DEMOCRAZY.ID – Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya kembali menyoroti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut diungkapkan menanggapi survei yang dilakukan Poltracking Indonesia, bahwa mayoritas responden memilih agar MBG tidak dilanjutkan.
“Sulit bayangkan bahwa program yang sediakan makan gratis ke siswa sekolah akan tidak populer dan mayoritas rakyat tidak ingin dilanjutkan,” kata Berly dikutip dari unggahannya di X, Jumat (4/9/2026).
“Tapi survei gres Poltracking justru temukan lebih banyak yang tidak ingin dilanjutkan (44,6 %) dibandingkan lanjut (42,1 %),” sambungnya.
Padahal, survei lembaga yang serupa sebelumnya hasilnya masih lebih banyak ingin dilanjutkan.
“Berbalik dari Juli 2026 apalagi Mei 2026 yang masih 35,3 % vs 51,9 % lebih banyak yang ingin dilanjutkan,” terangnya.
Berly membahas seorang tokoh asal Romawi, yakni Cicero.
“Cicero, negarawan Romawi kuno, mengajukan prinsip bernegara “Salus populi suprema lex esto” yang artinya keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi,” imbuhnya.
Dia juga mengomentari MBG dalam konteks agama.
“Salah satu dalil/ushul fiqh yang sering digunakan para ahli agama Islam adalah “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih” yang artinya menghindari masalah didahulukan daripada mengambil manfaat,” ucapnya.
Selain itu, Berly melihatnya dari sudut pandang konstitusi.
“Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tugas pertama negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Berly, hasil survey yang menunjukkan rakyat tidak lagi menghendaki MBG wajar.
“Reaksi yang wajar setelah terjadi lebih dari 40 ribu siswa+guru keracunan sejak program MBG berjalan,” terangnya.
Berly menyentil bagaimana MBG menyebabkan keracunan.
“Pada tahun 2026, rata-rata 98 orang keracunan MBG per hari efektif sekolah (minus weekend, tanggal merah dan libur panjang),” imbuhnya.
Namun kini, MBG terus dilanjutkan. Bahkan sudah dianggarkan.
“Tapi MBG masih berjalan dan dalam R-APBN 2027 mendapat alokasi 240,2 Triliun,” ucapnya.
Berly menanyakan mengapa program tersebut terus berjalan.
“Perlu berapa puluh ribu orang lagi yang keracunan dan kepuasan turun berapa persen sampai MBG di revisi drastis atau dihentikan?” pungkasnya.