DEMOCRAZY.ID – Polemik mengenai dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas.
Kali ini, Pengamat Politik yang juga Ketua Kagama Cirebon, Heru Subagia, merespons sayembara yang digulirkan pakar hukum tata negara, Prof Denny Indrayana, dengan nilai hadiah yang disebut mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Heru mengaku tertantang untuk mengikuti sayembara tersebut. Namun, ia menegaskan keikutsertaannya bukan semata-mata karena tergiur nilai hadiah.
Heru justru ingin memastikan secara langsung apakah hadiah yang ditawarkan dalam sayembara tersebut benar-benar tersedia dan dapat dipertanggungjawabkan.
Heru mengatakan dirinya tertarik untuk ikut serta dalam sayembara yang berkaitan dengan ijazah SMA Gibran tersebut.
Ia menyebut ada hal lain yang ingin dipastikannya selain sekadar mendapatkan hadiah.
“Saya tertantang sekali untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut dan sekali lagi bukan karena nilainya atau juga materi nya, tetapi saya hanya mau mengecek,” ujar Heru, Rabu (19/8/2026).
Dikatakan Heru, dirinya ingin mengetahui maksud dan tujuan Denny Indrayana kembali menggelar sayembara dengan nilai yang fantastis.
“Saya mau mengecek maksud dan tujuan Denny indrayana melakukan sayembara hingga sekian kalinya dengan nilai penawaran fantastis Rp1M sekian juta,” ucapnya.
Heru juga mempertanyakan keberadaan hadiah yang ditawarkan dalam sayembara tersebut.
Ia mengaku ingin melihat secara langsung apakah uang dengan nilai lebih dari Rp1 miliar itu benar-benar tersedia.
“Dan tentunya saya akan mengecek dengan mata kepala saya sendiri apakah betul sayembara dengan nilai Rp1M lebih itu ada wujud fisiknya, ada duitnya,” tukasnya.
Selain uang tunai, Heru menyinggung informasi mengenai adanya pihak yang disebut siap menghibahkan tanah senilai Rp1 miliar sebagai kontribusi hadiah sayembara.
“Atau bahkan konon ada yang mengibahkan tanah senilai Rp1M untuk kontribusi sayembara siapa saja yang bisa menunjukkan ijazah SMA Gibran ke Denny Indrayana,” imbuhnya.
Sebelum mencari dokumen pendidikan Gibran, Heru menyebut ada sejumlah hal yang ingin dipastikannya terlebih dahulu.
Ia ingin memastikan sayembara tersebut benar-benar merupakan inisiatif pribadi Denny Indrayana dan bukan bagian dari kepentingan politik maupun didanai pihak tertentu.
“Jadi, saya akan pastikan sebelum yah, saya menunjukkan ijazah SMA Gibran yah, kepada Denny indrayana bahwa yang pertama Deni indrayana melakukan kegiatan sayembara betul atas inisiatif sendiri bukan karena alasan politik atau juga sponsor politik,” tegasnya.
Heru juga meminta bukti mengenai hadiah yang disebut berasal dari hibah tanah senilai Rp1 miliar.
“Yang kedua, betul duitnya ada dan ketika ada orang yang menyatakan kesanggupannya untuk hibah senilai 1M, itu betul ada baik surat pernyataan hibah dan bentuk fisik, dalam bentuk sertifikat aslinya,” jelasnya.
Jika seluruh persyaratan tersebut dapat dibuktikan, Heru menyatakan siap mengambil langkah berikutnya.
Ia bahkan berencana mendatangi Solo untuk meminta dokumen pendidikan Gibran secara langsung.
“Manakala memang kedua alasan itu betul ada, saya akan ke solo dan meminta secara langsung kepada pak Jokowi ataupun Gibran untuk menyampaikan keinginan saya untuk meminta ijazah SMA atau sederajat,” terangnya.
Heru menyebut informasi yang nantinya diperoleh dari Jokowi maupun Gibran akan disampaikannya kepada Denny Indrayana.
“Pastinya saya ingin menyampaikan apa yang dapat ke solo baik dari informasi pak Jokowi ataupun Gibran,” Heru menuturkan.
“Akan saya sampaikan ke Denny indrayana, intinya saya juga menantang kepada Deonni indrayana kali ini, tolong siapkan duitnya,” tambahnya.
Jika seluruh syarat yang diajukan telah dipenuhi, Heru mengaku siap datang langsung menemui Denny Indrayana.
Ia bahkan meminta Denny memberikan alamat serta waktu yang jelas agar dirinya dapat mendatangi kantor atau kediaman Denny.
“Dan yang terakhir tolong kasih alamat, Jam yang bisa saya kunjungi, yang pasti hari dan tanggal nya, saya akan langsung menuju tempat kantor ataupun kediaman Denny indrayana,” kuncinya.
Sebelumnya, Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana, mengungkapkan nilai hadiah dalam sayembara untuk menunjukkan ijazah SMA atau sederajat Gibran kini telah menembus lebih dari Rp1 miliar.
Dikatakan Denny, jumlah tersebut meningkat drastis setelah adanya pihak yang mewakafkan tanah dengan nilai sekitar Rp700 juta untuk menambah hadiah sayembara.
Denny menyebut kontribusi tersebut telah diverifikasi dan membuat total hadiah mencapai angka fantastis.
Denny menyampaikan perkembangan terbaru sayembara tersebut melalui pernyataannya pada Rabu, 19 Agustus 2026.
“Hadiah Sayembara untuk menunjukkan Ijazah SMA atau sederajat Gibran sudah menjadi Rp 1.051.050.000,” ujar Denny, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan kenaikan nilai hadiah tersebut salah satunya berasal dari kontribusi berupa tanah.
“Naik signifikan karena ada yang mewakafkan tanahnya dengan nilai Rp 700 juta, dan sudah saya verifikasi,” ucapnya.
Denny menyadari muncul pertanyaan mengenai alasan penggunaan mekanisme sayembara untuk mencari atau menunjukkan dokumen pendidikan Gibran.
Ia mengatakan sayembara tersebut dimaksudkan untuk mendorong keterlibatan publik dalam persoalan yang menurutnya berkaitan dengan aturan kontestasi politik.
“Ada yang bilang, kenapa pakai sayembara sih? Agar banyak pihak terlibat memikirkan hal penting ini,” tukasnya.
Menurut Denny, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut dokumen pribadi seorang pejabat negara.
“Menjaga aturan main kontestasi pilpres agar dihormati, tidak diakali. Syarat umur sudah diakali, mosok syarat pendidikan diakali lagi?” imbuhnya.
Selain sayembara, Denny mengatakan langkah hukum terkait persoalan tersebut tetap dilakukan.
“Soal langkah hukum tentu terus dilakukan. Soal argumentasi hukum tata negara sudah pula berulang saya jelaskan,” timpalnya.
Ia juga menanggapi berbagai bantahan yang muncul dari pihak-pihak yang menentang pandangannya.
“Soal bantahan dari para buzzer dan termul ya begitulah. Nggak perlu serius ditanggapi,” jelasnya.
Denny kemudian kembali pada inti persoalan yang dipersoalkannya, yakni meminta Gibran menunjukkan ijazah SMA atau dokumen pendidikan yang dipersyaratkan.
“Minta mereka dan Mas Gibran tunjukkan saja ijazah SMA atau sederajat tersebut, sebagaimana Gibran pernah terbuka mengundang wartawan dan menunjukkan ijazah S1nya,” timpalnya.
Menurut Denny, jika dokumen tersebut memang tersedia, tidak seharusnya ada kesulitan untuk memperlihatkannya kepada publik.
“Kalau memang ada, kenapa dipersulit?” tegasnya.
Denny bahkan menyebut konsekuensi politik dan konstitusional apabila dokumen yang dipersoalkan tersebut tidak dapat ditunjukkan.
“Kecuali memang tidak ada, silakan berhenti (mundur), atau terpaksa kita dorong untuk diberhentikan (impeachment),” tandasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa sikap tersebut bukan didasari persoalan personal terhadap Gibran.
“Bukan karena soal pribadi Gibran, tetapi soal menjaga kehormatan etika dan konstitusi bernegara,” kuncinya.