DEMOCRAZY.ID — Pernyataan pembelaan yang dilontarkan politikus PSI sekaligus loyalis Jokowi-Gibran, Ade Armando, justru menelanjangi kepanikan internal kubu Istana Solo di tengah deresnya desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ade mengeklaim bahwa Gibran pada dasarnya tidak bernafsu menduduki kursi wakil presiden dan siap mundur kapan saja untuk mengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Namun di balik narasi kepasrahan tersebut, Ade menyertakan gertakan politik dengan mengancam bahwa mundurnya Gibran bakal memicu gelombang simpati publik yang dapat mengguncang stabilitas rezim Presiden Prabowo Subianto.
Ade Armando bergeming bahwa isu keabsahan ijazah SMA Gibran bukanlah hal yang dirisaukan oleh sang Wakil Presiden.
Menurutnya, sejak awal pencalonan yang diwarnai kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi, Gibran tidak memiliki ambisi pribadi yang terlampau besar.
“Gibran tuh sejak awal tak kepengin-kepengin banget jadi wakil presiden kan. Sekarang dibilang berhenti nih, ya sudah tak apa-apa gue berhenti. Saya berhenti, saya mundur, saya akan konsentrasi misalnya untuk bantu adik saya Kaesang di PSI,” ujar Ade.
Klaim Ade ini dinilai publik sebagai bentuk pembelaan mentah untuk menutupi kenyataan bahwa posisi hukum dan administrasi Gibran makin terjepit akibat pembuktian forensik akademis dan manuver Hak Angket parlemen.
Tak berhenti pada klaim pasrah, Ade melayangkan ancaman politik kepada pihak-pihak yang terus mendesak pelengseran Gibran.
Ia memprediksi bahwa pengunduran diri Gibran justru akan memicu fenomena simpati publik (sympathy vote) secara masif kepada dinasti Jokowi, serupa dengan lonjakan suara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilu 2004 silam.
“Rakyat akan bersimpati pada Gibran, pada Jokowi. Terzalimi lagi ya. Bayangkan tambahan suara yang akan diperoleh, ingat waktu SBY zaman Megawati? Persis dizalimi, suara SBY loncat kan. PSI suaranya di Pemilu nanti akan seperti Partai Demokrat dulu, sekitar 24 persen,” tegas Ade.
Ade bahkan secara terang-terangan melayangkan tudingan tajam kepada lingkaran koalisi atau pihak di belakang gerakan pemakzulan ini, dengan menyebut upaya menyingkirkan Gibran sebagai tindakan culas.
“Siapapun yang berada di belakang upaya memakzulkan Gibran ini akan buruk. Kalau kata orang Melayu, menusuk kawan seiring,” pungkas Ade.
Gertakan narasi “terzalimi” yang dijajakan Ade Armando ini mempertegas ketakutan nyata kubu Solo.
Upaya menyamakan skandal manipulasi ijazah dengan narasi kedzoliman politik dianggap sebagai pengalihan isu murahan untuk mengelak dari pertanggungjawaban hukum dan prosedur pembuktian di DPR RI!