DEMOCRAZY.ID – Gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang dikomandoi Mas Botok kembali menjadi perhatian.
Kali ini, Penggagas Presidium Parlemen Bayangan Indonesia Pasti, Heru Subagia, mempertanyakan sejumlah pertemuan yang melibatkan kelompok aktivis tersebut dengan sejumlah tokoh politik.
Heru menyentil pertemuan antara Kang Dedi Mulyadi (KDM) dengan Mas Botok dan sejumlah aktivis AMPB di Jawa Barat.
Ia menilai, pertemuan tersebut perlu mendapat penjelasan kepada publik, terutama terkait arah dan tujuan gerakan yang selama ini mengatasnamakan masyarakat dan gerakan moral.
“Saya akan menanyakan dan terus memperdalam apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika KDM mengundang secara khusus kelompok aktivis Masyarakat Pati Bersama dan Botok tentunya, serta sejumlah rekan-rekan lainnya ke kediamannya KDM di Jawa Barat,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (6/9/2026).
Video KDM bertemu AMPB termasuk Supriyono alias Mas Botok ke Lembur Pakuan di Subang.
Suasana pertemuan tampak berjalan hangat dan santai. Dedi mengobrol dengan sejumlah aktivis AMPB dan mendengarkan cerita mereka.Dalam pertemuan itu pula, Dedi dan AMPB meneriakkan yel-yel… pic.twitter.com/9OXjCkKhvN
— suaradotcom (@suaradotcom) September 2, 2026
Heru menuturkan, persoalan tersebut penting untuk diklarifikasi karena berkaitan dengan identitas dan tujuan gerakan AMPB.
Ia menilai publik perlu mengetahui apakah gerakan tersebut masih sepenuhnya berdiri sebagai gerakan masyarakat sipil atau telah memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik tertentu.
“Isu ini perlu diklarifikasi ke publik karena menyangkut masalah gerakan dan tujuan dan apa yang telah diambil alih atau menjadi tanggung jawab yang diklaim oleh gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersama dan Botok sebagai gerakan mengatasnamakan rakyat Indonesia dan gerakan-gerakan moral,” tukasnya.
Heru menyebut KDM diketahui memberikan simpati terhadap gerakan yang dilakukan Mas Botok dan rekan-rekannya.
Pertemuan di kediaman KDM itu disebut menjadi ruang diskusi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan gerakan dan aktivitas kelompok tersebut.
“Tentunya juga disebutkan bahwa KDM pada waktu itu bersimpati terhadap apa yang dilakukan Botok dan kawan-kawan, dan secara meyakinkan mengundang para tokoh dan aktivis ke kediaman KDM dalam beberapa waktu yang lalu,” ucap dia.
Kelompok botok ini yang awalnya bikin demo yang akhirnya menyebabkan ada korban meninggal.
Seharusnya mereka mendatangi rumah korban, ini malah ketemu konten kreator.
Seharusnya mendatangi orang yg jadi korban kegiatan mereka, bukan yg menunggangi mereka. https://t.co/wcHZCNzGxx
— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) September 2, 2026
Heru kemudian menyinggung informasi yang disebutnya berasal dari temuan ‘Bocor Halus Tempo’.
Menurutnya, terdapat informasi mengenai adanya pertemuan yang dilakukan Mas Borok dan kelompok AMPB dengan pimpinan DPR.
“Yang harus digarisbawahi sangat mendasar adalah dengan adanya temuan dari bocor halus Tempo yang mengatakan bahwa sesungguhnya Botok dan teman-teman Aliansi Masyarakat Pati Bersama telah melakukan pertemuan rahasia,” jelasnya.
Ia menyebut salah satu pihak yang dikaitkan dengan pertemuan tersebut adalah pimpinan DPR, termasuk Dasco.
“Dilakukan bersama pimpinan DPR, dalam hal ini Dasco dan lainnya, dan yang lebih mengerikan lagi, bagaimana Botok ternyata juga berkomunikasi dengan Prabowo,” lanjut Heru.
Heru mempertanyakan dampak dari komunikasi maupun pertemuan tersebut terhadap independensi gerakan AMPB.
Lebih lanjut, Heru menilai KDM perlu memberikan penjelasan mengenai pertemuannya dengan Mas Botok dan sejumlah aktivis AMPB.
Menurutnya, perlu diketahui apakah pertemuan tersebut murni sebagai bentuk dukungan moral terhadap gerakan masyarakat atau terdapat agenda lain yang berkaitan dengan kepentingan politik.
“Kemudian pertanyaan timbul, apakah sesungguhnya KDM dalam undangan yang ditujukan Botok dan teman-teman yang lainnya didasari sebuah akal sehat, kebijaksanaan yang luhur, mengatasnamakan gerakan-gerakan moral dan dukungannya,” katanya.
Heru kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya kepentingan politik di balik pertemuan tersebut.
“Sebuah kesengajaan politik tentunya yang didaulat akan mementingkan pada sisi politik elektoral, kepartaian, atau bahkan sebagai perwujudan kolektif entitas KDM dan juga partai yang saat ini mengusung, dalam hal ini Gerindra?” imbuhnya.
Heru juga melontarkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya komunikasi atau koordinasi terkait pertemuan KDM dengan AMPB.
Ia mempertanyakan apakah kegiatan tersebut telah diketahui atau mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto maupun petinggi Partai Gerindra.
“Saya mempertegas lagi, apakah agenda KDM dan juga Botok bersama Aliansi Masyarakat Pati Bersama sudah diketahui, atau disetujui, atau menginformasikan, atau memberitahu kepada pihak Prabowo dan para petinggi Gerindra?” timpalnya.
Heru berujar, pertanyaan tersebut penting untuk mengungkap berbagai kepentingan yang mungkin berada di balik aktivitas politik maupun gerakan masyarakat.
“Ini pertanyaan yang sengaja kita buat untuk menunjukkan dan mengeksplorasi kepentingan-kepentingan yang sifatnya normatif, moral, etika, dan di balik kepentingan-kepentingan yang disengaja dalam hal ini politik berkaitan dengan Gerindra, dan tentunya berkaitan dengan dukungan-dukungan politik KDM terhadap Prabowo Subianto,” ucapnya.
Heru menekankan bahwa informasi mengenai komunikasi AMPB dengan sejumlah elite politik dapat memunculkan pertanyaan mengenai posisi gerakan tersebut.
Ia mempertanyakan apakah kelompok yang dipimpin Mas Botok masih dapat disebut sebagai gerakan independen yang steril dari kepentingan kekuasaan.
“Dengan adanya temuan-temuan bocor halus Tempo ini, apa yang menjadi tanggung jawab moral, etika moral KDM terhadap kegiatan-kegiatan Botok dan gerakannya yang saat ini dalam tanda kutip bahwa bukan lagi sebuah gerakan murni, gerakan independen, gerakan masyarakat sipil yang betul-betul steril dari kepentingan terutama penguasa,” tegasnya.
Heru juga menyinggung arah keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut.
Menurutnya, hal itu perlu dilihat apakah masih sejalan dengan tujuan awal perjuangan yang selama ini dibawa AMPB.
Selain itu, Heru turut mengaitkan persoalan tersebut dengan posisi KDM yang disebut-sebut berpotensi masuk dalam kontestasi politik 2029.
Ia mempertanyakan tanggung jawab moral, etika, dan politik KDM terkait pertemuan dengan kelompok aktivis tersebut.
“Sekali lagi, ini yang jauh lebih penting, bagaimana tanggung jawab moral dan etika, dan mungkin politik bagi seorang KDM yang konon akan menjadi bagian kontestasi Pilpres 2029 nanti,” tandasnya.
Heru kemudian meminta KDM menjelaskan posisinya terkait informasi terbaru mengenai komunikasi dan pertemuan yang dilakukan Mas Borok bersama sejumlah pihak.
“Bagaimana harus menjawab sebuah peristiwa kekinian dengan temuan terbaru bahwa Botok dan teman-teman yang lainnya sudah tidak steril, sudah tidak independen, sudah tidak mencerminkan perilaku-perilaku sebagai seorang aktivis pergerakan,” kuncinya.