Sentilan Tajam Rizal Fadillah: Safari Jokowi di Bandung Hingga Bekasi Sepi Peminat, Mahkota Raja PSI Retak!

DEMOCRAZY.ID – Safari politik Joko Widodo (Jokowi) ke Bandung dan Bekasi yang diharapkan menjadi panggung kebangkitan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) justru menuai kritik tajam.

Pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah menilai kunjungan mantan Presiden RI tersebut tidak memperlihatkan antusiasme masyarakat sebagaimana yang selama ini digambarkan oleh para pendukungnya.

Dalam tulisan opini bertajuk kritik terhadap safari politik Jokowi yang diterima pada Selasa (29/9/2026), Rizal menyebut kehadiran Jokowi di Bandung dan Bekasi lebih menyerupai agenda internal partai ketimbang peristiwa politik yang mampu menggerakkan massa.

Menurut dia, Jokowi yang dahulu identik dengan sambutan meriah kini justru tampil dalam ruang politik yang semakin terbatas.

Kehadirannya, kata Rizal, hanya disambut kader dan peserta Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI tingkat kota.

“Safari yang disangkanya heroik datang ke Bandung dan Bekasi ternyata cuma bisa pamer kartu PSI. Alih-alih disambut hangat oleh masyarakat, Jokowi ternyata cuma diteriaki kader peserta Rakorda tingkat Kota,” tulis Rizal.

Ia bahkan menyindir bahwa mantan Presiden tersebut kini tidak lagi memiliki daya tarik politik seperti sebelumnya.

“Mantan Presiden hanya setara dengan Ketua DPD yang memberi sambutan. Tidak ada kharisma, tidak ada gegap gempita, tidak ada apa-apa,” ujarnya.

Rizal juga menyoroti sikap sejumlah aktivis yang sebelumnya berencana menggelar demonstrasi untuk menolak kehadiran Jokowi.

Menurut dia, sebagian aktivis justru merasa tidak perlu lagi mengerahkan energi untuk memprotes safari tersebut.

Ia menafsirkan sikap itu sebagai gambaran bahwa Jokowi tidak lagi memiliki pengaruh sebesar masa ketika masih menjabat sebagai Presiden.

“Jokowi sudah kecil dan harus dibuat sepi. Angin Bandung pun enggan untuk mendekat. Api Bandung tidak perlu membakarnya, Jokowi sudah terbakar oleh kepalsuan dan kebodohannya sendiri,” tulisnya dengan nada satir.

Rizal juga menyebut kartu PSI yang diacungkan Jokowi sebagai simbol yang justru dapat menjadi bumerang bagi masa depan politik keluarga mantan Presiden tersebut.

Dalam pandangannya, ambisi politik Jokowi untuk membangun kekuatan melalui PSI menghadapi tantangan serius, terutama ketika berbagai persoalan yang menyangkut dirinya dan keluarganya terus menjadi perdebatan publik.

Persoalan ijazah Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menjadi sorotan Rizal.

Ia menilai polemik mengenai latar belakang pendidikan keduanya berpotensi memengaruhi legitimasi moral dan kepercayaan publik terhadap keluarga mantan Presiden tersebut.

Rizal bahkan melontarkan tudingan mengenai keaslian dokumen pendidikan yang digunakan Jokowi dalam perjalanan politiknya, mulai dari pencalonan sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI.

Namun, tudingan tersebut merupakan pandangan dan klaim Rizal dalam tulisannya, bukan kesimpulan hukum yang telah dibuktikan melalui putusan pengadilan.

Ia juga mengaitkan polemik pendidikan Gibran dengan kemungkinan terbukanya kembali perdebatan mengenai dokumen akademik Jokowi.

“Ketika Gibran sulit menghindar dari kecacatan akademiknya, maka borok akademik Jokowi akan segera terbuka,” tulisnya.

Rizal turut menyindir kebakaran di kawasan Pasar Pramuka yang ia kaitkan dengan dugaan upaya menghilangkan jejak pemalsuan.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari kritik politiknya, meskipun tidak disertai bukti yang dapat memastikan adanya hubungan antara peristiwa kebakaran dan dugaan pemalsuan dokumen.

Dalam tulisannya, Rizal turut menyinggung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM yang sebelumnya kerap disebut-sebut dalam spekulasi politik menuju Pilpres 2029 bersama Gibran.

Ia menyindir bahwa KDM tidak terlihat mendekat kepada Jokowi dalam safari politik di Bandung.

Rizal menafsirkan situasi tersebut sebagai gambaran adanya kehati-hatian politik di tengah sorotan publik terhadap mantan Presiden.

“Bandung adalah ladang pembantaian bagi Jokowi. KDM sang Gubernur yang digadang-gadang berpaket dengan Gibran untuk Pilpres 2029 pun ternyata sembunyi takut dipotret publik ada di dekatnya,” tulis Rizal.

Pernyataan tersebut merupakan interpretasi Rizal dan tidak disertai konfirmasi langsung dari Dedi Mulyadi mengenai alasan kehadirannya atau ketidakhadirannya dalam agenda tersebut.

Rizal juga membandingkan safari Jokowi di Bandung dan Bekasi dengan sejumlah kunjungan politik lainnya, termasuk di Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Cirebon.

Ia menyebut rangkaian kegiatan tersebut belum memperlihatkan keberhasilan membangun kembali daya tarik politik Jokowi.

Dalam kritiknya, Rizal bahkan menyebut sejumlah agenda itu lebih banyak berlangsung dalam lingkup terbatas dan menghadapi respons yang tidak selalu sesuai harapan.

Pernyataan mengenai PSI yang akan menjadi partai besar juga tidak luput dari sindirannya.

“Teriakan bahwa PSI akan jadi partai besar, besar dari Hong Kong, bro,” tulisnya.

Rizal kemudian melontarkan satire terhadap kepemimpinan Kaesang Pangarep di PSI, posisi Gibran sebagai Wakil Presiden, serta peran Jokowi dalam membangun kekuatan politik keluarga.

Menurut dia, upaya Jokowi untuk memperluas pengaruh melalui partai-partai politik lain juga tidak berjalan sesuai harapan.

Setelah dikaitkan dengan dinamika internal PDIP dan Golkar, Jokowi kini dinilai lebih memilih membangun kekuatan melalui PSI yang dipimpin putranya sendiri.

“Jokowi ingin menguasai PDIP ternyata tidak berhasil, merebut Golkar melalui Bahlil juga nihil, kini acung kartu PSI partai anaknya sendiri. Lumayan nyicil,” sindirnya.

Pada bagian akhir tulisannya, Rizal menggambarkan masa depan politik Jokowi dengan nada pesimistis.

Ia menghubungkan kelangsungan pengaruh mantan Presiden tersebut dengan nasib politik Gibran dan berbagai persoalan hukum yang masih menjadi perhatian publik.

Rizal menyebut kemungkinan Gibran menghadapi persoalan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan Jokowi berhadapan dengan proses hukum sebagai gambaran risiko politik yang menurutnya dapat menimpa keluarga tersebut.

Ia menutup tulisannya dengan refleksi mengenai kekuasaan yang tidak pernah abadi dan ambisi politik yang dapat berujung pada kejatuhan.

“Safari sepi, Jokowi bakal menuai tragedi. Tidak ada kekuasaan yang abadi, meski ia terus mencari dan mencari,” tulisnya.

Rizal kemudian menyimpulkan kritiknya dengan kalimat yang menggambarkan kontras antara kekayaan materi dan kualitas moral seorang pemimpin.

“Kisah tragedi memang menyayat hati. Apalagi kepada Jokowi yang kaya materi tapi miskin nurani dan empati.”

Artikel terkait lainnya