

DEMOCRAZY.ID — Jejak langkah kekuasaan mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali melahirkan perdebatan tafsir di ruang publik.
Di tengah gelombang kritik tajam dan investigasi hukum yang terus menghantam, Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Andy Budiman justru memandang sang mantan kepala negara sebagai sebuah anomali sejarah yang meruntuhkan tembok dominasi elite.
Dalam pandangan Andy, lintasan karier politik Jokowi tidak bisa sekadar dibaca sebagai riwayat administratif kepemimpinan biasa, melainkan sebuah terobosan struktural yang belum pernah tercatat dalam lembar sejarah politik Indonesia modern.
Ia menyoroti bagaimana latar belakang sosial sang tokoh yang jauh dari lingkaran aristokrasi politik maupun militer berhasil mendobrak tradisi kekuasaan yang selama puluhan tahun terkunci rapat oleh para elite mapan.
“Yang perlu kita lihat pertama adalah Pak Jokowi itu bukan sekadar seorang mantan presiden, tapi sebuah fenomena politik di Indonesia,” ujar Andy.
“Bayangkan orang yang bukan berasal dari kalangan elite. Dia bukan anak pejabat, bukan dari kalangan militer, bukan dari elite politik, bukan anak orang kaya, dan lain sebagainya,” tambahnya menegaskan.
Perjalanan merangkak dari bawah tersebut dinilai sebagai sebuah cetak biru mobilitas politik yang sangat langka, dimulai dari panggung lokal hingga memegang kendali penuh atas kemudi republik selama dua periode.
“Orang biasa merintis karier politik dari bawah, menang di Solo, menjadi wali kota, kemudian naik ke tingkat provinsi menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu menjadi presiden selama dua periode,” urai Andy.
Pencapaian luar biasa itu, menurutnya, menempatkan sang mantan presiden dalam kategori langka yang bahkan jarang ditemukan di percaturan politik global.
“Ini sebuah karier politik yang luar biasa, yang sangat fenomenal, yang mungkin di Indonesia belum pernah ada sejarahnya orang yang bisa merintis karier politik seperti yang dilakukan oleh Pak Jokowi,” katanya.
“Di dunia mungkin ada, tapi hanya segelintir juga kalau kita lihat. Betul-betul dari bawah, bukan dari kalangan elite,” ucapnya.
Lebih jauh, Andy menilai kehadiran figur dari latar belakang sipil biasa ini sukses mendisrupsi tatanan tradisional di mana ruang-ruang strategis negara dikuasai secara eksklusif oleh kelompok-kelompok tertentu saja.
Transformasi lanskap politik nasional yang dibawa oleh pola kepemimpinan populis tersebut dinilai berhasil membuka pintu bagi partisipasi masyarakat luas yang sebelumnya merasa terasing dari pusat kekuasaan.
“Bayangkan, yang perlu kita lihat adalah ruang politik yang selama puluhan tahun dikuasai oleh para elite,” pungkasnya.
Kendati demikian, narasi puji-pujian ini berdiri kontras di tengah sengitnya pertarungan wacana nasional saat ini, di mana bayang-bayang politik, kontroversi hukum, hingga gesekan pengaruh di ring satu istana terus menguji seberapa kokoh warisan politik yang ditinggalkan sang fenomena asal Solo tersebut.