Survei Prabowo Anjlok Drastis, Prof Ryaas Rasyid Semprot Habis: Tak Perlu Tunggu 5 Tahun, Rezim Ini Pasti Gagal Total!

DEMOCRAZY.IDTingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat berada di angka 37 persen berdasarkan survei Tempo Data Science yang digelar pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026.

Survei tersebut juga memperlihatkan persepsi negatif responden terhadap kondisi ekonomi nasional.

Sebanyak 68 persen responden menilai perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi buruk atau memburuk.

Di tengah anjloknya kepuasan publik terhadap Prabowo, Pakar Politik dan Ilmu Pemerintahan, Prof. Ryaas Rasyid memberikan pandangannya.

Ryaas menilai perjalanan pemerintahan tidak harus menunggu lima tahun untuk membaca kecenderungan hasilnya.

Ia mengatakan indikator-indikator yang muncul sejak awal dapat menjadi dasar bagi seorang ahli untuk mengambil kesimpulan.

Tidak Perlu Tunggu Lima Tahun

Ryaas menjelaskan bahwa keahliannya di bidang pemerintahan dan politik membuatnya dapat membaca pola yang terjadi sejak awal pemerintahan.

“Kalau begini terus iya (Pemerintahan Prabowo akan gagal). Banyak faktor sebenarnya, dan itu publik sudah tahu,” ujar Ryaas, Rabu (16/9/2026).

Ia kemudian menggunakan perumpamaan dalam dunia olahraga untuk menjelaskan cara seorang ahli membaca situasi.

“Sama dengan kalau ahli sepak bola melihat pertandingan sepakbola itu tidak perlu menunggu sampai babak kedua selesai baru dia tahu siapa menang,” tukasnya.

Ryaas menyebut tanda-tanda hasil pertandingan dapat terbaca sejak pertandingan baru berjalan.

“Itu 10 menit, 20 menit pertama, ahli sepak bola sudah tahu siapa yang bakal kalah atau siapa yang bakal menang,” ucap dia.

Analogi tersebut kemudian ia gunakan untuk menjelaskan penilaiannya terhadap pemerintahan Prabowo.

“Nah saya juga begitu. Jadi saya tidak perlu menunggu 5 tahun. Sekarang pun sudah bisa saya simpulkan, kalau ini pola yang sama bergerak terus sampai 5 tahun, itu sudah pasti gagal,” sebutnya.

Ryaas Sebut Pemerintahan Prabowo-Gibran Sudah Gagal

Bagi Ryaas, persoalan yang ia soroti bukan semata-mata mengenai kemungkinan yang terjadi pada masa mendatang.

“Sekarangnya sudah gagal,” timpalnya.

Ia menilai masih ada ruang untuk melakukan perubahan, meski prosesnya tidak mudah.

“Jadi kalau tidak dikoreksi, akan gagal terus sampai di ujung. Makanya harus dikoreksi dan dikoreksi ini tidak gampang,” jelasnya.

Ryaas kemudian menyinggung persoalan lain yang menurutnya membuat proses perbaikan menjadi lebih sulit.

“Karena pihak yang bersangkutan itu termasuk sulit untuk menerima kritik. Apalagi koreksi. Nah ini yang bikin masalah,” imbuhnya.

Ia juga menilai perbaikan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal.

“Sehingga saya cepat saja menyimpulkan. Dan tidak mungkin lagi ditolong. Dia harus menolong dirinya sendiri,” bebernya.

Ryaas turut mengkritisi kinerja jajaran pemerintahan.

Ia mempertanyakan hasil kerja tim pemerintahan yang menurutnya belum terlihat secara nyata dan terukur.

“Sekarang ini pemerintahan kita cuma ada presiden, timnya tidak kelihatan, tidak bekerja, tidak nampak prestasi yang bisa diukur,” cetusnya.

Ekonomi dan Lapangan Kerja Disorot

Selain tata kelola pemerintahan, Ryaas menyoroti kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan sejumlah indikator, mulai dari nilai tukar rupiah hingga kinerja ekspor dan kondisi pengangguran.

“Ekonomi parah, tenaga lapangan kerja bahaya, dollar sampai sekarang sejak turun tidak pernah kembali,” Ryaas menuturkan.

“Kinerja ekspor kita tidak sesuai dengan harapan pengangguran luar biasa impor terbaru kan ada 1 juta sarjana yang menganggur,” tambahnya.

Ryaas melihat isu tersebut sebagai bagian dari persoalan yang menurutnya menunjukkan situasi sulit dalam pengelolaan negara.

“Ini kan luar biasa, lalu isu-isu yang negatif yang muncul mengenai anjuran supaya orang-orang Indonesia yang tidak puas silahkan pergi saja. Ini semua bentuk-bentuk dari kepanikan dan ketidakmampuan untuk mengelola negara secara baik,” timpalnya.

Ryaas kembali menegaskan pandangannya mengenai perlunya perubahan dari internal pemerintahan.

“Jadi sampai saya menjumpulkan bahwa tidak mungkin lagi diperbaiki. Dia harus memperbaiki dirinya sendiri,” jelasnya.

“Siapa pun yang berusaha untuk memperbaiki dengan memberi saran, memberi nasihat, masukan, itu tidak akan berhasil,” tegas dia.

Prabowo Sulit Terima Kritik

Menurut Ryaas, terdapat faktor lain yang membuat berbagai masukan tidak mudah diterima oleh pemerintah.

“Ada resistensi yang kuat pemerintahnya terlalu percaya diri atau mungkin pribadi presiden terlalu percaya diri sehingga sulit untuk masuk,” jelasnya.

Meski demikian, Ryaas meyakini pandangan mengenai persoalan pemerintahan tidak hanya muncul dari dirinya.

“Karena tidak mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini, mesti banyak orang sekitarnya yang berpikir jernih. Saya sangat yakin,” Ryaas menekankan.

Ryaas juga dimintai tanggapan mengenai penurunan tingkat approval pemerintah yang disebut mencapai sekitar 30 poin.

Ia menyebut penurunan tersebut sebagai sinyal yang perlu diperhatikan.

Namun, ia mengatakan penilaiannya terhadap pemerintahan tidak semata-mata didasarkan pada angka survei.

“Jelas itu alarm. Tapi saya lebih dari itu. Tanpa melihat itu pun saya sudah merasa dengan kinerja seperti ini, kasus MBG saja, korupsi di MBG itu menurut saya itu skandal besar,” terangnya.

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG kemudian menjadi salah satu contoh yang disampaikan Ryaas ketika membahas kinerja pemerintahan.

Menurut Ryaas, program tersebut memiliki posisi penting karena merupakan program yang identik dengan Presiden Prabowo dan menggunakan anggaran dalam jumlah besar.

“Itu program favorit presiden. Itu melibatkan dana ratusan trliun, kok dikorupsi secara terang-terangan oleh pimpinannya sendiri, apalagi yang tidak rusak?,” sesalnya.

Ia kemudian kembali menggunakan persoalan MBG sebagai gambaran atas kritik yang disampaikannya.

“Jadi situasi dengan contoh MBG saja sudah menunjukkan betapa buruknya kinerja pemerintahan kita,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya