DEMOCRAZY.ID — Nasib politik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di masa depan ternyata digantungkan sepenuhnya pada satu pertaruhan besar: ambisi sang putra sulung, Wakil Penguasa Istana saat ini, Gibran Rakabuming Raka.
Pengamat politik kenamaan, Rocky Gerung, secara blak-blakan menilai bahwa kursi kepresidenan pada Pilpres 2029 mendatang adalah satu-satunya perisai pelindung mati-matian bagi Jokowi dari gelombang jeratan hukum dan skandal masa lalu yang terus mengintai.
Dalam ulasannya, Rocky menyebutkan bahwa apabila Gibran gagal melenggang naik takhta menjadi presiden di 2029, maka Jokowi dipastikan bakal menghadapi badai hukum bertubi-tubi.
Berbagai kasus pelik yang selama ini dipendam—termasuk polemik abadi seputar keabsahan ijazah—bakal kembali dibuka dan diungkit ke permukaan tanpa ampun.
“Sebab cuman Gibran yang bisa menyelamatkan Jokowi. Ya kalau Gibran enggak jadi presiden, ya Jokowi diacak-acak lagi mulai dari ijazah palsu sampai apa namanya flek mungkin di dalam tubuhnya dipersoalin kan,” ujar Rocky Gerung dalam kanal YouTube Total Politik, dikutip Senin (10/8/2026).
Menurut Rocky, rekam jejak kasus yang melekat pada diri Jokowi tidak akan pernah berhenti menjadi bola liar di ranah hukum maupun politik.
Oleh karena itu, skenario mengantarkan Gibran memegang kendali tertinggi negara adalah harga mati demi mengamankan posisi sang mantan presiden.
“Satu-satunya yang bisa membuat dia aman kalau Gibran jadi presiden,” imbuhnya tajam.
Pandangan senada turut dilontarkan oleh mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lukas Luwarso.
Berdasarkan pembacaan dinamika lingkaran dekat Jokowi, ia menilai sang mantan presiden masih menaruh asa yang begitu besar agar Gibran siap bertarung di panggung Pilpres 2029.
Lukas menyoroti pergerakan angka elektabilitas Gibran yang mulai diperhitungkan.
Mengacu pada hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), tingkat keterpilihan Gibran bertengger di posisi keempat dengan raihan 7,7 persen, menempel ketat Anies Baswedan di posisi ketiga yang meraup 8,2 persen.
“Gibran dengan Anies perbedaannya enggak besarlah, sudah enggak nyampai 2%,” ungkap Lukas dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Melihat jarak elektoral yang tipis tersebut, Lukas menilai manuver gencar Jokowi yang kerap mengumbar rencana keliling nusantara dan blusukan hingga tingkat akar rumput bukanlah sekadar nostalgia masa lalu.
Langkah tersebut dibaca sebagai strategi taktis untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas sang anak demi menyongsong suksesi kekuasaan.
“Nah, jadi ya, sebenarnya kan intinya Jokowi ketika teriak ‘saya akan keliling Indonesia, saya datangi kecamatan-kecamatan’, itu buat Gibran,” tandasnya.
[VIDEO]