

DEMOCRAZY.ID – Politikus Ferdinand Hutahaean melontarkan kritik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terkait kunjungannya ke sejumlah daerah yang diikuti dengan pemberian penghormatan adat.
Menurut Ferdinand, kunjungan tersebut justru memunculkan perdebatan di kalangan tokoh adat mengenai kelayakan pemberian gelar kehormatan kepada Jokowi.
Ferdinand menyinggung polemik yang muncul setelah Jokowi menerima penghormatan adat di Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tak ada yg memberi gelar raja kepada Jokowi.
Beliau bukan raja.Kami raja raja diundang bukan mengundang. pic.twitter.com/Y8VuBdYpkJ
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) August 3, 2026
Ia menilai, di kedua daerah tersebut terjadi perbedaan pandangan di antara tokoh adat mengenai kepatutan pemberian gelar tersebut.
“Jok, lu kenapa sih? Lu ke Lampung, rakyat Lampung, tokoh-tokoh adatnya pada jadi ribut,” ujar Ferdinand, Selasa (4/8/2026).
Menurut Ferdinand, perdebatan yang terjadi bukan sekadar persoalan seremonial, melainkan menyangkut kelayakan pemberian gelar adat.
“Saling adu argumen soal kepatutan kelayakan pemberian gelar adat,” katanya.
Ia kemudian menyebut situasi serupa juga terjadi di NTT setelah Jokowi menerima penghormatan adat.
“Lu kemarin ke NTT, sekarang para raja yang malah jadi saling adu pendapat dan terjadi pertentangan pendapat soal pemberian gelar raja,” lanjutnya.
Selain menyoroti polemik gelar adat, Ferdinand juga mempertanyakan pilihan lokasi kunjungan Jokowi.
Ia menilai mantan Presiden itu lebih sering mendatangi kelompok masyarakat tertentu dibandingkan berdialog dengan kalangan akademisi maupun intelektual.
“Jok, kenapa sih lu enggak main ke kampus? Kenapa sih lu enggak main ke tempat-tempat yang di sana berkumpul kalangan intelektual?” ujarnya.
Ferdinand kemudian menilai langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun citra politik di hadapan masyarakat.
“Ya, saya sih hanya melihat caramu itu. Bahwa kau itu memang hanya berusaha mengambil suara orang-orang yang bisa terkecoh oleh manipulasi gayamu yang sok-sok sederhana. Pencitraan,” katanya.
Ia juga menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Jokowi dan menyebut berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini merupakan dampak dari kebijakan selama masa pemerintahannya.
“Padahal republik ini, bangsa ini, rusak gara-gara kau Jok. Rusak gara-gara kau Jok,” ucap Ferdinand.
Sebelumnya, Raja Liurai Malaka ke-15 Kerajaan Malaka Wehali, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Dominicus Kloit Teiseran, memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar mengenai pemberian gelar adat kepada Jokowi.
Dominicus menegaskan pemberitaan yang menyebut Jokowi diangkat sebagai Raja Timor tidak tepat.
Menurutnya, penghormatan yang diberikan kepada Jokowi adalah sebagai Sesepuh di Timor, bukan pengangkatan sebagai raja adat.
“Jadi kalau orang bilang Jokowi raja di Timor, lalu kami raja sebagai apa? Di NTT sudah ada struktur Raja Adat,” ujar Dominicus.
Ia menegaskan bahwa status raja adat tetap berada dalam struktur adat yang telah ada, sedangkan penghormatan kepada Jokowi merupakan bentuk penghargaan sebagai sesepuh.
“Jadi Jokowi bukan diangkat jadi Raja, melainkan penghargaan yang diberikan adalah Sesepuh di Timor,” katanya.