Respons Jokowi Cuma ‘Cengengesan’ Saat Budi Arie Bahas Masa Jabatan Presiden, Tere Liye Meradang: Harusnya Ditonjok!

DEMOCRAZY.ID – Penulis kenamaan Indonesia yang juga dikenal sebagai akuntan, Tere Liye, kembali melontarkan kritik pedas melalui media sosialnya.

Kali ini, ia menyoroti beredarnya potongan video yang memperlihatkan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) duduk berdampingan dengan mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, saat tengah membahas wacana percepatan masa jabatan presiden.

Dalam unggahan di akun sosial medianya, Tere Liye mengkritik keras respons Jokowi yang dinilainya pasif dan hanya tertawa-tawa saat Budi Arie melontarkan pernyataan sensitif tersebut di hadapannya.

Kritik Etika dan Status Negarawan

Tere Liye menegaskan bahwa seorang pejabat atau mantan kepala negara seharusnya memegang teguh asas kenegarawanan, di mana kepentingan negara berada jauh di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Ia merasa heran mengapa Jokowi tampak hanya mendengarkan dan membiarkan pembicaraan mengenai isu krusial tersebut.

“Artinya kepentingan negara di atas kepentingan pribadinya. Kok bisa dia diam saja, cengengesan, pegang kuping, minum teh, pegang pipi selama Budi Arie celoteh. Bahkan jika itu diskusi internal, itu masuk perkara bicara sembunyi-sembunyi membahas sesuatu yang sangat sensitif,” tulis Tere Liye dikutip pada Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, pembiaran terhadap celotehan politik seperti itu bukanlah sikap yang mencerminkan kedewasaan bernegara.

Sebagai sesosok negarawan, Jokowi dinilai memiliki kewajiban moral untuk langsung menegur atau menghentikan narasi-narasi spekulatif yang berpotensi menimbulkan kegaduhan publik.

Beban Konflik Kepentingan

Lebih lanjut, penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar itu menyoroti adanya benturan kepentingan (conflict of interest) yang nyata dalam situasi tersebut.

Mengingat anak kandung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, perbincangan mengenai percepatan suksesi kepemimpinan dinilai sangat sensitif dan berpotensi menguntungkan pihak keluarga secara langsung.

Tere Liye menilai, wacana pergeseran atau percepatan masa jabatan presiden secara tidak langsung berimplikasi pada posisi Wakil Presiden yang otomatis akan naik mengisi posisi puncak jika hal itu terjadi.

“Dan adalah fakta, anak Jokowi itu wapres. Jika terjadi percepatan masa jabatan presiden, siapa yang naik? Anaknya. Dia diuntungkan. Kalian paham tidak sih? Jika Jokowi ini negarawan, maka dia yang menghentikan semua celoteh Budi Arie,” tegasnya.

Ia menggarisbawahi bahwa pembiaran terhadap gestur politik semacam ini membuat publik mempertanyakan komitmen dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang sah hingga akhir masa jabatan secara konstitusional.

Sentil Netizen yang Reaktif pada Konten AI

Tak berhenti di situ, Tere Liye juga menyentil sebagian netizen dan pengikutnya yang justru lebih sibuk menyoroti video satire buatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diunggahnya di postingan sebelumnya, alih-alih memahami substansi kritik yang ia sampaikan.

Ia merasa heran mengapa publik justru lebih marah melihat video AI pengandaian dibandingkan sikap diamnya tokoh publik saat isu sensitif dibahas di hadapan mereka.

“Saya sungguh amazing menyaksikan netizen yang ngaku-ngaku baca buku saya, eh dia tidak paham konteks ini, malah lebih marah saat nonton video AI yang saya posting. Kamu kok bisa bebal banget sih? Kamu harusnya marah sama Jokowi. Kesal banget sama negarawan yang kok bisa diam-diam mendiskusikan tentang percepatan masa jabatan presiden,” kritik Tere Liye.

Menanggapi ancaman sebagian netizen yang mengaku ingin berhenti membaca atau membeli karya-karyanya akibat unggahan tersebut, Tere Liye menegaskan tidak ambil pusing.

Bagi dirinya, menyampaikan kritik sosial secara jujur dan berani jauh lebih penting ketimbang mempertahankan popularitas semata di media sosial.

“Mau berhenti baca buku-buku saya? Silakan. Terserah dia mau berhenti beli buku saya atau tidak,” pungkasnya.

Unggahan satire dan narasi kritis dari sang penulis hingga kini terus memicu perdebatan hangat serta ragam tanggapan di kalangan warganet.

Artikel terkait lainnya