DEMOCRAZY.ID — Pengakuan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali mengaku terkejut melihat tingkat “kerusakan” stadium akhir di republik ini pasca-menduduki kursi kepresidenan memicu sorotan tajam para pengamat.
Negara, yang selama ini dibungkus narasi kemajuan gemilang, ternyata menyimpan borok akut di balik layar.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai keterkejutan sang kepala negara sejatinya bukanlah hal yang sepenuhnya baru bagi seorang Prabowo secara konseptual.
Namun, skala kehancuran riil yang langsung terpampang di atas meja kekuasaan melampaui perkiraan semula.
“Artinya, Indonesia salah urus atau salah arah, Prabowo sudah tahu sejak lama,” ungkap Erizal, Selasa (21/7/2026).
Indikasi tersebut bahkan pernah ditegaskan secara terbuka oleh Prabowo di hadapan publik saat menghadiri acara Pemilihan Ketua Umum HIPMI di Lampung beberapa waktu lalu.
Di hadapan para pengusaha muda tersebut, Prabowo menceritakan bahwa sinyal penyimpangan arah bangsa ini sudah terbaca olehnya semenjak era 1990-an silam.
Kendati telah lama mengendus arah kemudi bangsa yang melenceng, realisasi di lapangan justru membuat sang petahana terperangah.
Erizal menyebut, ribuan triliun rupiah kekayaan negara terbukti mengalir deras ke luar negeri tanpa ada instrumen penahan yang efektif.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana tata kelola kekayaan alam Indonesia mengalami distorsi parah, seolah-olah dibiarkan tanpa pengawalan di tanah sendiri.
“Perampokan SDA terjadi secara masif seperti negeri tak bertuan,” tegas Erizal.
Lebih lanjut, ia menyoroti keheranan mendalam yang dirasakan oleh Prabowo melihat kebungkaman masif dari berbagai elemen pengampu kekuasaan maupun intelektual terhadap mega-skandal penjarahan kekayaan alam tersebut.
“Prabowo heran tidak ada yang berteriak soal ini. Entah tak berani, tak tahu-menahu, atau justru jadi bagian,” sambungnya.
Kenyataan pahit berupa puing-puing kehancuran ekonomi dan struktural inilah yang diyakini bakal menjadi titik nadir perpisahan haluan antara Prabowo Subianto dan pendahulunya, Joko Widodo.
Ketika fondasi negara digerogoti demi kepentingan jangka pendek segelintir pihak, prioritas Istana masa lalu dinilai justru bergeser jauh dari kepentingan mayoritas rakyat.
“Bisa jadi inilah salah satu alasan, kalau nanti Presiden Prabowo berpisah jalan dengan Jokowi, karena Jokowi terlihat hanya memikirkan masa depan anak-anaknya, ketimbang memikirkan masa depan generasi mendatang,” pungkas Erizal.