Sinyal Perang Dingin! Jokowi Disebut Siapkan Momentum Serang Prabowo, Program MBG Jadi Sasaran Tembak

DEMOCRAZY.ID — Tabir perang dingin di lingkaran tertinggi kekuasaan nasional kini benar-benar tersingkap telanjang.

Akademisi dan sosiolog terkemuka asal Indonesia yang kini berkarir di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, membongkar habis borok hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Joko Widodo (Jokowi) yang disebutnya sudah pecah dan berantakan total!

Sulfikar menyebut, meski kedua figur tersebut belum mengucapkannya secara terbuka di depan media, keretakan hubungan mereka sudah berada di titik kritis.

Jokowi diprediksi hanya tinggal menunggu momentum yang tepat untuk melancarkan serangan terbuka demi menghantam kepemimpinan Prabowo!

Sulfikar menelanjangi rencana manuver kubu Solo yang dinilainya bakal makin berani menguliti kebijakan-kebijakan strategis pemerintah.

Salah satu sasaran empuk yang bakal dijadikan peluru serangan oleh Jokowi adalah program andalan Prabowo, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Akan ada satu masa di mana Jokowi akan menyerang Prabowo secara terbuka,” ujar Sulfikar, dikutip Selasa (20/10/2026).

Menurut Sulfikar, Jokowi sejak awal tidak sepenuhnya sepakat dengan skema program MBG yang dinilainya tidak realistis, menjadi sarang korupsi, serta hanya sekadar bentuk pemborosan anggaran negara.

“Program MBG itu sangat tidak realistis, korupsi itu buang-buang duit dan sebagainya gitu,” tuturnya menirukan logika serangan kubu Solo.

Prabowo Dianggap Gagal: Narasi “Pemerintahan Masalah” Disiapkan!

Tak berhenti pada pembongkaran program MBG, Sulfikar memprediksi serangan Jokowi akan merembet ke ranah legitimentasi kepemimpinan.

Mantan penguasa Solo itu diperkirakan bakal melemparkan narasi publik bahwa di bawah kendali Prabowo, Indonesia justru terperosok ke dalam berbagai krisis dan kegagalan.

“Oh iya, akan ada satu masa di mana dia akan mengatakan bahwa kepemimpinan Prabowo itu cuma menghasilkan masalah,” tegas Sulfikar.

Gestur Dingin di HUT TNI: Prabowo Tolak Salaman, Lebih Memilih SBY!

Sinyal perang dingin ini makin tak terbantahkan lewat bahasa tubuh dan gestur politik kedua tokoh.

Sulfikar menyoroti momen krusial saat peringatan Hari Ulang Tahun TNI beberapa waktu lalu, di mana Prabowo secara terang-terangan sengaja melewati Jokowi tanpa berjabat tangan.

Prabowo justru memilih menyalami dan asyik mengobrol dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tepat di hadapan mata Jokowi!

“Memang itu kan Pak Prabowo sudah hard feeling tuh kalau menurut saya. Menolak untuk berjabat tangan itu kan sebuah indikasi ada kondisi yang sedang tidak nyaman di antara dua orang ini,” ungkap Sulfikar.

Jangan Terjebak Skenario Elit: Fokus Selamatkan Bangsa dari Dinasti!

Meski persaingan dua elit ini makin memanas, Sulfikar mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dan terjebak hanya menjadi penonton pertikaian mereka.

Publik diminta untuk tetap kritis memantau arah penyelamatan negara dari cengkeraman dinasti dan oligarki, serta mendorong konsolidasi figur-figur alternatif yang benar-benar mau bekerja keras menyelesaikan tumpukan masalah nasional.

Dinamika penolakan jabat tangan hingga ancaman serangan balik dari Solo menjadi bukti nyata bahwa panggung kompromi politik Prabowo-Jokowi telah berakhir.

Perang terbuka kini tinggal menunggu hitungan hari!

Artikel terkait lainnya