DEMOCRAZY.ID – Peta persaingan menuju Pilpres 2029 diprediksi bakal jauh lebih kompleks dibandingkan kontestasi 2024.
Pengamat politik Hendri Satrio menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu figur yang patut diperhitungkan jika bursa calon presiden mulai mengerucut.
Hendri bahkan menyebut Gibran berpotensi menjadi salah satu calon presiden terkuat pada 2029, terutama jika Presiden Prabowo Subianto kembali maju untuk periode kedua.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan Prabowo dan Gibran tidak kembali berpasangan seperti pada Pilpres 2024.
“Calon-calonnya banyak. 2029 ini kayaknya enggak cuma Prabowo-Gibran. Mas Gibran sendiri ya calon presiden terkuat, menurut saya, selain Prabowo,” kata Hendri, dikutip Kamis (8/9/2026).
Menurut Hendri, posisi Gibran sebagai wakil presiden memberikan modal politik yang berbeda dibandingkan ketika ia maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.
Selama menjabat hingga 2029, Gibran berpeluang membangun rekam jejak pemerintahan sekaligus memperkuat basis politiknya sendiri.
Modal tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan apabila Gibran nantinya memilih maju sebagai calon presiden.
Namun, konfigurasi Pilpres 2029 masih sangat terbuka.
Arah koalisi, elektabilitas tokoh, dinamika pemerintahan, serta hubungan antarpartai masih dapat berubah sebelum tahapan pencalonan berlangsung.
Selain Prabowo dan Gibran, Hendri melihat PDI Perjuangan memiliki sejumlah figur yang berpotensi masuk dalam persaingan Pilpres 2029.
Beberapa nama yang disebut antara lain Ganjar Pranowo, Puan Maharani, dan Pramono Anung.
Hendri juga tidak menutup kemungkinan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali maju dalam kontestasi lima tahunan tersebut.
“PDI-P juga tidak pernah kekurangan kader. Ada Mas Ganjar, Mbak Puan, dan yang paling kuat kan Mas Pramono. Dan bisa jadi nanti adalah Megawati Soekarnoputri ‘The Last Dance’,” ujar Hendri.
Dengan banyaknya nama potensial, Hendri menilai persaingan menuju Pilpres 2029 tidak dapat dipetakan hanya sebagai pertarungan antara Prabowo dan satu kandidat tertentu.
Konfigurasi politik juga sangat mungkin berubah seiring perkembangan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam beberapa tahun ke depan.
Kekuatan Gibran Tak Lepas dari JokowiHendri juga melihat kekuatan politik Gibran tidak dapat dipisahkan dari sosok Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, pengalaman Jokowi dalam politik dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perjalanan politik Gibran menuju 2029.
“Jokowi itu orang yang sangat cerdas di politik. Dia paham strategi politik, dia paham momentum politik. Itu kelebihan seorang Jokowi,” kata Hendri.
Meski demikian, pengaruh Jokowi terhadap peta politik 2029 tetap akan bergantung pada perkembangan politik nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi lain, Gibran masih memiliki waktu untuk membangun rekam jejak selama menjalankan tugas sebagai wakil presiden.
Kinerja pemerintahan hingga 2029 akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi tingkat penerimaan publik terhadap dirinya.
Prediksi Gibran sebagai salah satu kandidat kuat Pilpres 2029 juga dihadapkan pada tantangan tingkat kepuasan publik.
Survei Arus Survei Indonesia (ASI) yang bertajuk Evaluasi Kinerja dan Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo mencapai 57,6 persen.
Sementara kepuasan terhadap Gibran berada di angka 40,1 persen.
Direktur Eksekutif ASI Ali Rif’an mengatakan 57,6 persen responden mengaku puas terhadap kinerja Prabowo.
Angka tersebut terdiri dari 9 persen sangat puas dan 48,6 persen cukup puas.
“Sebanyak 57,6 persen masyarakat mengaku puas dengan kinerja Presiden Prabowo,” kata Ali, Senin (7/9/2026).
Adapun tingkat ketidakpuasan terhadap Prabowo mencapai 40,6 persen.
Sebanyak 34 persen responden menyatakan kurang puas dan 6,6 persen sangat tidak puas.
Sementara untuk Gibran, tingkat kepuasan publik tercatat 40,1 persen.
Rinciannya, 4,1 persen responden menyatakan sangat puas dan 36 persen cukup puas.
Sebaliknya, tingkat ketidakpuasan terhadap kinerja Gibran mencapai 54,4 persen.
Angka tersebut terdiri dari 39,7 persen kurang puas dan 14,7 persen sangat tidak puas.
Ali menilai terdapat perbedaan cukup mencolok antara tingkat kepuasan terhadap presiden dan wakil presiden.
“Sejauh yang saya cermati, ini termasuk interval tertinggi antara kepuasan Presiden dan Wapres RI,” ujar Ali.
Perbedaan tingkat kepuasan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi Gibran apabila nantinya benar-benar diproyeksikan sebagai calon presiden.
Namun, perjalanan menuju 2029 masih menyisakan waktu cukup panjang.
Selama periode tersebut, Gibran masih memiliki kesempatan memperkuat rekam jejak pemerintahan dan meningkatkan penerimaan publik.
Karena itu, prediksi Hendri Satrio mengenai Gibran sebagai salah satu calon presiden terkuat masih merupakan proyeksi politik dan sangat mungkin berubah mengikuti dinamika nasional.
Jika Prabowo kembali maju pada 2029 dan Gibran memilih membangun jalur politiknya sendiri, Pilpres 2029 berpotensi menghadirkan konfigurasi berbeda dari Pilpres 2024.
Dalam skenario tersebut, Prabowo dan Gibran bahkan berpeluang berada di sisi berbeda dalam pertarungan menuju kursi kepresidenan.