Sinyal Perang Dingin? Pengamat Bongkar Potensi ‘Polisi vs Jokowi’ di Balik Kasus Ijazah Palsu!

DEMOCRAZY.ID – Salah satu tersangka dalam perkara dugaan fitnah terkait isu ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, Rizal Fadillah, kembali menyampaikan pandangannya mengenai dinamika yang belakangan berkembang antara Kepolisian dan Kejaksaan.

Rizal mengaitkan isu tersebut dengan perkara dugaan ijazah palsu Jokowi serta memprediksi adanya perubahan konfigurasi hubungan antarpenegak hukum.

Polisi dan Kejaksaan Punya ‘Pemilik’

Mantan anggota DPRD Jawa Timur itu menyebut perseteruan yang belakangan menjadi perhatian publik tidak bisa dilepaskan dari konstelasi politik nasional.

“Tentu judul tersebut agak aneh dan out of the box. Masalahnya, semua orang tahu bahwa masing-masing mempunyai pemilik,” ujar Rizal, Senin (13/7/2026).

Ia kemudian mengemukakan pandangannya mengenai relasi antara institusi penegak hukum dengan tokoh politik.

“Kepolisian itu milik Jokowi dan Kejaksaan milik Prabowo. Perseteruan Polisi versus Kejaksaan adalah gambaran semakin berjaraknya Jokowi dengan Prabowo,” ucapnya.

Rizal juga menyinggung posisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dinamika tersebut.

“Korupsi memang menjadi isu, namun KPK saat ini tidak diperhitungkan. KPK yang milik Jokowi sedang menepi,” tukasnya.

Kaitkan dengan Perkara Ijazah Jokowi

Rizal kemudian menghubungkan polemik yang berkembang dengan perkara dugaan ijazah palsu Jokowi.

Ia mempertanyakan kemungkinan perubahan sikap Kepolisian dalam penanganan perkara tersebut.

“Lalu, di mana potensi Polisi versus Jokowi? Ini dapat terjadi dalam kasus ijazah palsu. Lho, bukankah Polisi itu memproteksi Jokowi dan Listyo Sigit Prabowo menjadi pelindung Joko Widodo?” timpalnya.

Ia juga menyinggung sejumlah proses hukum yang telah berlangsung.

“Bareskrim sudah menghentikan dumas TPUA dengan narasi ijazah identik. Polda Metro melanjutkan operasi kriminalisasi dan sukses melimpahkan ke kejaksaan Roy Suryo dan Tifa Tifauzia,” bebernya.

Praperadilan Roy Suryo dan Eksepsi Dokter Tifa

Menurut Rizal, perkembangan praperadilan Roy Suryo maupun eksepsi yang diajukan Dokter Tifauzia Tyassuma akan menjadi faktor penting dalam perkara tersebut.

“Naga-naganya Jokowi mencari jalan penyelamatan sendiri. Artinya, Polisi akan dilewat setelah Jokowi fokus bermain dalam proses peradilan. Polisi akan dibiarkan padahal sudah babak belur membantu dan melindungi Jokowi,” imbuhnya.

Rizal berpendapat Jokowi akan lebih memilih fokus menghadapi proses persidangan dibanding mempertahankan dukungan dari Kepolisian.

Ia juga menyinggung kemungkinan Jokowi tidak hadir langsung di persidangan.

“Jokowi menghindar untuk hadir di persidangan takut cecaran dari pengacara yang bisa menggelincirkan. Pembohong itu bakal sulit omong. Kesiapan hadir hanya sebuah pencitraan,” terangnya.

Lanjut dia, apabila praperadilan Roy Suryo dikabulkan atau eksepsi Dokter Tifa diterima hakim, posisi Jokowi justru akan diuntungkan.

“Andai praperadilan Roy menang dan eksepsi dr Tifa dikabulkan, maka bersoraklah Jokowi. Proses dihentikan dan tidak ada persidangan lanjutan. Jokowi pun selamat,” jelas Rizal.

Prediksi Babak Baru

Lebih jauh, Rizal memprediksi hubungan Jokowi dengan Kepolisian dapat berubah apabila dinamika hukum terus berkembang.

“Polisi bakal menjadi tumbal dari kesuksesan Jokowi. Relakah? Tentu tidak,” tegasnya.

Ia bahkan memperkirakan akan muncul babak baru yang melibatkan Kepolisian dan Jokowi.

“Bisa-bisa akhirnya Jokowi ditinggalkan atau dilepas. Jokowi akan diperiksa Mabes Polri, bukankah ada dumas yang dapat ditindaklanjuti? Babak baru tengah menanti,” tandasnya.

Rizal mengatakan seluruh pihak pada akhirnya akan mengutamakan penyelamatan institusi masing-masing.

“Semua pihak mulai merasa berat dan tidak nyaman lagi untuk menggendong Jokowi. Presiden, UGM, Kepolisian, Kejaksaan, KPU, partai politik, dan lainnya akan menjadikan penangkapan, penahanan, dan peradilan Jokowi sebagai solusi bagi penyelamatan diri dan negeri. Ini akan diawali dengan Polisi versus Jokowi. Mustahil? Ah, tidak juga,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya