Berkah Perombakan Kabinet: Pengamat Ungkap PAN dan Golkar Jadi Kekuatan Politik ‘Paling Diuntungkan’ dari Reshuffle Prabowo, Ini Alasannya!

DEMOCRAZY.ID – Dukungan politik Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar terhadap Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pilpres 2029 dinilai memiliki konsekuensi politik.

Pengamat Politik Heru Subagia melihat dukungan tersebut tidak berhenti pada pernyataan politik di ruang publik.

Dikatakan Heru, posisi PAN dan Golkar dalam pemerintahan Prabowo-Gibran juga semakin kuat setelah keputusan reshuffle kabinet dan pengangkatan sejumlah tokoh ke Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Heru menyebut bahwa momentum HUT ke-28 PAN menjadi salah satu ruang penting bagi Zulhas untuk menyampaikan dukungan politik terhadap Prabowo secara terbuka.

Zulhas Tegaskan Dukungan Prabowo Dua Periode

Blak-blakan, Heru menyinggung pernyataan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang kembali menegaskan dukungan partainya terhadap Prabowo untuk maju kembali pada Pilpres 2029.

Hal tersebut disampaikan Zulhas dalam momentum HUT ke-28 PAN.

Kata Heru, PAN secara konsisten menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran sekaligus pencalonan Prabowo untuk dua periode.

“Bahwa PAN dan Golkar sudah mewanti-wanti sejak awal tidak akan mencalonkan diri atau juga memberikan dukungan kepada pihak lain, kecuali sepenuhnya akan mengambil sebuah keputusan politik yakni mendukung Presiden Prabowo dua periode,” tukasnya.

Menurut dia, pernyataan tersebut menjadi bagian dari lobi politik yang dilakukan di hadapan Prabowo.

Heru melihat dukungan terbuka itu memberikan ruang bagi PAN dan Golkar untuk memperoleh perhatian politik dari kekuasaan.

Reshuffle Kabinet Disebut Menguntungkan PAN-Golkar

Heru kemudian mengaitkan dukungan politik tersebut dengan komposisi reshuffle kabinet Prabowo.

Dari Golkar, Heru mengatakan posisi Bahlil Lahadalia yang disebut mendapat posisi sebagai menteri sekaligus menteri koordinator.

Selain itu, Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji juga disebut masuk dalam jajaran kabinet sebagai Menteri Perindustrian.

Sementara dari PAN, Heru menyebut nama Drajad Hari Wibowo yang masuk dalam pemerintahan sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di bawah Airlangga Hartarto.

Heru menekankan bahwa susunan tersebut memperlihatkan adanya keuntungan politik bagi dua partai yang memberikan dukungan kepada Prabowo.

“Ini jelas, bagaimanapun keputusan-keputusan reshuffle kabinet ini adalah lobi-lobi politik yang bisa dikatakan sangat jahat sekali dalam sebuah diskursus publik,” katanya.

Tidak hanya reshuffle kabinet, Heru turut bicara komposisi Wantimpres.

PAN dan Golkar kembali mendapatkan posisi strategis melalui sejumlah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan kedua partai tersebut.

Heru menyebut Hatta Rajasa sebagai salah satu nama dari PAN yang kini berada di posisi Wakil Ketua Wantimpres.

Hatta diketahui pernah menjadi Ketua Umum PAN dan sebelumnya juga pernah mendampingi Prabowo dalam kontestasi politik.

Selain itu, Heru menyinggung nama Bambang Soesatyo yang disebutnya memiliki afiliasi dengan Golkar dan kini masuk dalam jajaran Wantimpres.

“Jabatan yang untuk sekian kalinya partai yang mendapatkan sebuah prioritas atau keuntungan dari lobi-lobi politik adalah jabatan di Wantimpres, di mana di situ ada beberapa elit PAN yang bertengger, baik sebagai wakil ketua dan juga sebagai anggota,” imbuhnya.

Dukungan Politik Disebut Berbuah Jabatan

Heru menilai dukungan verbal yang disampaikan pimpinan partai kepada Prabowo memiliki arti politik tersendiri.

Baginya, pernyataan dukungan Zulhas terhadap Prabowo, khususnya dalam momentum HUT PAN ke-28, memberikan legitimasi politik sekaligus perhatian khusus dari pemerintah.

Heru kemudian menghubungkan hal tersebut dengan keputusan pengisian jabatan dalam pemerintahan.

“Dan perhatian itu disempurnakan dalam tindakan-tindakan bagi-bagi kekuasaan dalam bentuk hasil reshuffle dan pemilihan Wantimpres,” jelasnya.

Lebih jauh, Heru menilai posisi PAN dan Golkar saat ini menunjukkan arah politik menuju Pilpres 2029.

Dia menyebut dukungan kedua partai terhadap Prabowo dua periode telah membentuk konfigurasi politik sejak dini.

“Saya katakan dengan adanya porsi-porsi pembagian kue kekuasaan, terutama Golkar dan PAN ini, sudah terlihat secara gamblang mata bagaimana poros partai politik, poros Pilpres 2029 ini sudah terbentuk sejak awal dengan dimotori dukungan PAN dan Golkar,” Heru menuturkan.

Menurutnya, kepentingan elite partai dan penguasa dapat bertemu melalui komitmen politik serta pembagian posisi strategis.

“Kesimpulannya, bahwa terjadi sebuah simbiosis mutualisme cara pandang para elit partai dan juga kekuasaan itu sendiri dalam hal ini rezim yang berkuasa,” katanya.

Heru bahkan menyebut pola tersebut sebagai bentuk kartel politik yang saling memberikan keuntungan.

“Apa pun cerita dan juga harapan visi-misi besar sebuah kepartaian dan kekuasaan itu akan berjalan dalam sebuah rel kekuasaan langgeng, kekuasaan yang bertubi-tubi, kekuasaan majemuk, dan kekuasaan itu dibangun oleh sebuah kartel politik yang saling menguntungkan,” tandasnya.

Bagi Heru, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konstruksi kekuasaan sangat bergantung pada komitmen politik antarelite.

Dia menekankan bahwa kepentingan politik tersebut berpotensi mengesampingkan substansi demokrasi dan fungsi keterwakilan politik.

“Dengan demikian, bisa dikatakan sesungguhnya demokrasi dan juga keterwakilannya di parlemen maupun di eksekutif adalah wujud representasi informal dalam ruangan penyertaannya hingga kekuasaan dan rezim itu terbentuk,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya