif.
Namun, Efriza menilai dinamika saat ini masih terlalu dini untuk dikristalisasikan menjadi keputusan final, mengingat Gerindra pun belum meletakkan agenda suksesi 2029 sebagai prioritas resmi kabinet saat ini.
Peta koalisi masa depan pada akhirnya tidak lagi diukur dari seberapa sering sebuah partai melontarkan pernyataan setia, melainkan pada kalkulasi matematis perolehan suara.
“Pembicaraan koalisi sejatinya bukan sekadar siapa yang paling setia kepada Prabowo, melainkan siapa yang paling mampu memberi tambahan elektoral,” tegasnya.
Bagi kubu petahana, kemampuan partai mitra koalisi dalam mendulang suara tambahan sekaligus menjaga stabilitas di parlemen akan menjadi komoditas tawar-menawar utama dalam menyusun konfigurasi kekuatan politik menuju Pilpres 2029 mendatang.