

DEMOCRAZY.ID – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, kembali melontarkan kritik terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam video berjudul “Fakta Pembangunan IKN Mubazir” yang diunggah melalui kanal YouTube @MSaidDidu pada 25 Juli 2026, ia menilai proyek IKN berpotensi menjadi beban keuangan negara dan mengusulkan agar kawasan tersebut segera dimanfaatkan agar anggaran yang telah dikeluarkan tidak terbuang sia-sia.
Didu mengaku baru saja mengunjungi kawasan IKN di Kalimantan Timur.
Dalam kunjungan tersebut, ia mengatakan tidak lagi menemukan tenda atau lokasi berkemah yang sebelumnya pernah digunakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
“Saya berharap Pak Jokowi bisa berkemah lagi di IKN,” ujarnya.
Menurut Didu, hingga kini masih terdapat pertanyaan mengenai sumber pembiayaan pembangunan IKN.
Ia menilai harapan masuknya investasi swasta yang selama ini disampaikan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi.
“Saya tidak tahu sumber pembiayaan Ibu Kota Nusantara dari mana. Investor-investor yang dijanjikan masuk sepertinya hanya janji-janji surga,” katanya.
Didu juga menegaskan dirinya tidak sependapat apabila fasilitas-fasilitas publik di IKN dibangun menggunakan dana swasta.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi membuat negara bergantung pada pemilik modal.
“Kalau diizinkan, yang bisa terjadi pemerintah nanti menyewa gedung-gedung milik perusahaan di ibu kota negara ini kepada pihak swasta atau bahkan pihak asing. Sementara gedung-gedung yang ada di Jakarta dijual kepada swasta. Artinya kita pindah ke ibu kota baru tetapi menyewa aset milik swasta,” ujarnya.
Karena itu, Didu berpendapat seluruh fasilitas umum di IKN semestinya dibiayai melalui APBN.
Namun, menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini tidak cukup longgar untuk membiayai pembangunan IKN secara cepat.
“Kalau dipaksakan, sementara defisit harus ditekan dan beban utang besar sekali, cicilan utang tahun depan menurut perkiraan saya mencapai Rp1.000 triliun. Alternatif penghematan untuk membiayai negara harus mencari dana sekitar Rp500 triliun. Itu artinya pasti akan banyak sekali kepentingan rakyat yang dikorbankan,” katanya.
Dalam pandangan Didu, proyek IKN yang disebutnya sebagai proyek ambisius pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo kini telah menghabiskan dana rakyat sekitar Rp100 triliun.
Ia juga memperkirakan biaya pemeliharaan dan penyusutan kawasan tersebut dapat mencapai sekitar Rp10 triliun per tahun.
Agar anggaran yang telah dikeluarkan tidak menjadi mubazir, Didu mengusulkan dua langkah.
Pertama, memindahkan Wakil Presiden, 17 menteri yang berasal dari kabinet era Presiden Joko Widodo, serta DPR dan DPD agar berkantor di IKN.
Kedua, menjadikan IKN sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur apabila perpindahan ibu kota negara tidak berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, pemerintah melalui Otorita IKN menyatakan pembangunan Tahap II terus berjalan dan menargetkan IKN menjadi ibu kota politik pada 2028.
Pendanaan pembangunan disebut berasal dari kombinasi APBN, investasi swasta, dan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).