Rizal Fadillah: Pengaruh Jokowi Makin Redup, Mahkota Rajanya Kini Mudah Robek!

DEMOCRAZY.ID – Safari politik Jokowi ke Bandung dan Bekasi kembali menjadi bahan perbincangan.

Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menyebut kunjungan mantan Presiden RI itu tidk lagi menghadirkan gegap gempita seperti ketika masih berada di puncak kekuasaan.

Rizal menyebut agenda Jokowi di dua daerah tersebut justru lebih banyak berlangsung dalam kegiatan internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), termasuk ketika mantan presiden itu mengacungkan kartu PSI di hadapan kader.

Safari Politik Jokowi Disebut Sepi

Rizal mengatakan kehadiran Jokowi di Bandung dan Bekasi tidak mendapatkan sambutan luas dari masyarakat.

“Safari yang disangkanya heroik datang ke Bandung dan Bekasi ternyata cuma bisa pamer kartu PSI. Alih-alih disambut hangat oleh masyarakat, Jokowi ternyata cuma diteriaki kader peserta Rakorda tingkat Kota,” ujar Rizal, Rabu (30/9/2026).

Lanjut dia, posisi Jokowi dalam kegiatan tersebut tidak jauh berbeda dengan tokoh partai yang hadir memberikan sambutan.

“Mantan Presiden hanya setara dengan Ketua DPD yang memberi sambutan. Tidak ada kharisma, tidak ada gegap gempita, tidak ada apa-apa,” ucapnya.

Rizal juga menyinggung kelompok aktivis yang sebelumnya disebut berencana melakukan aksi untuk menolak kegiatan Jokowi.

Ia melihat, sebagian aktivis justru merasa tidak perlu kembali menggelar demonstrasi karena menganggap kehadiran Jokowi sudah tidak lagi menjadi magnet seperti sebelumnya.

“Aktivis yang dahulu berdemo di depan DPRD yang siap menolak kampanye terselubung Jokowi pun merasa buang enerji jika harus mendemo kembali,” sebutnya.

Rizal kemudian menggunakan bahasa metaforis untuk menggambarkan kondisi politik Jokowi saat ini.

“Terlalu besar Jokowi jika diramaikan, memang ia sudah kecil dan harus dibuat sepi. Angin Bandung pun enggan untuk mendekat,” imbuhnya.

Kartu PSI Disebut Jadi Simbol

Rizal turut mengomentari aksi Jokowi yang mengacungkan kartu PSI dalam safari politiknya.

Ia menganggap kartu tersebut justru menjadi simbol bagi arah politik Jokowi dan keluarganya ke depan.

“Api Bandung tidak perlu membakarnya, Jokowi sudah terbakar oleh kepalsuan dan kebodohannya sendiri. Kartu yang diacung-acungkan adalah kartu merah untuk masa depan diri dan keluarganya,” katanya.

Rizal juga menyebut persoalan mengenai ijazah Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka yang masih menjadi perdebatan publik turut memengaruhi citra politik keluarga tersebut.

“Dikira ia masih dielu-elukan sebagai raja, nyatanya hanya sampah buangan rakyat. Sulit come back menjadi figur. Ijazah palsu Jokowi dan Gibran yang terus dimasalahkan memberangus nyali dan harga diri,” jelasnya.

Rizal kemudian membawa safari politik Jokowi di Bandung ke dinamika politik menuju Pilpres 2029.

Ia menyinggung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM yang disebut-sebut berpotensi berpasangan dengan Gibran.

“Bandung adalah ladang pembantaian bagi Jokowi. KDM sang Gubernur yang digadang-gadang berpaket dengan Gibran untuk Pilpres 2029 pun ternyata sembunyi takut dipotret publik ada di dekatnya,” Rizal menuturkan.

“Takut pula dipelototi Nyi Roro Wowo. Jokowi itu penyakit menular yang harus dijauhi,” tambahnya.

Bandung dan Bekasi Disebut Bukan Tempat Nyaman

Rizal juga mengaitkan polemik mengenai dokumen pendidikan Jokowi dan Gibran.

Ia menuding keabsahan dokumen yang digunakan Jokowi untuk mengikuti sejumlah kontestasi politik.

Tuduhan tersebut merupakan klaim Rizal dan masih menjadi bagian dari polemik yang diperdebatkan di ruang publik.

“Ketika Gibran sulit menghindar dari kecacatan akademiknya, maka borok akademik Jokowi akan segera terbuka. Pojok Pasar Pramuka yang dibakar untuk menghilangkan jejak pemalsuan akan marah dan balas membakar kebohongan brutalnya,” terangnya.

“Salinan ijazah yang digunakan untuk mendaftar menjadi Walikota, Gubernur, dan Presiden itu semua palsu. Pasar Pramuka telah sangat siap untuk hadir sebagai saksi penentu,” sambung Rizal.

Ia bahkan menggunakan istilah Gunung Kawi sebagai kiasan untuk menggambarkan harapannya agar Jokowi melakukan introspeksi.

“Merenungi perilaku jahat yang telah merusak negeri. Tidak berguna loncat sana loncat sini. Modal sosial yang dimiliki terus menipis dan segera habis,” lanjutnya.

Rizal kemudian menggambarkan perjalanan politik Jokowi dengan metafora mahkota kekuasaan.

“Mahkota raja yang disematkan terbuat dari kertas yang mudah robek. Mahkota itu jelas palsu. Sang raja badut semakin kalut dan kusut,” katanya.

Ia juga menilai rangkaian safari politik Jokowi di sejumlah daerah belum menunjukkan keberhasilan seperti yang diharapkan.

“Tidak ada safari yang sukses. Lampung diprotes pemangku adat asli, begitu juga NTT. Cirebon cuma sunatan. Bandung dan Bekasi di ruang sempit PSI,” Rizal menekankan.

PSI dan Keluarga Jokowi

Tidak berhenti di situ, Rizal juga melontarkan kritik terhadap PSI dan sejumlah anggota keluarga Jokowi.

Ia menyindir narasi mengenai PSI yang disebut akan berkembang menjadi partai besar.

“Teriakan bahwai PSI akan jadi partai besar, besar dari hongkong, bro. Kaesang ketua kecil, Gibran wapres bocil, Jokowi berjiwa kerdil. PSI dulu partai muda-mudi usil, kini partai orang tua unyil. Dulu wow gokil, kini hi hi agak dekil,” katanya.

Rizal juga mengaitkan langkah politik Jokowi dengan sejumlah partai politik besar.

“Jokowi ingin menguasai PDIP ternyata tidak berhasil, merebut Golkar melalui Bahlil juga nihil, kini acung kartu PSI partai anaknya sendiri. Lumayan nyicil,” ucapnya.

“Tapi jangan salah ketika Gibran ambruk diketuk MK, maka Jokowi akan terpuruk diburu Polda. Lalu kemana Kaesang ? Terpaksa sembunyi kembali di balik usaha olahan nugget pisang. Sang pisang,” tandasnya.

Lebih jauh, Rizal bilang bahwa safari politik Jokowi berpotensi membawa konsekuensi politik bagi dirinya.

“Safari sepi, Jokowi bakal menuai tragedi. Tidak ada kekuasaan yang abadi, meski ia terus mencari dan mencari. Sampai mati di pinggir kali atau di rumah sendiri. Takdir buruk segera menghakimi bagi orang yang menuhankan ambisi,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya