Amien Rais Bongkar Watak Asli: Jokowi Haus dan Lapar Kekuasaan Tanpa Batas!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais, kembali melontarkan kritik keras terhadap dinamika politik yang melibatkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Amien menilai sejumlah manuver politik yang dikaitkannya dengan Jokowi berpotensi menimbulkan persoalan serius jika terus berkembang.

Mantan Ketua MPR RI itu bahkan mengingatkan kemungkinan munculnya gejolak politik di tengah masyarakat.

Ia menyebut situasi tersebut dapat berkembang menjadi gerakan people power seperti yang terjadi pada 1998.

Pernyataan itu disampaikan Amien saat membahas isu kekuasaan, wacana percepatan Pemilihan Presiden (Pilpres), hingga posisi sejumlah pejabat tinggi negara.

Amien secara terbuka meminta Jokowi mempertimbangkan konsekuensi dari langkah-langkah politik yang menurutnya terus dilakukan.

“Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya,” ujar Amien dikutip Kamis (10/9/2026).

Amien kemudian melontarkan penilaian tajam mengenai Jokowi.

Menurut dia, Jokowi merupakan figur politik yang memiliki ambisi kekuasaan besar.

“Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas,” katanya.

Amien meyakini Jokowi tidak akan berhenti memainkan peran politik selama masih memiliki peluang untuk mempertahankan pengaruh.

“Dalam konteks ini, Jokowi saya yakin sosok yang tidak akan pernah berhenti mengejar kekuasaan kecuali kalau nanti sudah makan tanah,” ujarnya.

Amien kemudian mengaitkan pandangannya dengan posisi Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat Wakil Presiden.

Ia menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang ingin tetap memiliki kendali terhadap arah politik nasional dan mendorong keluarganya berada di posisi strategis.

“Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan, pokoknya dengan segala cara halal atau haram tujuan politik saya harus tercapai,” tutur Amien.

Tokoh reformasi 98 itu juga menyoroti pernyataan Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan Pilpres 2029 dipercepat.

Menurut Amien, pernyataan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang patut dicermati.

“Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya rasa itu sangat mengerikan,” katanya.

Budi Arie kemudian menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya menuai perhatian.

Namun, Amien menilai klarifikasi tersebut tidak menghapus kecurigaannya.

“Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” ujar Amien.

Pernyataan mengenai adanya “makar besar” tersebut merupakan tudingan Amien dan bukan kesimpulan yang telah dibuktikan secara hukum.

Amien kemudian memperingatkan agar dinamika politik tidak berkembang menjadi konflik yang sulit dikendalikan.

Menurutnya, kondisi dapat menjadi semakin rumit apabila terjadi rekayasa politik dan eskalasi di tengah masyarakat.

“Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin geruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali,” katanya.

Amien lantas mengaitkannya dengan sejarah gerakan massa yang berujung pada perubahan politik pada 1998.

“Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar,” ujar Amien.

Istilah people power sebelumnya juga pernah digunakan Amien dalam konteks dinamika politik Indonesia.

Dalam penjelasannya kala itu, istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai perang atau perkelahian antarsesama anak bangsa.

Kritik Amien tidak hanya diarahkan kepada Jokowi.

Ia juga mempertanyakan sikap Presiden Prabowo Subianto terkait posisi Kapolri dan Panglima TNI.

Amien mempertanyakan mengapa Prabowo, yang disebutnya telah hampir dua tahun memimpin pemerintahan, belum mengganti kedua pejabat tersebut.

“Pertanyaan besar dan mendasar saya adalah mengapa Presiden Prabowo yang sudah hampir dua tahun berkuasa tidak berani mengganti Kapolri dan Panglima TNI,” tegasnya.

Amien kemudian menyampaikan penilaiannya terhadap kedua pimpinan institusi tersebut.

“Dua tokoh kita ini menurut saya, ya saya bisa keliru, lahir batin hidup mati demi Jokowi,” tuturnya.

Ia lantas mengkritik keras Prabowo dengan mengaitkan persoalan tersebut dengan loyalitas politik.

“Nah jangan sampai kita melihat paradoks Prabowo, omongannya galak-galak berjuang untuk bangsa, mati demi bangsa dan negara, jebul hidup dan mati untuk gurunya yang tidak punya ijazah asli, SD-SD, SMP, SMA, dan ijazah S1, terus berkelanjutan,” katanya.

Pernyataan tersebut kembali merupakan pandangan dan tudingan Amien yang disampaikan dalam kritik politiknya.

Amien menilai Jokowi masih memiliki dorongan kuat untuk mempertahankan pengaruh politiknya.

Ia bahkan menyebut situasi tersebut belum mencapai titik jenuh.

“Apakah Jokowi sudah edan? Jokowi tidak edan tetapi nekat dan kenekatannya belum sampai titik saturasi. Titik jenuh belum, masih terus-terus berpencaksilat politik yang berbahaya buat kelanjutan Indonesia,” kata Amien.

Meski melontarkan kritik keras, Amien mengatakan tetap menghargai pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Ia juga menyerukan agar demokrasi tetap dijaga.

Namun, Amien mengusulkan apa yang disebutnya sebagai agenda “dijokowisasi”.

“Nah, saudara-saudara yang berpendapat lain, tetap saya hargai. Kita hidupkan terus demokrasi, tetapi dijokowisasi harus kita jadikan agenda politik demi masa depan bangsa dan negara Indonesia,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya