Blak-Blakan Soal Sosok Jokowi, Pakar Ini Beri Pengakuan Mengejutkan: Saya Pernah Percaya dan Tertipu!

DEMOCRAZY.ID — Pakar ilmu komunikasi politik, Henri Subiakto, melontarkan kritik pedas yang menelanjangi habis watak kepemimpinan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Henri secara terbuka mengakui pernah tertipu oleh polesan citra kesederhanaan Jokowi yang kini justru meninggalkan warisan kehancuran etika demokrasi serta beban utang luar biasa bagi bangsa Indonesia.

Kritik tajam tersebut disampaikan Henri melalui akun X miliknya, di mana ia membedah bagaimana penampilan Jokowi yang terkesan seperti masyarakat biasa berhasil membius kalangan masyarakat bawah hingga menutup mata dari dosa-dosa politik dinasti.

Henri Subiakto: Saya Pernah Percaya dan Tertipu Olesan Citra Jokowi!

Henri menelanjangi pola komunikasi politik Jokowi yang memanfaatkan kesederhanaan untuk membangun ikatan emosional dengan rakyat kecil.

Menurutnya, hal itu membuat publik pengikutnya cenderung mengabaikan aspek integritas dan formalitas kualifikasi pendidikan.

“Saya pernah percaya dan tertipu juga dengan ucapan dan penampilan yang penuh polesan. Sekarangpun masih banyak yang buta terhadap sosok ini, hanya karena suka dengan hasil kerja pemerintahannya dulu yg terlihat sukses membangun infrastruktur,” tulis Henri Subiakto.

Ia menambahkan bahwa loyalis fanatik kerap menganggap para kritikus sebagai orang sakit hati, seraya menempatkan Jokowi lebih unggul dibanding Prabowo melalui narasi yang terus digoreng oleh para buzzer.

Bom Waktu Utang Infrastruktur dan Penyanderaan Parpol

Henri memperingatkan bahwa kejayaan infrastruktur yang dibanggakan selama ini menyimpan racun ekonomi dan politik.

Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan bom waktu yang siap meledak saat tagihan utang negara jatuh tempo, sementara stabilitas politik yang semu merupakan hasil dari penyanderaan partai-partai politik.

“Sampai seolah kita semua harus menormalkan ketidakjujuran. Membiasakan adanya perilaku curang, hingga menerima strategi politik asal menang yang sudah dikondisikan. Padahal pembangunan infrastruktur yg ‘nampak sukses’ itu aslinya membawa bom waktu, saat tagihan tagihan hutang harus dibayarkan,” tegas Henri.

Ia juga menyoroti kerusakan fatal pada moral, etika demokrasi, serta ketergantungan ekstrem pada pihak asing yang diprediksi berkonsekuensi panjang memperburuk masa depan Indonesia.

Prabowo Tak Berani Putus Total: Isu Ijazah Sekadar Peluru Simpanan

Mengalihkan analisisnya kepada Presiden Prabowo Subianto, Henri menilai harapan publik agar Prabowo membenahi kebiasaan buruk warisan rezim sebelumnya berpotensi memicu kekecewaan.

Menurutnya, Prabowo masih terkesan ragu-ragu dan sulit memutus total pengaruh Jokowi karena dinamika saling membutuhkan.

“Sementara berharap pada Prabowo untuk memperbaikinya, malah bisa membuat frustrasi. Kenyataannya Prabowo sulit memutus total pengaruh Jokowi. Dia masih mengakomodir kepentingan Jokowi hingga hari ini,” jelasnya.

Henri menyoroti ketidaktegasan Prabowo dalam merespons skandal ijazah fiktif dan putusan MK yang sebenarnya telah melumpuhkan moral Jokowi dan Gibran.

“Isu ijazah dan putusan MK yg sangat melemahkan Jokowi Gibran dari sisi moral pun tidak direspon tegas oleh Prabowo. Seolah hanya jadi catatan dan simpanan peluru yang tidak harus terburu digunakan,” pungkas Henri Subiakto.

Analisis Henri Subiakto kian menegaskan bahwa Prabowo kini berada di persimpangan jalan: terus menyandera diri dalam skenario politik dinasti Solo, atau berani menembakkan “peluru simpanan” tersebut untuk mengeksekusi Pemakzulan Gibran demi memulihkan kedaulatan moral bangsa!

Artikel terkait lainnya