Menguak Pesan Terselubung di Balik Meja Jokowi dan Gibran: Sinyal Keras Lawan ‘Isu Pemakzulan’?

DEMOCRAZY.ID — Penampilan bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tengah derasnya desakan pemakzulan mendapat sorotan tajam dari para pengamat politik.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menilai aksi pamer kemesraan ayah dan anak tersebut merupakan sinyal dukungan politik yang sengaja dipertontonkan untuk melindungi Gibran yang kian terdesak.

Jokowi dan Gibran terlihat hadir bersama dan duduk satu meja dalam acara pernikahan anak Ketua Umum Relawan Militan 08 Gibran Nusantara di Jakarta.

Ray menegaskan bahwa gestur ini bukan sekadar menghadiri hajatan biasa, melainkan operasi simbolis untuk membendung gelombang tuntutan mundur dan pengguliran Hak Angket di DPR RI.

Ray Rangkuti: Jokowi Mau Mengatakan Gibran Adalah Saya, Saya Adalah Gibran!

Ray Rangkuti menjelaskan bahwa penampilan publik tersebut secara sengaja dirancang untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa Jokowi berdiri pasang badan mengawal posisi putranya.

Dukungan ini sengaja dipamerkan secara terbuka ketika legitimasi posisi Gibran tergerus hebat pasca-skandal putusan MK dan pembongkaran ijazah fiktif.

“Ketika Saudara Gibran berhadapan dengan berbagai tuntutan untuk mundur dan saya menuntut supaya dimajukan ke angket, maka ditunjukkan lah bahwa Pak Jokowi berada di sampingnya,” tegas Ray Rangkuti dalam Kompas Petang KompasTV.

Ray menelanjangi pesan implisit di balik penampilan duet Istana Solo tersebut.

Menurutnya, kehadiran fisik Jokowi di samping Gibran bertujuan mengirimkan sinyal tegas kepada publik dan peta politik nasional.

“Jadi bukan hanya di belakangnya, tetapi di sampingnya. Itu artinya Pak Jokowi mau mengatakan Gibran itu adalah saya, saya adalah Gibran,” ujar Ray Rangkuti.

Memoles Gibran Menggunakan Popularitas Jokowi yang Kian Terkikis

Lebih lanjut, Ray menilai bahwa langkah menyandingkan Jokowi dan Gibran merupakan upaya tameng politik untuk mendongkrak kepercayaan publik kepada Gibran.

Publik selama ini mengetahui bahwa daya tarik elektoral berada pada sosok Jokowi, sementara Gibran hanyalah produk karbitan yang menumpang popularitas sang ayah.

“Kan kesukaan publik kepada Pak Jokowi, bukan kepada Gibran. Jadi kalau misalnya Pak Jokowi terus berdampingan dengan Gibran, publik diharapkan akan membaca bahwa Pak Jokowi itu tetap bersama Gibran,” kata Ray Rangkuti.

Namun, manuver pamer kekompakan ini dinilai para pengamat justru menegaskan kepanikan dinasti Solo.

Upaya berlindung di balik ketiak Jokowi tidak akan mampu menghentikan proses hukum sengketa administrasi di PTUN maupun lajuPanitia Khusus Hak Angket di DPR RI yang siap melucuti kursi wakil presiden Gibran!

Artikel terkait lainnya