Skandal Ijazah Jokowi Kian Memanas! Senior UGM Bongkar Fakta Skripsi dan Percetakan Era 1980-an

DEMOCRAZY.IDPolemik keaslian ijazah dan skripsi Joko Widodo atau Jokowi kembali menjadi sorotan.

Selama sekitar dua tahun terakhir, berbagai tuduhan beredar di media sosial hingga mempertanyakan status akademik Presiden ke-7 Republik Indonesia itu sebagai lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun, tudingan tersebut dibantah oleh sejumlah pihak dari lingkungan Fakultas Kehutanan UGM yang mengenal Jokowi secara langsung.

Ketua Senat Fakultas Kehutanan UGM San Afri Awang bahkan menilai informasi yang mempertanyakan keaslian dokumen akademik Jokowi telah berkembang terlalu jauh.

San Afri merupakan kakak angkatan Jokowi saat sama-sama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM.

Ia mengatakan, sejumlah analisis yang digunakan untuk meragukan skripsi Jokowi justru tidak sesuai dengan kondisi teknologi pada era 1980-an.

Salah satu yang dipersoalkan adalah penggunaan jenis huruf Times New Roman pada sampul dan dokumen skripsi.

Bagi San Afri, persoalan tersebut bukan sesuatu yang janggal.

Ia mengaku mengalami sendiri penggunaan teknologi komputer dan jasa percetakan di sekitar kampus UGM ketika masih menjadi mahasiswa.

“Saya masih ingat waktu saya buat cover (skripsi), lari ke Prima. Di zaman itu sudah ada tempat cetak sampul yang terkenal, Prima dan Sanur,” kata San Afri, dikutip dari situs resmi UGM, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, komputer bahkan sudah mulai digunakan untuk berbagai keperluan mahasiswa.

Di sekitar UGM, kata San Afri, telah tersedia jasa pengetikan menggunakan komputer IBM PC.

Ia sendiri pernah memanfaatkan komputer tersebut untuk mengolah data statistik.

“Jangan heran di sekitar UGM juga sudah ada jasa pengetikan menggunakan komputer IBM PC. Saya sempat pakai buat mengolah data statistik,” ujarnya.

Tak Semua Mahasiswa Pakai Komputer

San Afri juga mengingatkan bahwa kondisi mahasiswa pada masa itu tidak bisa disamakan dengan sekarang.

Ketersediaan komputer belum merata. Faktor ekonomi juga membuat sebagian mahasiswa tetap mengandalkan mesin ketik.

Menurut dia, ada mahasiswa Fakultas Kehutanan yang membuat sampul dan lembar pengesahan skripsi menggunakan mesin ketik.

“Kawan saya yang secara ekonomi tidak mampu, banyak yang membuat lembar sampul dan pengesahan dengan mesin ketik,” tuturnya.

Karena itu, San Afri mempertanyakan dasar analisis yang menjadikan persoalan font dan proses pembuatan skripsi sebagai alasan untuk meragukan dokumen akademik Jokowi.

Ia menyayangkan masih ada pihak yang menyerang UGM dengan menyebut ijazah dan skripsi Jokowi palsu.

San Afri menilai informasi tersebut telah berkembang menjadi tuduhan yang semakin liar karena dibumbui analisis yang tidak sesuai dengan pengalaman mahasiswa pada masa itu.

“Dia (Joko Widodo) lulus dari sini dan buktinya ada kok,” kata San Afri.

Teman Seangkatan: Ijazah Jokowi Bisa Dibandingkan

Kesaksian lain datang dari Frono Jiwo, teman seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM.

Frono mengaku prihatin melihat informasi di media sosial yang mempertanyakan keaslian ijazah dan skripsi Jokowi.

Ia mengatakan memiliki ijazah dari periode yang sama dan menemukan kesamaan pada tampilan dokumen tersebut dengan ijazah Jokowi.

Menurut Frono, ijazahnya menggunakan jenis huruf yang sama serta ditandatangani oleh Rektor UGM Prof. T Jacob dan Dekan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.

Perbedaannya, kata Frono, hanya terletak pada nomor kelulusan yang tercantum pada ijazah masing-masing.

“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujar Frono.

Skripsi Satu Angkatan Diketik dengan Mesin Ketik

Frono juga memberikan gambaran mengenai proses pembuatan skripsi pada masa mereka kuliah.

Menurut dia, mahasiswa satu angkatannya masih menggunakan mesin ketik untuk mengerjakan isi skripsi.

Sementara itu, untuk pembuatan sampul, lembar pengesahan, dan penjilidan, mahasiswa umumnya menggunakan jasa percetakan.

“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa,” katanya.

“Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” lanjut Frono.

Kesaksian tersebut memberikan gambaran bahwa penggunaan mesin ketik, komputer, dan jasa percetakan pada masa itu berlangsung bersamaan di lingkungan mahasiswa UGM.

Dengan demikian, menurut San Afri dan Frono, aspek teknis seperti jenis font maupun cara mencetak dokumen tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan keaslian atau ketidakaslian ijazah dan skripsi seseorang.

Polemik mengenai dokumen akademik Jokowi pun kembali bergulir, kali ini dengan kesaksian dari orang-orang yang mengaku mengalami langsung kehidupan akademik di Fakultas Kehutanan UGM pada periode yang sama.

Artikel terkait lainnya