DEMOCRAZY.ID – Aksi Jokowi yang menaruh map di lantai dan kemudian mengambiilnya dengan berjongkok dinilai sebagai sesuatu yang janggal dan tak lazim dalam proses persidangan.
Terlebih aksi itu kini tampak masif dan diviralkan secara luas oleh pada pendukung Jokowi di media sosial.
Hingga Jumat malam (6/11/2026), sejumlah postingan pendukung Jokowi masih membahas tentang kejadian itu.
Bahkan aksi menangis cukup masif.
Menanggapi hal itu, advokat yang juga aktivis pendidikan, Mercy Kirana Sihombing menyampaikan beberapa kejanggalan terkait persidangan pada 5 November tersebut, terutama saat aksi Jokowi itu terekam kamera.
Wkwkwkwk, siapa yang buat hahaha. https://t.co/LM9zyn9jvi
— Sammy Notaslimboy (@NOTASLIMBOY) November 6, 2026
“Mau Ketawa Tapi Gimana yaaa. Sidang 5 Nov 2026 kemaren, ada usulan supaya Pak Jkw pakai kumis dan kacamata -1,5 untuk meyakinkan dia adalah 100% orang yang di foto ijazah UGM 🙏,” tulis Mercy melalui unggahan di akun media sosialnya.
Dia kemudian membahas adegan taruh map di lantai yang menurutnya hanya sebuah skenario yang tujuannya untuk m simpati publik.
“Mau sedih Tapi Gimana yaaa. Peristiwa sidang 5 Nov 2026 kemaren, adegan taruh map di lantai, bisa jadi skenario 😂,” ujarnya.
Mercy menyebut, selama dirinya jadi advokat baru kali ini ada kejadian yang menurutnya sangat tampak seperti sebuah skenario.
“Saya advokat, dan belum pernah lihat ada saksi (atau terdakwa) yang duduk di “ kursi panas” meletakkan map di lantai,” sambungnya.
Mercy juga mempersilakan siapa pun melakukan pengecekan terhadap persidangan lain yang disebutnya tak pernah ada drama seperti itu.
“Cek saja di Pengadilan manapun, saat saksi diminta maju ke meja hakim, saksi biasanya membawa semua map, atau kalau terasa berat, saksi meletakkan sebagian berkasnya di kursi, bukan di lantai,” urai perempuan yang turut jadi penggugat ijazah Gibran di MK ini.
Postingan Mercy itu lantas mendapat tanggapan dari warganet.
Seorang warganet dengan akun @Akmal*** menyebut akting pencitraan memang salah satu kepiawaian Jokowi untuk menarik simpati publik di awal-awal karier politiknya.
“Memang jago nya dia dlm pencitraannya, dia besar di awal-awal memang pencitraan nya yang dikemas oleh para sutradara yg memahami dan paham kalo rakyat Indonesia ini hatinya sangat lembut dan mudah memaafkan dan melupakan kejadian2 sebelumnya, dan akan diingatnya kejadian saat ini, begitu sabar dan terjoliminya mantan Presiden itu… Pokokke top lah ya actingnya,” ujar Akmal.
Sebagaimana diketahui, mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, hadir memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo.
Persidangan ini berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis, 5 November 2026.
Di hadapan majelis hakim, Jokowi memaparkan sejumlah detail akademik mengenai perjalanan kuliahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dari pengakuannya di sidang, Jokowi menyampaikan bahwa ia menjalani ujian skripsi pada tanggal 23 Oktober 1985.
Ayah Wapres Gibran itu juga menegaskan bahwa karya akhirnya berwujud skripsi, bukan tesis.
Prosesi wisuda dilaksanakan bersama lulusan dari seluruh fakultas di UGM pada 19 November 1985 bertempat di Gedung Purna Budaya Bulaksumur, Yogyakarta.
Pada saat itu, kata Jokowi, terdapat 14 mahasiswa dari Fakultas Kehutanan yang mengikuti wisuda bersama dirinya.
Ada pun, Ijazah S1 miliknya diterbitkan pada 5 November 1985 dan ditandatangani oleh rektor serta Dekan Fakultas Kehutanan UGM kala itu.
Penjelasan Jokowi tersebut menunjukkan bahwa jarak antara ujian skripsi dan terbitnya ijazah hanya 13 hari.
Hal itu pun dinilai janggal oleh publik, terutama di media sosial.