Gaya Preman di Lingkaran Penguasa! Detik-Detik Kelakuan ‘Arogan’ Ajudan Gubernur Kaltim Intimidasi Massa Demo GMNI

DEMOCRAZY.ID – Aksi represif oknum pengawal pejabat kembali mencoreng ruang demokrasi di lingkup Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Seorang ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Briptu ART diduga melakukan aksi dorong dan intimidasi fisik terhadap aktivis mahasiswa.

Peristiwa menegangkan tersebut terekam jelas dalam video yang disebar berbagai media sosial saat massa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda mencegat sang kepala daerah.

Aksi saling dorong tak terhindarkan hingga memicu kemarahan para peserta unjuk rasa di lokasi.

Gesekan fisik ini menjadi bukti nyata makin buruknya pola komunikasi pejabat publik dalam merespons kritik masyarakat.

Video di Akhir Artikel

Sikap responsif yang diharapkan justru berbuah tindakan kasar dari aparat pengaman gubernur.

Situasi memanas bermula ketika rombongan Rudy Mas’ud tiba di area masjid kompleks Kantor Pemprov Kaltim. Sejumlah demonstran langsung menghampiri mobil dinas untuk menagih janji dialog terbuka.

Mahasiswa mempertanyakan sikap enggan sang gubernur menemui mereka saat menyampaikan aspirasi di jalanan.

Rudy pun berdalih jadwalnya padat karena harus mendatangi agenda lain secara bersamaan.

“Saya menghadiri kegiatan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI),” kata Rudy memberikan alasan.

Di tengah pembicaraan yang mulai memanas, seorang ajudan gubernur justru mengambil tindakan agresif tanpa alasan jelas.

Pengawal tersebut merangsek masuk ke kerumunan dan mendorong tubuh para demonstran.

Akibat tindakan brutal tersebut, seorang mahasiswi tersenggol keras hingga ponsel di genggamannya terpental ke tanah.

Ajudan itu juga terus merangsek maju menekan posisi mahasiswa lain yang mencoba bertahan.

Rekaman video viral yang memperlihatkan detik-detik intimidasi tersebut langsung mendadak viral di berbagai platform media sosial.

Netizen mengecam keras respons berlebihan yang ditunjukkan oleh pengawal ring satu gubernur tersebut.

Berdasarkan penelusuran netizen, oknum ajudan tersebut disinyalir merupakan anggota Polri aktif bernama Briptu Asky Rizal Toding.

Namun, kebenaran identitas serta status kepolisian yang bersangkutan masih menunggu verifikasi resmi institusi terkait.

Gelombang protes mahasiswa ini sebenarnya berawal dari keresahan atas buruknya penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan.

Massa menuntut evaluasi total kepemimpinan Pemprov Kaltim yang dinilai lambat menangani krisis ekologi.

Kompleks Kantor Pemprov Kaltim di Samarinda akhirnya menjadi saksi bisu benturan antara aspirasi rakyat dan benteng kekuasaan.

Insiden Senin (19/10/2026) ini kini berbuntut panjang pada desakan sanksi tegas bagi oknum ajudan.

👇👇

Artikel terkait lainnya