PDIP Jadikan Pengkhianatan Jokowi dan Keluarganya Sebagai ‘Case Study’ Utama di Sekolah Partai!

DEMOCRAZY.ID — DPP PDI Perjuangan (PDIP) kembali melancarkan serangan verbal mematikan untuk melibas habis tudingan relawan loyalis mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

PDI Perjuangan menegaskan telah lama membuang trah Istana Solo dari ingatan organisasi dan tidak lagi menganggap keluarga tersebut memiliki relevansi politik.

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus mengungkapkan bahwa nama Jokowi kini tidak lebih dari sekadar materi pembelajaran di Sekolah Partai—sebuah contoh konkret studi kasus (case study) pengkhianatan politik bagi para kader muda banteng.

Deddy Sitorus: Jokowi Hanya Bahan Studi Kasus Pengkhianatan di Sekolah Partai!

Deddy Sitorus menepis mentah-mentah narasi bahwa partainya masih belum move on dari Pilpres 2024 atau mendatangkan dendam kesumat kepada lingkaran Solo.

Ia menegaskan bahwa proses pemecatan resmi terhadap Jokowi dan keluarganya telah menutut rapat lembaran sejarah masa lalu.

“PDI Perjuangan sudah lama move on dari urusan pilpres. Jokowi dan keluarganya sudah lama dipecat dari keanggotaan PDI Perjuangan. Jokowi dan keluarganya tidak pernah sekalipun jadi bahan diskusi internal, kecuali dalam sekolah partai di mana kasus pengkhianatan mereka dijadikan bahan case study bagi kader-kader muda,” tegas Deddy Sitorus, Senin (26/10/2026).

Menjadikan manuver politik trah Solo sebagai materi kurikulum studi kasus pengkhianatan dilakukan agar seluruh jajaran akar rumput dan kader muda PDIP waspada terhadap figur-figur karbitan yang dibesarkan oleh rahim partai, namun berbalik menikam instruksi ideologis demi ambisi kekuasaan dinasti.

Skakmat Fokus Elektoral: Pilpres Berikutnya Sudah di Depan Mata

Deddy menambahkan bahwa energi dan infrastruktur politik PDI Perjuangan saat ini sepenuhnya dialokasikan untuk menatap agenda politik strategis ke depan, alih-alih meratapi rekam jejak kader yang telah membelot.

“Pilpres sudah lama berlalu, pilpres berikutnya sudah di depan mata,” kata Deddy menepis klaim emosional loyalis Solo.

Pernyataan menohok ini sekaligus meretakkan pembelaan Ketua Umum Relawan Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan, yang sebelumnya mencoba menggiring opini bahwa seluruh kritik publik dan tudingan kecurangan berkas Gibran berakar dari kebencian personal PDIP.

“Kita paham kalau kita bicara mereka pasti sangat membenci Pak Jokowi dan Mas Gibran,” oceh Andi Azwan membela majikannya.

Isolasi Politik Dinasti Solo Kian Sempurna

Pelabelan formal “bahan studi kasus pengkhianatan” oleh PDIP semakin memperjelas pengasingan politik terhadap Jokowi dan Gibran.

Di saat status Gibran sebagai Wakil Presiden terus digoyang oleh gugatan pencemaran administrasi di PTUN serta desakan Panitia Khusus Hak Angket di DPR RI, PDIP justru mempertegas jarak bahwa rezim dinasti tersebut adalah sampah politik yang telah selesai.

Trah Istana Solo kini benar-benar terisolasi, ditinggalkan oleh partai pendukung utamanya, dan dipaksa menghadapi ancaman pemakzulan tanpa ada lagi benteng politik yang bersedia melindungi mereka!

Artikel terkait lainnya