DEMOCRAZY.ID – Masa depan politik Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029 disebut menjadi salah satu alasan Joko Widodo (Jokowi) membangun kekuatan baru melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ketua Program Doktoral Ilmu Politik di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Djayadi Hanan menilai Jokowi perlu menyiapkan skenario politik alternatif karena peluang Gibran kembali mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada periode berikutnya belum tentu terbuka.
Analisis itu disampaikan Djayadi dalam siniar Total Politik yang tayang Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, konfigurasi politik menjelang 2029 akan berbeda dengan Pilpres 2024, terutama karena partai-partai yang saat ini berada di belakang pemerintahan Prabowo-Gibran kemungkinan akan memiliki kepentingan masing-masing.
Dalam situasi tersebut, Jokowi disebut membutuhkan kendaraan politik yang dapat berdiri lebih mandiri.
PSI pun menjadi salah satu partai yang dikaitkan dengan manuver politik mantan presiden tersebut.
“Kalau Pak Jokowi pasti mempersiapkan diri untuk skenario sendiri. Banyak tantangan untuk memajukan kembali Gibran sebagai calon Wapres Pak Prabowo di 2029. Maka solusinya buat Pak Jokowi hari ini adalah menyiapkan partai PSI,” kata Djayadi.
Sinyal penguatan PSI terlihat dari sejumlah data survei yang dibahas dalam diskusi tersebut.
Pada Juli 2026, elektabilitas PSI disebut telah berada di kisaran 3 hingga 4,1 persen berdasarkan data SMRC dan Indikator.
Capaian itu menjadi perhatian karena PSI disebut mulai mendekati ambang batas untuk masuk parlemen.
Pada saat yang sama, peningkatan tersebut berlangsung di tengah penurunan kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Djayadi menyebut perkembangan PSI sebagai sebuah anomali.
Ia mengaitkannya dengan meningkatnya asosiasi Jokowi dengan partai tersebut.
“Kalau kita lihat data SMRC dan Indikator, peluang PSI untuk lolos ke parlemen itu tampak mulai ada,” ujar Djayadi.
Ia juga menyebut adanya eksperimen survei yang memperlihatkan potensi kuat pengaruh Jokowi terhadap elektabilitas PSI.
Dalam eksperimen tersebut, “Jokowi Effect” disebut mampu meningkatkan suara PSI hingga 10 persen.
Bagi Jokowi, keberhasilan PSI menembus DPR dapat memberikan keuntungan strategis.
Selama ini, mantan presiden tersebut belum memiliki partai yang berhasil membangun kekuatan parlemen seperti SBY dengan Partai Demokrat maupun Megawati melalui PDI Perjuangan.
Padahal, Jokowi telah memiliki capaian politik lain yang cukup besar dengan mengantarkan Gibran ke kursi wakil presiden.
“Obsesi menjadikan putra jadi Wapres sudah melebihi elit-elit lain di Indonesia. Pak SBY belum, Bu Mega belum. Dalam hal itu Pak Jokowi sudah berhasil sendiri,” ujar pembawa acara Total Politik.
Karena itu, penguatan PSI dapat dibaca sebagai upaya melengkapi kekuatan politik Jokowi.
Jika PSI mampu masuk parlemen, Jokowi setidaknya memiliki kendaraan politik sendiri untuk menghadapi pertarungan politik berikutnya.