DEMOCRAZY.ID – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi membantah Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi pernah memintanya memperjuangkan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.
Budi Arie mengatakan tidak pernah menerima arahan ataupun pembicaraan langsung dari Jokowi mengenai wacana tersebut.
Ia bahkan menyebut Jokowi tidak pernah membicarakan isu tiga periode kepadanya.
“Pak Jokowi enggak pernah ngomong sama saya tiga periode,” kata Budi Arie dalam podcast Henri Satrio Official dan Rujak Politik Official dikutip pada Senin (14/9/2026).
Menurut Budi Arie, tidak adanya pembicaraan soal perpanjangan masa jabatan justru menjadi salah satu alasan PROJO menggelar Musyawarah Rakyat atau Musra di berbagai daerah.
Forum tersebut, kata dia, digunakan untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus mencari figur yang dinilai layak melanjutkan kepemimpinan nasional setelah Jokowi mengakhiri masa jabatannya.
Budi Arie mengatakan Musra berlangsung hampir setahun dan digelar di berbagai provinsi.
PROJO bersama jaringan relawan turun langsung ke daerah untuk menghimpun suara masyarakat mengenai sosok yang dianggap mampu melanjutkan kepemimpinan nasional.
“Musra itu hampir satu tahun, musyawarah rakyat mencari pengganti Pak Jokowi,” ujar dia.
Dari proses tersebut, Prabowo Subianto disebut berada di posisi teratas dalam aspirasi yang dihimpun PROJO.
Budi Arie mengingat, setelah proses penjaringan aspirasi tersebut, dirinya bersama sejumlah elemen pendukung mendatangi kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta.
Kedatangan itu antara lain untuk menyampaikan hasil aspirasi yang telah dihimpun melalui Musra.
Menurut dia, proses tersebut sekaligus memperkuat jaringan PROJO di berbagai daerah.
Infrastruktur organisasi yang telah terbentuk melalui Musra kemudian menjadi modal ketika memasuki kontestasi Pilpres 2024.
“Jadi kemarin 2024 kemenangan kita, mesinnya sudah lebih siap dari yang lain,” ujar Budi Arie.
Pada Pilpres 2024, PROJO kemudian memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Budi Arie juga menanggapi anggapan bahwa berbagai pembahasan mengenai kemungkinan politik setelah pemerintahan Jokowi merupakan bagian dari skenario memperpanjang masa jabatan presiden.
Ia menilai anggapan tersebut muncul karena adanya pembahasan mengenai sejumlah skenario politik menjelang Pemilu 2024.
Namun, menurut dia, sebuah skenario politik tidak otomatis menunjukkan adanya keinginan dari tokoh yang sedang menjadi objek pembahasan.
Budi Arie mengatakan diskursus mengenai berbagai kemungkinan politik merupakan hal yang lazim, baik dalam kajian akademis maupun percakapan politik.
Ia kemudian menyinggung pernyataan Andi Widjajanto mengenai sejumlah skenario politik yang pernah berkembang menjelang Pemilu 2024.
Menurut Budi Arie, pernyataan mengenai skenario tersebut harus ditempatkan secara proporsional.
Skenario politik, kata dia, tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai keinginan Jokowi untuk memperpanjang masa jabatan.
“Benar bahwa apa yang disampaikan Andi Widjajanto itu tepat. Itu kan skenario-skenario, tapi bukan keinginan politik,” ujar Budi Arie.
Budi Arie kembali menegaskan bahwa selama dirinya memimpin PROJO, Jokowi tidak pernah memintanya memperjuangkan masa jabatan presiden tiga periode.
Ia justru menggunakan perjalanan Musra sebagai bukti bahwa organisasi relawan tersebut telah mempersiapkan proses pergantian kepemimpinan nasional melalui mekanisme politik dan pemilu.
Dalam perspektif Budi Arie, Musra bukan instrumen untuk mempertahankan Jokowi di kursi kepresidenan, melainkan forum untuk menentukan siapa yang akan didukung setelah masa kepemimpinan Jokowi berakhir.
Hasil penjaringan yang menempatkan Prabowo di posisi pertama kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan politik PROJO menuju Pilpres 2024.
Budi Arie mengatakan dukungan tersebut pada akhirnya ikut membawa PROJO berada di belakang pasangan Prabowo-Gibran dalam kontestasi Pilpres 2024.
[FULL VIDEO]