DEMOCRAZY.ID – Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyentil pakar dengan sebutan “goblok” terus memicu reaksi keras dari kalangan akademisi.
Kritikan tajam salah satunya datang dari Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia (UI), Profesor Suzie Sudarman.
Melalui tayangan podcast Madilog Forum Keadilan TV, Prof Suzie menilai, umpatan verbal yang dilayangkan kepala negara kepada para kritikus menunjukkan sikap seorang pemimpin yang enggan menerima pandangan atau masukan dari pihak lain.
Menurutnya, perbuatan tersebut merupakan indikasi dari perilaku kepemimpinan yang berpotensi melanggar nilai-nilai dasar bernegara.
“Dia adalah seorang presiden yang mendekati perilaku yang inkonstitusional. Karena konstitusi menghendaki seluruh bangsa Indonesia menjadi cerdas melalui pendidikan yang disiapkan oleh pemerintahnya,” ujar Prof Suzie, Rabu (23/9/2026).
Dugaan Penistaan Profesi Ilmuwan dan Pemeliharaan BuzzerDalam keterangannya, Prof Suzie mengungkapkan rasa keprihatinannya atas ucapan tersebut.
Ia menekankan bahwa iklim akademis dan profesi ilmuwan membutuhkan proses kerja intelektual yang panjang, berbasis riset, serta akumulasi literatur yang mendalam.
Menyamaratakan ilmuwan atau pakar kritikus sebagai pihak yang “goblok” dinilai dapat mencederai minat generasi muda untuk terjun ke dunia keilmuan.
Ia menduga kecenderungan mengabaikan nalar kritis ini berakar dari maraknya pemeliharaan buzzer di ruang publik.
“Setiap kali ilmuwan menyatakan sesuatu, buzzers muncul. Buzzers-buzzers yang luar biasa jahatnya itu tetap dipelihara dan tetap digunakan untuk menafikan nalar sejati dari kaum ilmuwan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa ketimpangan perhatian terhadap sektor pendidikan sudah berlangsung lama.
Kondisi ini diperparah dengan alokasi anggaran yang dinilainya tidak proporsional, di mana kesejahteraan tenaga pengajar dan dana riset perguruan tinggi masih jauh dari kata memadai dibandingkan negara tetangga.
Sorotan Prof Suzie tidak hanya tertuju pada Presiden Prabowo, tetapi juga kepada respons para kader dan tamu undangan yang hadir dalam peringatan HUT PAN tersebut.
Respons audiens yang menyambut ucapan tersebut dengan tepuk tangan ia sebut sebagai bentuk penumpulan nalar publik.
“Ini adalah simbol dari pemerataan kebodohan. Mereka memberikan tepuk tangan kepada insinuasi bahwa ilmuwan itu goblok dan tidak ada gunanya. Padahal ilmuwan rujukannya adalah buku (dan riset), bukan untuk menyampaikan fitnah kepada penguasa,” jelas Prof Suzie.
Lebih jauh, ia membandingkan respons politik tersebut dengan sikap pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor yang tetap memegang teguh pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagai fondasi utama.
Pesan moral dari lembaga pendidikan independen dianggap sebagai teguran keras agar penguasa tidak meremehkan peran intelektual dalam pembangunan bangsa.
Melihat kondisi sosial dan geopolitik yang penuh tantangan, Prof Suzie mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengevaluasi gaya komunikasi serta kepemimpinannya.
Dia menyarankan agar lingkungan lingkaran utama Istana diisi oleh figur-figur yang memiliki rekam jejak keilmuan yang jelas, berintegritas, dan tidak sekadar menjadi pencari muka.
“Hilangkan ambisi yang terlalu tinggi kalau memang merasa tidak mampu, lalu didampingi oleh orang-orang yang baik, yang bernalar, dan berilmu. Mari kita atasi kutukan kebodohan bangsa ini dengan cara sebaik-baiknya, menelusuri rekam jejak setiap orang yang mendampingi presiden untuk membawa Indonesia ke alam kesejahteraan dalam keadilan,” pungkasnya.
[VIDEO]